
"Kak,, kau apa-apaan! kenapa kau menculikku dari tempat pesta?, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" teriak Amara saat menyadari siapa orang yang membekapnya itu.
"Diamlah Amara! ikuti saja perintahku, bawa mobilnya cepat dari sini kepalaku terasa pusing!" tegas Darandra memberikan perintahnya.
"Tapi Kak, Bagaimana kalau aku_ maksud ku bagaimana kalau Kakak sampai mencariku."
"Kau jangan khawatir aku akan mengantarmu pulang dengan selamat jika Kepalaku sudah membaik."
"Baiklah,, sekarang aku akan membawamu ke mana?"
"bawa saja aku ke apartemen."
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja." Usul Amara.
"Aku tidak mau, bawa saja aku pulang ke apartemen!" tegas Darandra.
"Baiklah,, tapi kau harus berjanji padaku kau tidak akan macam-macam."
"lya,, iya kenapa sih, kamu bawel banget kamu bisa diam gak sih kepalaku sedang sakit!" gerutu Darandra yang merasa kesal membuat Amara seketika terdiam.
"Ck, sial, diakan punya tunangan Kenapa harus Menculikku?"
Geram Amara namun hanya dalam hati.
"Kamu bisa cepat sedikit nggak sih? bawa mobilnya!"
"lni sudah cepat banget Kak, aku takut nanti kita nabrak, apa Kakak lupa kalau aku pernah kecelakaan Aku tidak ingin kakak juga nanti kenapa-kenapa." Liriknya menimpali
"Ya sudahlah Terserah kamu saja, yang penting jangan terlalu lama karena aku sudah tidak tahan lagi," Ujar Darandra sambil terus memegang kepalanya. Dan itu di saksikan oleh Amara.
"Apa sangat sakit sekali?" Darandra pun hanya mengaguk lemah, Amara pun memberanikan diri untuk menyentuh wajah Darandra karena melihat bibir dan wajah lelaki itu yang begitu pucat.
"Ya,, Allah kak, kenapa wajah Kakak panas sekali lebih baik kita ke rumah sakit saja kak sekarang aku khawatir pada kakak!"
"Aku bilang tidak, ya tidak! apa kau tidak paham sama sekali dengan apa yang aku maksudkan!" Kesal Darandra.
"Sudah sakit masih saja keras kepala, aku kan cuma khawatir saja" gerutu Amara yang masih bisa didengar oleh Darandra.
__ADS_1
"Ck, jaga ucapanmu aku mendengarnya!" ketus Darandra, Amara akhirnya memilih diam saja dari pada terus membangkitkan singa tidur.
Setelah 30 menit Mereka pun akhirnya sampai di sebuah apartemen mewah milik Darandra, Amara pun buru-buru untuk turun dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Darandra,
"Apa kau masih bisa berjalan sendiri?"
"Aku hanya sakit kepala, bukan lumpuh!" kesalnya lagi dengan wajah datarnya.
"Mana tau Kakak butuh tongkat atau kursi roda." Ledek Amara yang semakin membuat Darandra merasa kesal di buatnya.
"Amara…kau…!"
"Mana Kunci kakak kita sudah sampai?" Darandra pun mengeluarkan kartu akses masuk ke apartemennya. Dan memberikan nya dengan kasar.
"Kak,, jangan terlalu kasar padaku nanti kalau aku tiba-tiba menghilang dari hadapanmu bagaimana.?"
"Baguslah, kau pergi dari dunia ini pun aku tidak akan menangisimu!" kesal Darandra dengan nada emosinya, dan ntah apa yang membuatnya begitu emosi, yang jelasnya ia merasa kesal dengan kata-kata Amara, tadi yang mengatakan akan menghilang dari hadapannya.
"Tapi kalau aku pergi dari dunia ini Kakak tidak akan mendapatkan keturunan dariku." bisiknya di telinga pria yang selalu membuat jantungnya berdebar di saat setiap kali berdekatan seperti saat ini, padahal dia tau pria itu tidak akan pernah mencintainya.
"Kodenya Kak.?" Tanya Amara membuyarkan lamunan Darandra yang ntah sedang memikirkan apa.
"Saat kau, menabrak ku dengan gaya_ ah sudahlah cepat buka kepalaku akan tambah sakit kalau mengingatnya."
"Siapa juga yang menyuruh mengingatnya Kenapa juga harus tanggal kita bertemu?" gerutu Amara sambil mengerucut kan bibirnya sedangkan tangannya sibuk menekan tombol angka yang berada di pintu masuk.
