Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Operasi


__ADS_3

"Bagaimana dengan Putra kami dokter?" tanya Baron dan Renata begitu melihat seorang yang berjas putih keluar dari ruang operasi, di mana Bara saat ini ditangani. Sang dokter pun menghentikan langkahnya, lalu menatap Ketiga orang yang berada di depannya, yang menunjukan wajah gelisah mereka.


"Iya dokter Bagaimana dengan cucu saya?" Sela Bu Sofia, ikut memberikan pertanyaan karena ingin segera mengetahui Bagaimana keadaan cucunya itu, namun sang dokter tak kunjung membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan kepada mereka.


Nampak sang dokter, terlebih dahulu menarik nafas panjang, lalu menatap Ketiga orang di depannya itu satu-satu membuat Renata Baron dan buat Sofia semakin merasa tegang dan harap-harap cemas.


"Kalian tidak perlu khawatir, semuanya sudah berjalan dengan baik dan lancar sesuai doa kalian, hanya saja untuk beberapa hari ini pasien harus dirawat Inap agar tetap bisa di rawat secara intensif di sini. Itu bisa untuk mempercepat proses pemulihannya kembali, dan setelah sadar kalian boleh menemuinya, sebentar lagi, karena pasien akan segera kami dipindahkan ke kamar lain untuk penanganan selanjutnya."


"Baiklah dokter, terima kasih, untuk semuanya" Sela Baron.


"Sudahlah,, ini sudah tugas kami menjadi seorang dokter,, kalian itu harus bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kalian anak yang begitu kuat seperti Bara dan tentu saja semuanya atas doa kalian juga terutama Anda Nyonya Renata, Bara selalu berdoa dan menyebut nama Anda, sebelum la kami beri obat bius," Terang sang dokter kembali, membuat Baron dan Bu Sofia menatap Renata dengan tatapan yang berbeda, sedang yang di tatap hanya bisa berkaca-kaca karena terharu mendengar penjelasan sang dokter.


"Kalau begitu, saya pamit permisi dulu, karena sebentar lagi akan ada operasi susulan, ada pasien yang Harus saya tangani juga"


"Baiklah dokter. Terima kasih sekali lagi ucap Baron, sang dokter pun hanya menunduk Hormat, lalu melangkah pergi meninggalkan Baron, Renata dan ibunya. dan para tim Dokter pun segera keluar, memindahkan Bara keruang perawatan lainnya,


"Sebaiknya ibu dan Renata masuk lebih dulu ke dalam biarkan Baron keluar sebentar mencari sesuatu Bu."


"Baiklah jangan lama-lama!" Bu Sofia pun segera masuk yang di disusul oleh Renata namun. Langkah Renata terhenti, Di saat tangan kekar Baron menarik tangannya.


"Ada apa?" tanya Renata binggung.


"Apa kau tak ingin sesuatu?"


"Sesuatu?" tanya Renata menakutkan ke dua alisnya.


"Maksudku,, aku mau keluar mencari makanan. Apakah kau ingin memakan sesuatu? biar sekalian aku belikan."


"Oh iya kebetulan sekali aku ingin makan rujak tapi kau sendiri yang harus membuat nya, maksudku kau harus membuat rujak itu dengan tangan mu sendiri."

__ADS_1


"Rujak buatanku?" tanya Baron heran kenapa tiba-tiba Renata meminta Rujak, dan rujaknya pun, harus buatan tangannya sendiri.


"Kamu tidak sedang ngidam kan?, di dalam sini tidak ada anakku kan?" tanya baron mengelus lembut perut ternyata yang masih rata itu.


Membuat Renata salah tingkah dengan wajah bersemu merah bercampur gugup dan takut."


"Kenapa wajahmu jadi bersemu merah seperti ini?" tanya Baron sambil mengangkat dagu Renata.


"Tet-tet tidak, aku hanya, aku, aku hanya__"


"Hei,,sayang kau kenapa tiba-tiba jadi gugup seperti ini? Apa kau malu sama suamimu ini atau jangan-jangan kau benar-benar hamil?" godanya tersenyum jahil, dia pun tanpa sadar dengan gemas mengecup bibir berwarna ranum tersebut, membuat Renata terkejut membulatkan matanya, karena Baron melakukannya di depan umum hingga membuatnya menjadi sebuah tontonan di lorong rumah sakit tersebut.


"Baron sudahlah, kita dilihat orang aku malu." "Kenapa kau mesti malu? aku kan suamimu. atau jangan-jangan kau__"


"Katanya kau mau pergi cari makanan tapi kok kenapa jadi seperti ini? nanti lbu mencari ku karena kelamaan menunggu" sela Renata menjeda ucapan, Baron.


"Kok gara-gara aku sih Aku kan nggak ngapa-ngapain" Jawab Renata binggung.


