Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Mencari kerja


__ADS_3

Darandra hanya terdiam mematung menyaksikan gadis yang selama ini dia anggap hanya sebagai anak kecil yang menyebalkan, ternyata bisa berpikir dewasa.


"Kemarilah sebentar!" panggilnya. Amara, pun bergegas mendekati,


"Ada apa kak, Apakah kau butuh sesuatu?"


"Ayolah…" Darandra meraih tangan Amara lalu mendudukkannya di atas pangkuannya dengan perlahan ia menyingkap baju yang dipakai Amara.


"Kakak kau apa-apaan sih? aku risih tau nggak?" Cicit Amara menepis tangan Darandra diamlah Kalau kau ingin cepat sembuh, Lihatlah tubuhmu ini dipenuhi bercak-bercak merah.


"Tapi aku bisa sendiri kak!" ucap Amara berusaha menolak karena ia tak ingin terbiasa oleh semua perhatian Darandra padanya.


"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan aku menyuruhmu diam dan jangan banyak bergerak. Kalau tidak kau akan membangunkan yang di bawah sana Dan kalau dia sudah terbangun kau harus bertanggung jawab untuk semuanya."


Gleg.


Dengan susah payah Amara menelan salivanya, karena ia sangat tahu apa yang dimaksudkan Darandra, walau sekuat tenaga la ingin menolak ujung-ujungnya Darandra pasti akan memaksa, mau tidak mau la pun harus menuruti segala keinginan Darandra yang kadang kala membuatnya kesal.


"Bukankah,, dia sendiri yang mengatakan tidak ingin menyentuh tapi apa ini dasar memang laki-laki omongan tidak bisa dipegang."


Gerutunya tapi hanya dalam hati. Darandra pun mulai mengolesi salep di setiap inci tubuh Amara yang terkena bercak merah karena alergi. Ada perasaan menghangat di aliran darahnya saat tangan kekar Darandra memberikan usapannya, bahkan tangan itu terus mengusap punggungnya dengan lembut.


"Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau alergi telur?"


"mana sempat aku mengatakannya padamu, sedangkan kau sendiri terus memaksaku untuk memakannya."


"Dasar gasis bodoh, lain kali katakan padaku lebih dulu sebelum aku menyuruhmu, karena aku tidak ingin kejadian ini akan terulang. Apa kau paham?"


"Iya maafkan aku,"


"Sekarang Aku ingin makan, apa kau ingin ikut makan dengan ku?" Amara pun hanya mengaguk kecil,


"kalau begitu Ayo aku ingin memasak sesuatu untukmu." Ucapnya menarik tangan Amara.


"Tapi kak, bukankah sebaiknya sekarang harus, maksudku kau pulang saja dulu!" ucap nya ragu.


"Maksudmu pulang ke apartemen?"

__ADS_1


"iya jangan sampai Tasya marah, dan menyalah kan ku, biarkan aku disini aku, bisa masak sendiri untuk diriku sekarang kau pulang saja."


"Jadi sekarang kau mengusirku juga?"


"Tit-tidak aku tidak mengusirmu aku hanya__" Amara menggantungkan kalimatnya di saat Darandra menyentuh bibirnya dengan ibu jari.


"Dengarkan aku Amara, tidak ada yang bisa mengaturku, menyuruhku pergi, dan tinggal di mana saja. Kau jangan pernah mengatakan semua itu. Kamu tahu aku berhak mencabut kata-kataku untuk tidak menyentuhmu. Apakah kau paham?!"


Amara hanya mengangguk pelan.


"Aku tidak ingin anggukanmu. aku ingin jawabanmu keluar dari mulutmu sendiri."


"Iya,, aku paham, Maafkan Aku ucap Amara lagi.


"Baiklah,, sekarang Aku sudah tidak mood lagi karena kau sudah merusaknya semuanya kalau begitu aku pergi, dan jangan pernah menungguku. Mungkin beberapa hari ini aku tidak akan pulang ke sini, satu lagi jangan menelponku, kalau aku tidak menghubungimu."


Darandra Beranjak Pergi Meninggalkan Amara yang masih terdiam tergugu melihat kepergiannya.


"Darandra tunggu dulu! teriak Amara membuat Darandra menghentikan langkahnya.


"Terserah kamu saja!"


