
"Kamu jahat Kak, kalian semua membodohiku aku benci padamu! dan ya! Kak Andra, aku pastikan kamu tidak akan menikah dengan perempuan itu, kamu akan merasakan sakit seperti apa yang aku rasa, dan kamu boleh membuang kalung itu di tong sampah, anggap kita tidak saling mengenal dan terima kasih juga atas luka yang kamu torehkan padaku hari ini aku tidak akan lupa dengan hari ini." Ucap Amara membuka gelang yang berada di tangannya lalu melemparnya kelantai tepat di hadapan Darandra.
Setelah itu ia pun berlari sambil menahan tangis karena rasa sesak di dada ia benar-benar merasa hancur dengan apa yang di lakukan Darandra kepadanya segala perhatian yang dia berikan ternyata semua semu.
Deg.
Darandra memilih untuk segera pergi, dari tempat nya itu ia juga tidak ingin berlama-lama.
"Aku harap kamu akan secepatnya melupakan ku. Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan lelaki yang bisa mencintaimu dengan tulus sedangkan aku tidak akan pernah berpaling dari Tasya." Gumam nya mantap. Lalu segera Mengayunkan langkah kakinya namun tiba-tiba saja dia berhenti di saat kakinya menginjak sesuatu. Dan benar saja saat menoleh ke bawah ia melihat sebuah gelang yang persis sama dengan kalung yang masih menggantung dilehernya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu kenapa Amara? Kenapa kamu tiba-tiba menangis Dan marah-marah. katakan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa ada yang menyakitimu?"
"Heh...katakan pada Kakak apakah ada yang menyakiti ku? tentu saja kalian semua menyakitiku!" Jawab Amara tajam.
"Apa maksudmu? Amara katakan dengan jelas jangan berbelit-belit karena Kakak tidak suka. Apalagi ditambah kepala Kakak sedang pusing!"
"Apa! pusing. Pusing kenapa? karena kakak tidak bisa bertemu dengan Jelita kan, iya kan Kak? kakak pasti tahu jelas apa maksudku dan jangan pura-pura Kakak tidak tau semuanya!" Teriak Amara kesal menumpahkan segala sakit hatinya.
"Jelaskan padaku sebenarnya. Ada apa antara kau dan Jelita aku pikir selama ini Kakak itu tipe orang yang setia tapi ternyata kakak juga sama suka selingkuh. Bukankah Kakak sendiri memilih menikah dengan Renata. Lalu kenapa kakak selingkuh dengan Jelita?" Ucap nya dengan Nada kesal.
"Renata? maksud kamu, jadi selama ini kamu berfikir Kakak itu menikah dengan Renata begitu? dan jangan bilang kalau kecelakaan itu, tunggu! tunggu dulu. Amara katakan pada kakak siapa yang mencelakaimu sebenarnya? bukan Jelita kan?"
"Ya tentu saja bukan malah Jelita di sini yang jadi korban?" Ucapnya tanpa sadar.
__ADS_1
"Jelita jadi korban? Maksud kamu apa?"
"Mam-ma-maksudku tit-tidak apa-apa." Selanya Gugup.
"Amara, jelaskan semuanya sejelas-jelasnya pada kakak! biar kesalah pahaman ini tidak terus berlanjut, kenapa kamu bisa kecelakaan? dan kenapa Jelita bisa jadi korban? jelaskan semuanya padaku, karena kakak sudah banyak menyakiti Jelita. Itu semua hanya karena kamu Amara!" Tegas Damara menatap tajam seolah ingin menguliti Amara, membuat Amara menciut.
"Baiklah aku akan menceritakan semuanya pada kakak, tapi Kakak janji tidak boleh marah setelah aku menjelaskan semuanya dan kakak janji tidak akan membenci Jelita juga. Biar bagaimanapun dia itu orangnya baik. Walau sebenarnya kami dulu sempat bermusuhan hanya gara-gara kesalahpahaman kecil saja."
"Membenci Jelita? bahkan aku menyesal sudah membencinya justru aku sampai saat ini masih sangat-sangat mencintainya karena dia adalah wanita satu-satunya yang telah menghidupkan rasa cinta di hatiku. Dia sudah menjadi istriku! untuk itu kakak ingin kamu menjelaskan semuanya."