"Kamu bilang nggak ngapa-ngapain terus tuh bibir kamu kenapa menggodaku?" tunjuknya dan kembali mencuri ciuman bibir Renata "Baron,, Kau..!" kesal Renata.


"Sudah-sudah aku mita maaf, aku pergi dulu oke, bye!"


"Hati-hati, dan cepatlah kembali. Jangan sampai Bara mencarimu!"


"Kau menyuruhku hati-hati tapi kenapa tidak ada sayangnya?" protes Baron.


"Kau ini kenapa sih? kayak anak kecil saja." "Jawab pertanyaanku dulu, kenapa kau tidak memanggilku sayang?"


"Bukankah kau sendiri yang memintanya padaku?" ucap Renata sembari menunduk. Lalu mengangka wajahnya menatap Baron.

__ADS_1


"Dan sepertinya, Aku tidak akan memanggilmu Sayang lagi, karena kau__" "Tidak! kau harus tetap memanggilku sayang. Tidak ada alasan lain, kau mengerti? Oke Baiklah, aku akan pergi." Baron pun segera berbalik pergi meninggalkan Renata yang masih menatapnya dengan tatapan heran.


"Dasar laki-laki. Lelaki memang aneh Bukankah dia akan segera menikah dengan orang yang sangat dia cintai? lalu kenapa aku harus terus memanggilnya sayang? apa dia sengaja ingin menyakitiku? Tapi aku pikir-pikir sih, nggak ada salahnya, toh hanya untuk Sementara Ren, Anggap saja untuk kenang-kenangan yang akan kau tinggalkan untuk Baron, walau Setelah Kepergianmu dia tidak akan pernah mengingatmu lagi, karena dia akan hidup bahagia dengan orang yang sangat dia cintai" Gumamnya pada diri sendiri.


"Haaaah," Renata menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya secara kasar dia pun segera masuk untuk menemui Ibu mertuanya.


Ceklek.


"Bagaimana,, keadaan Bara, Bu? Apa dia sudah sadar?" tanya Renata begitu masuk.


"belum nak, sepertinya obat penenangnya masih berpengaruh kita tunggu dulu sebentar ya!"


"Kemarilah Ibu mau bertanya sesuatu padamu tapi kau harus menjawabnya dengan jujur!"


"Ibu,, mau bertanya padaku?" tunjuk nya pada diri sendiri, sedangkan perasaan Renata sudah mulai tidak enak, saat ibu Sofia yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik,


"Kau kenapa? Kenapa kau tidak jujur pada Ibu kalau kau itu sedang sakit kan?"


"Sas-sakit maksud ibu?" Renata yang terkejut dan menurunkan kedua alisnya dan jangan ditanya kini jantungnya berdegup dengan kencang. Dia berpikir jangan sampai Ibu mertuanya tahu penyakit yang ada dalam tubuhnya sekarang. Bahkan waktunya hanya tinggal 8 bulan tapi ia berusaha menutup rapat semuanya tak ingin orang-orang mengasihani hanya karena dia mempunyai penyakit yang bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu.


"Kau jangan bohong sama ibu Ren, Ibu tahu kamu sedang sakit ibu lihat sendiri wajah kamu pucat dan kadang ibu dengar kamu muntah-muntah memangnya kamu sakit apa sayang? dan ibu lihat pagi-pagi kamu tidur di kamar pembantu kenapa kau__"


"Bu,, sebenarnya asam lambungku kumat." Jawab Renata menjeda kalimat mertuanya la pun merasa sangat lega kalau Bu Sofia, tidak mengetahui penyakitnya, walau la terpaksa harus berbohong.


"Bu,,Aku hanya tidak ingin kalau pagi akan membangunkan Mas Baron apalagi dia nanti ke pikiran terus dengan keadaanku, untuk Renata memilih tidur di kamar pembantu kalau pagi Bu, Takutnya nanti Mas Baron berpikir yang tidak tidak tentang keadaan Renata." Lanjutnya lagi.


"Kenapa kau takut Nak, seharusnya dia itu lebih peka kepadamu. Kamu itu istrinya, dan dia itu suamimu, walau saat pernikahan kalian memang sepertinya terlalu dipaksakan, tapi Ibu harap kalian Selamanya menua bersama dan hidup bahagia bersama anak-anak kalian." Ucap Bu Sofia membelai rambut Renata dengan lembut dan penuh kasih.


"ltu juga yang aku harapkan Bu, tapi asal lbu tau Mas, Baron tidak akan pernah menginginkan hal itu, dan aku pun tidak lama lagi di dunia ini, sebelum semuanya terjadi aku hanya ingin bahagia bersama kalian tanpa harus memikirkan hal lainnya yang tidak penting."

__ADS_1


__ADS_2