"Agar aku bisa mengingat ada gadis menyebalkan yang masih ingusan selalu mengejarku."
"Uh,, dasar kau Kak," sebalnya.
"Iya dulu aku memang mengejarmu tapi untuk sekarang ini aku akan pastikan tidak akan lagi mengejarmu tapi kau yang akan mengejar ku" kekehnya.
"Sudahlah cepat jangan banyak bicara bawa aku masuk aku sudah tidak tahan lagi."
"lya,, iya sabar bisa nggak sih?'' Amara pun memapah Darandra masuk ke dalam kamar Ia pun segera merebahkan tubuh Darandra di atas tempat tidur.
"Aku akan membuka sepatumu jadi diamlah, dan akan aku ambilkan air untuk mengompres seluruh tubuhmu, aku juga... Aku heran kenapa Kak Daranda kok tiba-tiba saja jadi demam seperti ini.?"
__ADS_1
"Mungkin aku hanya kecapean karena sudah tiga hari tiga malam aku tidak tidur, dan semalam aku sempat kehujanan mungkin itulah penyebabnya kenapa aku tiba-tiba seperti ini, Tapi aku minta sama kamu tolong jangan tinggalkan aku Tetaplah di sampingku"
"Iya,, iya aku berjanji akan menemani Kakak di sini sampai kakak Benar-benar sembuh, Apa kakak ingin aku panggilkan tunangan kakak yang akan mengurus kakak?" tawar Amara
"Apa kau tidak dengar! aku hanya menginginkanmu bukan orang lain, anggap saja ini sebagai hukumanmu."
"Hukuman? kenapa, aku merasa aku tidak melakukan kesalahan?" ucap Amara binggung, Sambil menyimpan tempat yang berisi air yang di pakainya untuk mengompres tubuh Darandra, meski sesekali la dengan susah payah menelan salivanya saat menatap tubuh setengah polos milik Darandra itu.
"Hari ini aku akan menghukummu karena kau sudah berani-beraninya di depanku berciuman dengan laki-laki lain, bukankah selama ini aku sudah melarangmu untuk dekat dengan pria mana pun.? Kau adalah calon istriku."
"lstri Siri aja dibanggakan, dengarkan aku Kak kamu tidak bisa seenaknya padaku seperti ini, aku bukanlah perempuan ******, aku masih punya hati dan perasaan, apa selama ini kau tak pernah mengerti tentang rasaku tentang perasaan ku, kau hanya Ingin membuatku menderita dengan kebahagiaanmu sendiri. Kau benar-benar telah menyakiti hatiku, kau memiliki hati orang lain dan kau hanya sekedar ingin memiliki tubuhku saja. Aku membencimu sangat-sangat membencimu. Kenapa kau hanya melakukan ini padaku kau tahu aku juga sakit!" Jerit Amara panjang lebar mengeluarkan seluruh isi hatinya. Dengan air mata yang sudah luruh membanjiri wajahnya.
"Kemarilah,, mendekatlah padaku." Sela Darandra menatap Amara begitu lekat.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
Aku hanya ingin kau kemari, duduklah di sampingku." Lagi-lagi Amara tidak bisa menolak ia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Darandra tanpa bisa membantahnya.
"Kau tahu aku sangat merindukanmu. Persiapkan dirimu besok kita akan menikah." "Ap-apa besok apa kakak sudah gila? Aku tidak mau mengikuti kegilaanmu itu!" Amara yang kesal memilih bangkit dan hendak pergi namun dengan cepat Darandra menarik tangannya hingga tubuh Amara pun jatuh Limbung menimpa tubuh kekar milik Darandra.
Bugh.
"Peluk aku!" pinta Darandra.
"Ap-apa…?!" ucap Amara terkejut belum habis ke terkejutan Amara kini dia dibuat terkejut oleh Darandra yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.
"Aaaaaa kakak...lepaskan aku....!"
"Ck, berhentilah berteriak kau membuat gendang Telingaku rusak."
"Ka-kau__!"
"Aku kedinginan cepat peluk aku!" perintah Darandra dengan suara bergetar karena menggigil, Menjeda kalimat Amara.
"Tunggu aku ambilkan selimut dulu." Cicit Amara. Berusaha untuk bangkit dari atas tubuh Darandra.
"Apa kau tidak dengar aku hanya ingin kau saja."
__ADS_1
Deg.