
Malam di rumah utama.
"Sayang kemarilah," Panggil Damara pada Jelita.
"Sebentar Sayang, aku belum selesai sedikit lagi,"
"Baiklah, aku berikan waktu lima menit,"
"Apa? lima menit, kau tahu kan aku lagi mengurus baby Ar," keluh Jelita
"Aku tahu, Bahkan aku melihatnya dari tadi, bahkan kau mengacuhkanku karena putramu itu," Protes Damara padahal dia sangat ingin berbicara berdua saja, namun karena Baby Ar. hari ini rewel akhirnya ia mengalah.
"Sayang kau ini bagaimana, dia kan putramu juga dan dia itu masih bayi, Apa kau akan terus begini, cemburu sama putramu sendiri?" dengus Jelita menatap kesal pada suaminya itu. Sedangkan Damara hanya tersenyum kecil melihat kejengkelan istrinya itu.
"Sayang Apa kau sudah selesai,?" tanya Damara kembli.
"Tunggulah sebentar aku akan menidurkan anakmu,"
"baiklah, demi dirimu aku rela menunggu,"
"idih tumben gombalnya," sela Jelita.
"Tapi kau jangan lama-lama kalau tidak aku akan melakukannya di depan anak kita,"
"Apa? dasar mesum?" umpat Jelita. Damara kembali terkekeh mendengar umpatan sang istri ya memang suka menggoda istrinya seperti itu setelah selesai menidurkan baby Ar, Jelita pun bergegas ke kamarnya.
"sayang Apa kau sudah tidur,?" tanya Jelita begitu Ia duduk di tepi ranjang yang berukuran King size itu. sayang Apa kau marah padaku,?" lagi-lagi Jelita kembali bertanya karena tak mendapat jawaban dari suaminya itu.
"Baiklah, kalau kau tidak menjawabku aku akan menggelitikmu." Acam jelita.
"Baiklah, baiklah, Aku mengalah aku belum tidur sayang kemarilah naik dan, Tidurlah di sampingku aku ingin memelukmu," ucapnya dengan nada perintah, Jelita pun hanya menurut saja apa yang di perintah kan sang suami kepadanya.
"Kemarilah, cepat kenapa kau lama sekali?
Kau tahu selama satu minggu ini aku menahannya,"
Jelita pun segera menuruti apa yang diminta oleh suaminya itu dan begitu Jelita sampai di sampingnya benar saja Damara langsung memeluknya bahkan kini mencium seluruh wajah istrinya itu sayang kau tahu aku sangat merindukanmu," ujarnya sambil menatap wajah Jelita.
"Aku Merindukanmu,"
"Iya aku juga merindukanmu,"
"Benarkah? kalau begitu aku... Aku ingin servisanmu lagi, boleh nggak? " tanya Damara ragu.
"Tapi Mas, maaf, aku..."
__ADS_1
"Kamu kemapa sih sayang kok minta maaf,?" "Aku lagi datang bulan," ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
"Hah, datang bulan? Aku sedang menunggumu seharian ini dan ternyata kamu sedang datang bulan, Kenapa nasibku menyedihkan sekali sih,? Ya sudah aku akan memelukmu begini saja,"
"sayang Aku ingin mengatakan sesuatu,"
"Hem..Apa itu,?"
"tapi kamu janji ya bahwa kamu tidak akan marah."
"Kamu itu kenapa Sayang Kamu kan belum bicara, Mana aku tahu apa yang akan kau bicarakan Itu akan membuatku marah atau tidak."
"Entah pembicaraanku ini akan membuatmu marah atau tidak, yang penting aku sudah memintanya padamu, untuk tidak marah dulu,"
"Baiklah, katakan apa yang kau ingin katakan sebenarnya,?" tanya Damara serius ingin mendengar istrinya itu berbicara.
"Beberapa hari yang lalu aku ke cafe, di mana tempat Amara bekerja,"
"lalu..?"
"lalu..aku bertemu dengan Amara,"
"lalu..?"
"lalu...?"
"Sayang kok lalu-lalu terus sih," kesal Jelita "Bukanlah kau sendiri yang meminta padaku untuk tidak marah,?"
"Iya tapi jangan lalu terus, tidak seperti itu juga kan,?" protes Jelita, Damara pun kembali di buat terkekeh atas kepolosan istrinya itu. "Oke baiklah, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan padaku,?" tanya Damara kini dengan mimik wajah yang serius.
