Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kalung merpati


__ADS_3

"Amara...tidak Amara jangan...kamu jangan pergi jangan tinggal kan aku, Amara...aaaa! Darandra terbangun dengan peluh yang sudah membasahi seluruh tubuhnya dengan nafas yang sudah terengah-engah.


"Hah...hah...hah...hah...ternyata hanya mimpi, Tapi kenapa aku harus bermimpi tentang gadis itu. Ya ampun apa ini. Pasti gara-gara semalam dia melihatku dengan Tasya, dan sorot matanya itu menggambarkan kalau dia sangat tidak suka dan kecewa, apa aku menyakitinya? huh...dasar gadis aneh dan manja semoga dengan mengetahui aku bersama Tasya dia berhenti mengejar ku."


Darandra terus bermonolog dan berdoa dalam hatinya. Mengingat kegigihan Amara selama ini yang terus mendekatinya, walau dia tau Darandra dekat dengan Jelita, itu tidak lantas membuatnya menyerah, ia terus berusaha mencari perhatiannya, ntah apa yang di inginkan sebenarnya oleh gadis itu.


Ia pun selalu datang setiap hari ke rumah sakit saat mengetahui kalau Darandra adalah seorang Dokter.


"Mhuaaah...!" Darandra menarik nafas panjang,


"Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak begini dan jantungku kenapa juga berdebar-debar seperti ini, dan kenapa aku terus memikirkannya?" Darandra yang binggung menyentuh jantungnya yang tiba-tiba saja terus berdetak dengan kencang dan ada perasaan seperti kehilangan di dalam hatinya. Namun entah apa itu dia tidak mengerti. Setelah lama bergelut dengan hati dan fikiran nya Darandr bangkit dari tempat tidurnya ia memilih segera membasuh tubuhnya biar fikirannya fresh kembali. Tak lama kemudian dia pun keluar dengan balutan handuk yang melilit di pinggangnya.


Darandra melangkah masuk menuju wakl in closet untuk memilah milih pakaian yang akan ia kenakan itu ia akan memilih baju santai saja karena hari ini ia memilih untuk pergi ke mansion Rafa untuk bertemu ke dua orang tuanya yang rencannya akan pulang kembali ke luar negri. Disaat tengah asyik mencari pakaiannya tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah kota berwarna putih. Ia pun menjulurkan tangan untuk meraih kotak tersebut.


"Ini kan_?"


Darandra menjeda kalimatnya saat reflay ulang ingatannya kembali terlintas di otaknya tentang siapa yang pernah memberikan kotak hadiah tersebut pada dirinya. Dan dia pun membulatkan mata saat mengingat kalau kotak itu yang pernah Amara berikan kepadanya. Namun karena merasa itu tiada artinya ia pun melempar dengan asal kotak itu di lemari pakaian tanpa pernah ingin membukanya, namun hari ini ntah kenapa ia begitu penasaran ingin tau apa sebenarnya isi di dalam kotak tersebut.


Ternyata ada banyak kotak yang dijadikan untuk membungkus hadiah yang akan di berikan padanya hingga tiba di kotak yang terakhir. Darandra meraih box kecil berwarna coklat silver lama ia menatapnya. Hingga ia pun memutuskan untuk segera membukanya.


Klek...


Suara kotak yang sudah terbuka, dengan perlahan Namun pasti Darandra meraih isi kotak tersebut. Sebuah kalung yang berliontin kan burung merpati. Dan ada sebuah catatan yang tertulis di sebuah kertas kecil berwarna pink. Darandra pun meraih kertas tersebut lalu membaca isinya.


..."Dear, Kak Andra semoga Kakak menyukai hadiahku ini....


Aku berharap suatu saat kita bisa menjadi pasangan yang setia seperti burung merpati ini. Cobalah untuk memakainya, jika kita adalah pasangan soulmate maka kalung ini akan menyala jika kita berjarak beberapa meter. jika antara kita ada yang sakit atau terkena musibah maka tanda merah akan memberi sinyal, kau boleh percaya atau tidak. Tapi cobalah untuk memakainya. Kalung ini peninggalan kedua orang tuaku. Kakak pakai kalungnya, sedangkan aku memakai gelangnya. Aku akan berusaha menjadi seperti yang kau inginkan, tapi tolong terima aku jadi kekasihmu."

