
Pagi.
Tok..tok..tok
"Masuklah saja Mas, Restu aku kan tidak pernah Mengunci pintu kalau udah pagi, kenapa harus mengetuk pintu lagi sih?" Cicit Renata yang sibuk berkutat di dapur maklum semalam ia kecapean, tidak sempat untuk mengisi perut langsung tidur, dan hari ini ia bangun pagi karena sudah kebiasaan nya semenjak Hamil ia harus mengatur pola tidur nya.
"Mas,, maaf, aku tidak sempat bertemu dengan anak-anak, takut mengganggumu yang lagi kangen sama mereka" ucapnya lagi tanpa berbalik karena masih sibuk membuat susu untuk sarapan pagi dan roti tawar dengan telor setengah matang.
"Bunda, aku merindukan Bunda."
Deg.
'Tidak itu tidak mungkin Bara aku pasti sedang berhalusinasi saja,' gumam Renata lanjut mengaduk susu yang di dalam gelas.
"Apa kau tak pernah merindukan kami hingga kau menghilang jauh dari jangkauanku? aku sudah mencarimu kemana-mana, Kau Pergi di saat aku marah, kenapa kau tak berhenti untuk menenangkan aku dulu, Bukankah selama ini kau mencintaiku apa ini namanya cinta? yang selama ini kau tanam di hatiku, Maafkan Aku, maafkan aku karena terlambat menyadari kalau hatiku sudah jatuh terlalu dalam Untuk Mencintaimu Renata istriku, aku mencintaimu Maafkan Aku."
Deg.
Tubuh Renata tiba-tiba saja terasa kaku sulit untuk di gerakkan, bahkan kini air mata yang selama ini tak pernah Ia tumpahkan kini luruh bagai banjir bandang membasahi kedua pipinya yang mulai gembul itu, sedangkan Baron terus saja melangkah mendekati sang istri yang sangat ia rindukan itu.
"Maafkan Aku karena tidak bisa mengobati luka yang selama ini aku torehkan di hatimu tapi aku mohon demi kedua anak kita aku mohon Maafkan Aku dan kembalilah Padaku." Baron memeluk tubuh Renata dari belakang,
sedangkan Renata Masih bergeming pada tempatnya dadanya kembali sesak saat merasakan pelukan yang selama ini ia rindukan itu, Ia meyakinkan dirinya kalau semua ini hanyalah mimpi.
"Tidak aku pasti sedang bermimpi iya kan? aku pasti sedang Bermimpi, lirihnya sambil terus menangis tersedu- sedu.
"Tidak sayang, sama sekali kau tidak sedang bermimpi, ini nyata bukanlah mimpi berbaliklah dan tetaplah aku Baron membalikan tubuh wanitanya Ia berusaha menghapus air mata yang terus mengalir di pipi halus istrinya itu.
__ADS_1
"Maafkan Aku yang terus membuatmu menangis, tanpa tahu cara untuk membuatmu bahagia tersenyum dan tertawa, tapi aku berjanji padamu, setelah hari ini tidak akan aku biarkan setetes pun air mata kesedihan mengalir di wajahmu, karena kamu adalah milikku selamanya, selama ini kau sudah melewati lukamu sendiri dan mulai sekarang aku akan terus bersamamu hingga maut memisahkan kita. Baron kini kembali memeluk tubuh istrinya itu dengan lembut penuh cinta dan kasih Ia menumpahkan segala kerinduan yang menyesakkan dadanya selama ini, Namun sesaat kemudian Renata mengurai pelukan lelaki yang sangat ia rindukan itu, bahkan hingga saat ini rasa rindunya belum bisa hilang dari hatinya.
"Maaf sebaiknya kalian keluar dari apartemen ku ini, aku tidak tau siapa yang memberitahu kalian tentang alamatku, namun itu sekarang tidaklah penting tapi aku mohon sebelum suami ku kembali keluarlah kerena aku tak ingin sauamiku salah sangka," ucap Renata memelingkan wajahnya sambil kini berjalan mendekati Bara, sedangkan Baron masih terdiam pada tempatnya, karena masih terkejut dengan penolakan dan apa yang di katakan Renata padanya itu.
"Bara, maafkan aku, aku bukanlah Bundamu, Bundamu adalah Li..."
"Tidak... Renata jangan katakan itu padanya, Bara hanya tau kau adalah Ibunya dan jika kau menolak kami tidak apa-apa, tapi aku mohon jangan katakan apapun pada Bara," pintanya pada Renata membuat Renata, menggantung kan kalimatnya.