"Terima kasih karena sudah memberiki izin" ya ampun kemana perginya kok cepat banget menghilang Jadi kayak hantu , kadang-kadang ada, kadang-kadang pergi" gerutu Amara, namun sesaat kemudian Ia pun melompat kegirangan.


"Yeyeye…akhirnya aku akan bekerja"


"Dasar gadis aneh, apa dia sesenang itu saat aku mengizinkannya untuk bekerja." Tatap Darandra yang masih bersembunyi di balik pintu, sebenarnya la ingin sekali tertawa melihat tingkah laku Amara, Darandra Yang berusaha untuk tetap diam, dan memikirkan sesuatu yang baru saja terlintas di otaknya, lalu ia pun tersenyum penuh arti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


seminggu kemudian.


"Oh Ya Tuhan. Aku kira segampang itu akan mencari pekerjaan dan mendapatkannya, dari pagi sampai siang aku belum diterima sama sekali apalagi aku belum lulus kuliah, bagaimana ini, apa Mungkin aku akan mendaftar jadi OB atau cleaning service saja. sepertinya tidak ada cara lain ini hanya demi untuk bertahan hidup sementara. Amara bersemangatlah kamu pasti bisa."


Ucapnya pada dirinya sendiri untuk memberikan menyemangati dirinya,


"sebaiknya Aku istirahat saja dulu, mungkin di bawah pohon ini akan terasa enak" Amara mendudukan bokongnya di sebuah bangku taman dia menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya.

__ADS_1


"Kruk kruk kruk suara cacing di perutnya terus saja bernyanyi-nyanyi minta untuk segera di isi. Sejak pagi memang Amara hanya meminum air putih saja saat berangkat keluar, karena sudah tak ada lagi stok makanan, ia pun belum sempat keluar karena disibukkan mencari pekerjaan sedangkan Darandra tak pernah sama sekali muncul untuk sekedar menyapa ataupun menanyakan kabarnya lewat telepon.


*


"Ayo cepat kita tolong dia cepat! kita bawa dia Ayo cepat.!" saat amarah berdiri dari duduknya tiba-tiba saja ia mendengarkan teriakan orang-orang yang sedang berkerumun Ia pun bergegas untuk mendekat untuk melihat, apa yang terjadi


"Bu,, sebenarnya ini ada apa?"


"lni lho, nak ada seorang wanita yang tiba-tiba pingsan kasihan sekali dia, kalau begitu kita bawa dia ke klinik terdekat sini Bu! apa kalian tahu klinik yang terdekat dari sini?"


"Ada kok Neng di seberang ujung jalan sana."


Tunjuk sang lbu.


"Astaghfirullahaladzim,, kak Renata! tolong saya, dia ini teman saya,!" cicit Amara terkejut dan panik.


"Neng mengenalnya?"


"Iya dia, dia itu teman saya Bu,"


"Baiklah Pak tolong bantu Si Neng ini bawa si mbak ke klinik seberang jalan itu."


"Baiklah, Ayo Neng!" Amara pun mengikuti langkah orang-orang yang sedang membopong tubuh Renata.


"Dokter! dokter! tolong__" Kalimat teriakan Amara tiba-tiba terhenti saat matanya menatap seseorang yang selama ini tak pernah datang menemuinya sambil menggenggam tangan seorang wanita Darandra pun menyadari tatapan Amara tertuju padanya Ia pun bergegas berdiri bersama wanita di depannya itu.


"Kak Andra Tasya" lirih Amara namun hanya dalam hati.


"Amara Kau sedang apa di sini? dan Dari mana kau tahu tempat kerjaku?"


"Maaf dokter saya tidak mengetahui kalau ini tempat kerja anda, tapi saya membawa teman saya datang ke sini. Jadi saya mohon Anda bisa membantunya sekarang." Jawab Amara tanpa melepaskan tatapan matanya dari tangan ke dua insan yang masih saling bertautan itu.


"Di mana pasiennya? Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini. Apakah kau bisa pulang sendiri?" tanya Darandra melirik kearah Tasya.


"Sudah jangan khawatir aku masih bisa pulang sendiri kok, Terima kasih atas waktunya." Ucap Tasya menimpali. Darandra menatap Tasya begitu lekat.


"Tasya Tasya Tasya apa sih yang nggak buat kamu." Ujar Darandra sambil tersenyum hangat, Tanpa memperdulikan rasa sesak di hati Amara.

__ADS_1


__ADS_2