__ADS_1


^^^By yang mencintaimu.^^^


^^^:Amara:^^^


Deg...


"Apa jadi selama ini dia mencintai ku? tapi maaf aku tidak pernah punya perasaan untukmu selama ini. Jadi aku harap kau bisa melupakan ku karena di hatiku hanya ada Tasya, aku akan setia seperti yang kau minta,setia pada cintaku yaitu Tasya." Putus Darandra mantap sambil menatap kalung yang ada di genggamannya namun rasa penasaran menuntu tangannya untuk mengait kan kalung tersebut pada lehernya.


"Seperti nya tidak ada salahnya kalung ini aku coba ini sepertinya keren tidak buruk-buruk amat." Ucapnya lagi saat ingin mencoba kalung tersebut.


Tit...tit...tit...!


Bunyi suara dari kalung yang baru saja terpasang di lehernya membuatnya terkejut ia membulatkan mata saat mengingat tulisan Amara.


"Warna merah!" cicitnya melihat kalung itu berubah menjadi warna merah.


Darandra segera meninggalkan cermin di depannya ia pun lebih memilih segera melangkah keluar untuk menuju mansion Rafa.


*


*


*


"Apa benar apa yang kamu lihat dan ceritakan padaku apa kamu yakin?"


"Benar Tuan, ini Motor yang selalu Nona Jelita pakai. Dan semalam Nona pergi memakai Motornya." Terang Reno memberikan lembaran foto dan menjelaskan atas hasil penyelidikannya.

__ADS_1


"Dan sayang nya si daerah tersebut sepi dan tidak ada cctv. Hanya yang bisa kita harapkan cctv dari dalam mobil yang hancur itu tapi sepertinya sudah tidak berfungsi karena saya sudah memeriksanya Tuan" sambung Reno lagi.


"Lalu siapa yang menjadi korbannya apa kamu sudah mencari tau siapa dia dan dimana rumahnya?" tanya Exel lagi menatap asiatenya itu dengan intens. Sedangkan Reno seperti tercekat mendengar pertanyaan dari Exel tersebut.


"Ren..apa kau tidak mendengar pertanyaan ku?" Exel yang melihat Reno hanya terdiam kembali menegurnya.


"I_iya Tuan saya mendengar pertanyaan Anda hanya saja_"


Reno kembali menjeda kalimatnya dia sangat takut untuk mengatakannya jangan sampai ini akan mempengaruhi dua perusahaan besar yang baru saja mulai menjalankan kerja sama. Apa lagi di sini Nona Jelitanya di sini yang salah karena telah sengaja menghadang mobil di depannya itu.


"Reno...!"


Exel yang merasa kesal menaikkan suaranya satu oktaf.


"Katakan padaku siapa yang menjadi korbannya kenapa kau tiba-tiba saja terdiam. Apa dengan diam mu itu akan menyelesaikan masalah ini?" Tegas Exel yang mulai emosi.


"Sekali lagi aku bertanya siapa korbannya?"


"Adikku, Adikku! yang menjadi korbannya." Damara yang baru saja masuk langsung menjawab pertanyaan Exel dengan menekan kalimat adikku.


"Dam_Damara kau? apa yang kau katakan?"


"Apa yang Tuan Damara katakan itu benar Tuan." Sela Reno membenarkan apa yang di katakan Damara.


"Dan apa kalian ingin tau seperti apa dia sekarang? Dokter mengatakan kalau dia koma dan ntah sampai kapan dia baru bisa sadar tidak ada yang tau, jika ia sadar pun dia akan lumpuh."


"Dan aku datang kesini tidak menuntut tanggung jawab dari Jelita, aku hanya ingin datang melamar dan menikahinya itu saja!."

__ADS_1


__ADS_2