"Bagaimana kalau kau dan Amara, maksudnya Kau Dan Amara bertemu lagi,? dengarkan aku setiap orang itu punya kesalahan dan kita harus memaafkannya, dan kau, Kenapa kau juga tidak bisa memaafkannya padahal kesalahanmu banyak padaku, tapi aku bisa memaafkannya."
"Jelita, kita itu beda sayang,"
"mau beda atau tidak sama saja buatku, yang penting kau itu mau memaafkan atau tidak aku hanya kasihan padanya."
"Memangnya dia kenapa ya tidak apa-apa sih, hanya saja Dia sangat bekerja keras sekarang,"
"itu sebenarnya yang aku inginkan dia harus bisa bekerja dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, Aku sengaja melakukan semua itu agar dia berubah menjadi dewasa. Karena aku tahu suaminya tidak pernah menginginkan gadis manja dan cengeng."
"Jadi selama ini kau hanya...,?"
"iya seorang kakak yang mana yang tega memutuskan tali persaudaraannya dengan Adiknya sendiri, kau kira aku, itu sejahat itu."
"Apa...,?"
__ADS_1
"Aku sengaja melakukan itu agar dia bisa mandiri dan kau lihat sendiri kan sekarang dia itu seperti apa sebelum kau tahu semuanya aku sudah mengetahui semuanya apa di luaran sana aku mengetahuinya.
"Benarkah sayang? Benarkah seperti itu,?" Jelita kemudian memeluk suaminya, Bahkan ia mencium suaminya hingga membuatnya tanpa sadar ******* bibir kenyal itu.
"sayang kamu jangan seperti ini kalau tidak aku tidak akan bisa menahannya jelita tak menghiraukan perkataan Damara Ia terus saja melakukan aksinya tanpa mempedulikan kalau udah Damara saat ini sudah terbakar hasratnya.
"sayang udah, ahk...Damara mendesah saat sentuhan tangan lembut sang istri menyentuh bagian sensitifnya yang kini mulai menegang, dan lagi-lagi ia tak menyadari sejak kapan semua pakaian di tubuh nya menghilang, karena merasa prustasi, dengan rasa yang menjalari tubuhnya yang ingin segera di tuntaskan.
"Sayang..." suara Damara begitu parau.
"Lakukanlah, aku tidak lagi sedang datang bulan kok." ucap Jelita jujur.
"Maafkan aku, jika aku harus berbohong, Aku hanya ingin berbicara terlebih dahulu padamu."
Sayang kau ini apa-apaan sih pakai berbohong segala? tapi baiklah untuk kali ini aku memaafkanmu, dan sebaiknya sekarang kau selesaikan tugasmu yang belum selesai," mendengar perintah sang suami, Jelita pun segera mengatur posisinya. Dan mereka bersama kembali menikmati rasa surga dunia yang membuatnya terlena itu, Entah sudah berapa lama mereka saling memberi dan menerima hingga Mereka pun kembali sama-sama terkapar dengan, Daru nafas yang masih memburu.
"Kau hebat sayang, puji Damara, atas apa yang dilakukan istrinya yang benar-benar bisa membuatnya begitu puas malam ini.
"Jadi kapan rencananya kita akan menemui Amara?"
"Terserah kamu saja sayang kamu atur waktunya yang terbaik"
"Baiklah kalau begitu aku akan mengaturnya sebelum itu aku akan memberitahukan kabar ini pada Amara, sebaiknya kau jangan memberitahukannya dulu kita bikin surprise aja Bagaimana kalau kau dan aku mendatangi rumahnya saja?"
"baiklah sayang, kalau itu keinginanmu" ujarJelita Ia pun menatap wajah suaminya lalu menyentuhnya dengan lembut.
"Sayang terima kasih ya,"
"Terima kasih untuk apa?" tanya Damara "Terima kasih untuk semuanya,
"Terima kasih karena telah menjadikan aku wanita jadi-jadian ini menjadi istrimu yang paling bahagia, aku juga berterima kasih padamu sayang karena kamu menjadikan buaya ini sebagai suamimu." Merekapun terkekeh dan bangkit kedalam bhatroom, untuk membersihkan tubuh nya masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai...hai...hai yuk sambil nunggu Autor up lagi kepoin juga ya Novel di bawah ini👇di jamin pasti terhibur...
Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.
Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?
Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.
__ADS_1