"Istri jadi Jelita dia_"
"Yah dia istriku untuk itu Kakak mohon ceritakan semuanya." Pintanya dengan sangat.
"Baiklah Kak aku akan menceritakan semuanya." Amara mulai bercerita dari awal pertemuan nya kembali dengan Renata.
Amara yang ingin buru-buru keluar dari kafe tak menyadari kalau dompetnya terjatuh hingga seseorang berteriak memanggilnya.
"Maaf dompet Anda Jatuh!" seru seorang wanita dengan paras cantik dan tubuh **** dengan rambut pirang yang ber ombak. Amara pun berbalik saat menyadari ada yang menyeru nya.
Deg.
Deg.
Amara dan sang wanita tersebut sama-sama terkejut karena merasa seperti nya mereka pernah saling mengenal tapi ntah dimana.
__ADS_1
"Sepertinya aku mengenal nya bukan kah dia itu_ah tidak mungkin itu kak Renata dia kan berada di luar negeri" gumam nya dengan terus menatap wanita yang mendekati nya itu.
"lni lain kali hati-hati!" ucap wanita itu sambil menyerah kan dompet yang berada di tangannya kepada Amara, dan Amara pun segera meraihnya.
"Terim kas_ Kak Renata?" cicit Amara saat dekat dengan wanita tersebut, membuat wanita itu menatap intes Amara.
"Amara! kamu Amarakan?" tanya Renata ragu sambil tersebut menatap lekat wajah Amara.
"l-iya benar Kak, aku Amara" jawab nya antusias sambil menunjuk diri sendiri.
"Ya ampun Amara akhirnya kita bertemu lagi setelah 3 tahun. Bagaimana kabarmu? ternyata sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, bagaimana ke adaan Grandma dan bagaimana ke adaan Damara?" Renata menurunkan intonasi suaranya di saat bertanya tentang kekasih yang dia tinggal kan 3 tahun lalu.
Hanya karena mengejar cinta seorang pria yang sudah beristri bahkan sudah punya anak, karena lelaki itu jauh lebih sukses daripada Damara bahkan ia rela menikah sirri dengan pria tersebut, namun sayangnya ia kepergok oleh istri sah suaminya dan dia pun di hajar habis-habisan hingga ia mengalami ke guguran bahkan membuat kandungannya harus di angkat miris sekali bukan.
Dan setelah sembuh ia pun mencari suaminya untuk mengadu namun sayangnya di hari itu juga dia di talak karena sang suami memilih istri sah nya di karena kan harta kekayaan yang dia miliki ternyata adalah sebagian besar milik istri sah nya itu.
Tentu saja lelaki kampret itu memilih istri sah nya dari pada dia akan jadi gembel di jalanan. Dan dalam keadaan bingung seperti itu ia baru mengingat Damara yang selalu memanjakan nya bahkan menuruti semua keinginan nya itu.
Dan sangat begitu kebetulan sekali ia di pertemukan dengan Amara saat yang tepat seperti ini, itu berarti jalannya akan mudah, untuk kembali meminta maaf kepada Damara. Yah kedatangan nya ke Indonesia memang hanya untuk kembali lagi pada Damara.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Amara heran sambil mengerutkan ke dua alis nya Karena melihat Renata hanyan menatap dengan tatapan kosong.
"Tit-tidak apa-apa hanya saja kakak sedang pusing sedikit, Maaf Kakak pamit dulu ya senang bertemu denganmu kapan-kapan kita bertemu lagi bagaimana? ucapannya sambil tersenyum dengan elegan" lalu di iya kan oleh Amara.
"Awas Amara hati-hati!" Teriak Renata lagi saat ia menabrak seorang pelayan di Kafe itu."
__ADS_1
"Maaf, maafkan saya Mas!" gugup Amara sambil matanya sesekali menatap ketempat kumpulan para Dokter itu berada karena di antara salah satu nya ada orang yang selalu membuatnya tidur tak nyenyak makan pun tak sedap.
"Amara...!"