
"Dam..mar.." Mendengar suara istri yang sudah mulai meracau membuat Damara terus bersemangat memberikan kepuasan kepada istrinya"
"Aku keluar" rengek Jelita yang merasa kan sesuatu ingin lepas pada dirinya.
"Keluarkanlah sayang bisik Damara lembut di telinganya dan benar saja Jelita meraih wajah Damara lalu melu..mat bibirnya dengan rakus saat pelepasannya.
Damara memberikan Jeda untuk Jelita mengambil nafas sebelum ia menyerangnya kembali, kali ini Damara meraih sabun lalu menggosok nya ditubuh sang istri dan ntah kenapa setiap sentuhan tangan Damara, menjadi sensasi luar biasa buat Jelita terlihat ia kembali terbui, apa lagi di saat Damara menggosok dengan lembut bagian dadanya, dan jari jemarinya kini bermain dengan indah di bawah sana membuat Jelita kembali mengerang dan menegang, namun dengan cepat Damara menghentikan aksinya. Membuat Jelita menatap nya dengan tatapan kecewa, Damara hanya bisa tersenyum saat melihat tatapan istrinya, ia kembali meraih tubuh Jelita dan memasukkan nya kedalam Bathtub lalu ia pun segera melakukan penyatuannya dengan sempurna dengan posisi Jelita duduk di atas perutnya.
Dengan gerakan pelan ia terus memberikan hentakan demi hentakan di bawah sana membuat Jelita kembali terbuai dan dengan sendirinya ia terus bergerak maju mundur mencari kepuasannya sedang tangan Damara kembali menyentuh dua gundukan yang terus bergoyang karena hentakan dari tubuh Jelita, ia pun kembali ******* dan mengecapnya dengan lembut membuat tubuh Jelita kembali menegang dan dengan cepat Damara membalik tubuh Jelita dan kini dia mengambil alih kendali terus memompa dengan cepat hingga ia pun merasakan miliknya akan tumpah, begitupun dengan Jelita.
"Kita keluarkan sama-sama ya sayang" racaunya dan di angguki Jelita, Jelita membelit tubuh Damara dengan kedua kakinya sedang kedua tangannya pun memeluk tubuh kekar suaminya di saat merasakan tekanan kuat di bawah sana hingga sesuatu yang hangat tumpah ke dalam dinding rahimnya.
Damara tersenyum menatap wajah istrinya yang semakin hari semakin gembul, membuatnya selalu gemas ingin terus menciumnya.
"Terima kasih sayang untuk hadir di hidupku. Kau tau aku sangat-sangat-sangat mencintai mu." Ucap nya sambil terus membersihkan tubuh sang istri.
"Aku juga mencintaimu bahkan sangat mencintaimu terima kasih kejutannya hari ini kamu sudah mau bersusah payah menghadirkan keluarga besar ku walau tidak semuanya bisa hadir, aku sangat bahagia"
"Benarkah kau sangat bahagia?" Jelita pun menggangguk.
"Baiklah mari kita adakan resepsi setelah Damara Junior lahir bagaimana?"
"Benarkah itu sayang?"
"Tentu saja benar apa aku pernah berbohong padamu."
Dengan cepat Jelita menggelengkan kepalanya. Setelah ritual bersih-bersih sudah selesai kini merekapun keluar dari Bhatroom, dan seperti biasa Damara akan selalu memakaikan baju untuk istrinya terlebih dahulu. Dan setelah semuanya kelar merekapun saatnya mereka terdampar di pulau mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jeliat bangunlah sayang kamu boleh tidur lagi tapi setelah sarapan dan minum susunya hmm" suara lembut sang suami berbisik di telinganya.
__ADS_1
Jelita menggeliat sambil mengerjap-ngerjap kan matanya yang masih terasa berat oleh kantuknya.
"Sayang boleh tidak aku makannya nanti
kalau udah agak siangan aku mengantuk sekali" Ucapnya parau suara khas orang bangun tidur.