"Ayo Bara kita pergi kita tidak bisa memaksakan orang yang sudah menolak kita untuk menerima kita kembali," Ucap baron dengan suara tertahan karena menahan sebaknya.
"Boleh aku tahu kau sekarang menikah dengan siapa,?" Bukan Baron yang bertanya tapi Bara, dan pertanyaan nya itu membuat Renata maupun Baron terkejut.
"Bara, apa yang kau katakan dia itu Bundamu kenapa kau harus bertanya dengan cara tidak sopan seperti itu,?" sentak Baron.
"Apa Ayah tidak dengar kalau dia mengatakan kalau dia itu bukan Bundaku, Bunda sangat mencintai aku Ayah, dan Bunda sudah berjanji kalau Bunda tidak akan pernah meninggalkan aku." Tangis Bara pun pecah seketika, membuat Baron berlari memeluknya.
"Maafkan aku dan anakku jika sudah mengganggu waktumu," ujar Baron lagi sambil menunduk memberi hormat, meski dengan perasaan kacau ia memilih pergi meninggalkan Renata, karena ia tahu kondisi Renata saat ini, butuh ketenangan untuk menerima semuanya, ia tidak mau kalau istri dan kandungannya akan bermasalah lagi apa lagi kalau istrinya kabur.
"Tunggu, Ayah turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri" pinta Bara, Baron pun hanya menuruti saja apa yang di inginkan putra nya itu, tanpa ingin menolaknya.
Bara menurunkan dan membuka tas ransel yang ada di punggungnya itu lalu, ia pun mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya.
la pun kini berjalan mendekati Renata,
"Ambillah, tadinya aku akan memberikan ini pada Bundaku, tapi Bundaku sudah pergi jauh, itu aku sendiri yang membuatnya aku belajar sama Nenek untuk merajut nya, tapi jika Anda tidak menyukainya buang saja ketempat sampah." Ucap Bara panjang lebar lalu melangkah pergi. Membuat Renata dan Baron melongo dengan tingkah aneh putranya itu.
"Ayo Ayah kita pergi,!" Ujarnya menarik tangan sang ayah untuk segera keluar, karena air matanya ingin segera tumpah, tapi ia anak laki-laki tidak boleh terlihat lemah di depan Renata sangat menggemaskan diusianya itu ia harus berpura-pura dewasa.
__ADS_1
Melihat kepergian kedua pria yang ia sayangi Renata kembali menangis, ia terpaksa melakukan semua itu, karena la tidak ingin terlihat lemah, dan merasa di kasihani, dia juga tidak ingin kedua Prianya itu bersedih menangisinya karena ia harus pergi untuk selama-lamanya, yang penting sekarang dia tahu kalau Baron juga mencintai nya.
Drt...Drt...Drt...📲
Tiba-tiba saja telpon nya berdering, Renata dengan segera mengangkat nya. Tanpa melihat nomor nya terlebih dahulu, karena berusaha menghapus air mata nya.
"Hal..."
"Apa pun yang terjadi aku akan selalu ada untuk mu, dan jangan kau fikir aku pergi karena percaya dengan semua omong kosong mu itu, aku pergi karena tidak ingin melihat Bara kecewa, tunggu aku, aku akan segera kembali hanya untukmu dan anakku yang kau kandung itu, mencintaimu Sayang."
Tut..tut..tut..
Sambungan pun terputus.
'Apa dia tidak pernah berubah dia selalu seenaknya, dia menjedaku bicara bahkan dia juga menghiri saat aku ingin bicara,' kesalnya menggerutu sendiri.
"Kamu jangan seperti Ayahmu ya sayang," usap Renata pada perutnya, lalu tangannya pun meraih bingkisan yang di bungkus Bara tadi. Dia lalu membukanya hati-hati dengan hati-hati sekali.
"Bara, apa benar ini kau yang merajutnya Nak, Maafkan Bunda sayang, mamafkan bunda sayang," Tangisnya kembali pecah saat menyaksikan Topi rajutan yang berwarna Pink itu bahkan pada topi itu di sematkan sebuah nama Cahaya.
Tok...tok...tok...
Renata yang mendengar ketukan pintu segera menyimpan topi yang di berikan Bara.
la pun segera membuka pintu.
"Bar..." Renata menggantung kalimatnya saat melihat siapa yang di depan nya.
__ADS_1