"Tidak boleh apa kamu akan membuat anakku lapar hmm"
"Sayang geli ah," cicitnya saat Damara kini masuk di ceruk lehernya.
"Kenapa kamu selalu memberi perhatian lebih padanya?"
"Sayang dia itu anak kita Kenapa Kamu begitu cemburu kepadanya."
"Iya iya aku tahu anak kita bagaimana Jika dia lahir Apa kamu akan selalu memanjakannya dan aku?" tunjuk nya pada diri sendiri.
"Tentu saja aku akan lebih menyayangimu karena kamu adalah wanita pertama yang mau melahirkan anakku, tunggu dulu. Kenapa kamu jadi Pencemburu seperti ini pada anakmu sendiri?" tanya Damara heran.
"Tentu saja aku cemburu bagaimana dia belum lahir dia sudah membuat ku bersaing untuk mendapatkan kasih sayangmu." sela Jelita,
"Tapi aku senang ternyata kamu bisa cemburu juga itu pun dengan anak yang kamu kandung, dah ayo kita turun kasihan Amara sudah menunggu dari tadi."
"Aku mau cuci muk_" tiba-tiba ucapan Jelita terjeda saat merasa tubuhnya melayang ke atas.
"Auu...Sayang Apa yang Kamu lakukan!" cicitnya.
"Membawamu untuk cuci muka."
"Sayang tapi kan aku bisa berjalan sendiri." "Sudahlah biarkan aku menggendongmu dan anakku oke" terpaksa Jelita hanya menurut saja, karena tidak ada gunanya juga dia menolak karena suaminya orang yang anti penolakan.
:
__ADS_1
"Hai kak, kakak ipar,!" sapa Amara.
"Hei apa kabarmu hari ini bagaimana apa kamu sudah baik-baik saja?"
"Seperti yang terlihat," sahut Amara sambil mengangkat kedua bahunya.
"Aku minta maaf kalau semalam aku membuat kacau dan tidak bisa gabung hingga selesai" sesalnya menunduk sedih
"Hei...tidak apa-apa. Aku berterima kasih padamu karena kamu berhasil menjaga ku seharian di kamar, tanpa membuatku curiga sedikitpun, dan seharian aku merepotkan mu dengan segala ke inginanku yang aneh-aneh."
"Amara mengangkat wajahnya lalu memeluk kakak ipar nya itu."
"Berjanjilah padaku tetaplah berada di samping Kakak ku hingga akhir, kau harus menjaganya dengan baik."
"Kamu, kenapa harus berkata seperti itu bukankah dia selama ini yang menjagaku jadi untuk apa aku harus menjaganya" Jelita menatap Damara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih sayang" ucap nya, Damara pun mendekat lalu bergabung memeluk kedua wanita yang sangat berarti di dalam hati dan hidupnya itu.
"Hei...Ayo kita makan kok kita jadi sedih-sedihan begini" cicit Amara.
"Siapa yang sedih, aku tidak sedih" sahut Jelita.
"Kak apa kakak sedang mengiris bawang merah, Aku mencium bau nya seperti nya Kakak ipar terkena baunya" canda Amara membuat Jelita, terkekeh. Keceriaan dan kebahagiaan kembali terpancar dari wajah ketiga orang tersebut. Mereka pun makan dengan lahapnya sesekali canda tawa mereka akan terdengar.
"Am, apa kamu ada janji dengan kak Andra hari ini?" Amara langsung terdiam mendengar pertanyaan Kakak iparnya itu, lalu dia menatap Damara sebelum dia kembali menatap Jelita.
"Nih, dia kirim pesan katanya dia sudah ada di depan dia menunggumu di sana, tapi kenapa dia kirim pesannya ke nomorku handphone kamu mana?"
"Han-handphone ku rusak semalam terjatuh saat di taman" bohongnya.
"Kalau begitu aku menemuinya dulu." Amara pun bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Am, tunggu!" Amara yang mendengar panggilan Jelita pun menghentikan langkah kakinya. Jelita pun segera datang untuk mendekatinya.
"Am, apa perasaan mu_"