Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kemarahan Damara.


__ADS_3

Rumah utama.


"Apa kau yakin tidak berbicara apa pun pada Amara yang membuatnya marah dan pergi,?"


Tanya Jelita pada Damara yang terlihat nampak begitu gusar.


"Kau taukan, kami tidak pernah saling mengungkit permasalahan yang sudah lalu, lni pasti karena kakak sepupu mu yang brengsek itu,! Dia yang membuatnya terpaksa harus pergi, mungkin karena dia merasa sudah tak sanggup lagi hidup dengannya, hingga ia harus memilih jalan untuk pergi, kalau terjadi sesuatu dengan adikku aku tidak segan-segan akan memberikannya pelajaran,"


Geram Damara dengan mengepalkan ke dua tangan nya.


Melihat kemarahan di mata suaminya Jelita tak bisa berbuat apa-apa, la hanya mengusap punggung suaminya itu dengan lembut, untuk mengurangi Emosinya.


"Apa tidak sebaiknya kita minta bantuan Kak, Exel untuk mengirim orang-orangnya mencari Amara," ujar Jelita memberi usulan.


"Aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk menyebar tapi hasilnya tetap sama,"


"Apa kau yakin? atau mungkin saja seseorang membawanya pergi,"


"Maksudmu,?" Damara mengerutkan alisnya.


"Danu, bukankah Amara sangat dekat dengan Danu bukan tidak mungkin kan kalau Danu membawa Amara pergi dari sini."


"ltu tidak mungkin, karena aku tau dimana Danu berada saat ini, dia masih berada di negara yang sama dengan kita, dan apa kau lupa kalau dia itu sudah menikah dengan sepupumu yang galak itu."


"Sayang...!" mata Jelita melotot menatap jengah dengan ucapan suaminya itu, spontan hal itu membuat Damara segera sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Maafkan aku sayang bukan maksudku untuk mengatakan kenyataan itu...m-maksud ku untuk mengatakan semuanya, tapi aku benar-benar merasa khawatir, dan kenapa juga aku baru tau kabar kepergian Amara setelah satu minggu berlalu, apa perlu aku menghajar Darandra atas apa yang di lakukan nya pada adikku, kau tau kan, aku sangat menyayangi adik ku itu, kalau aku tau semua itu tidak membuatnya bahagia aku tidak akan pernah menikahkannya dengan lelaki bedebah itu,!"


"Sayang, aku tidak membenarkan tindakan yang di lakukan Kak Randra, tapi dengan kau menyiksa dan memukulnya apa itu akan membuat kalian bisa menemukan Amara, jika iya lakukanlah, apa kau tidak tahu kalau, Dad Anthony juga sudah memberikannya pelajaran, dengan menghapusnya dari hak waris keluarga besar Goshal."


"Oh...ya...benarkah? kok, aku baru tahu, kau tahu darimana tentang berita itu?"


"Dari kak Dara, dia menelponku dan menceritakan semuanya."

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Ketika Jelita asyik menjelaskan tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu begitu kencang, mengejutkan mereka, Jelita pun bergegas bangkit untuk membuka pintu


"S-siapa__? kau, kenapa kau bisa kemari?"


"Siapa sayang?" Jelita hanya diam saja tak menjawab pertanyaan suaminya, la nampak binggung harus menjawab apa, bagaimana jika suaminya itu tau siapa yang kini datang ke rumahnya, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari istrinya akhirnya Damara memilih mendekati Jelita.


"Sayang siapa yang dat..." Seketika ucapannya terjeda saat melihat Siapa yang berdiri di ambang pintu.


"Bajingan kau, aku menikah kan mu dengan adikku bukan untuk kau jadi kan pemuas nafsumu saja, atau bahkan jadi saksi perselingkuhan dengan mantan kasihmu itu bahkan kau membuatnya hamil."


Bugh.. bugh.. bugh.


Damara melayangkan beberapa pukulan di wajah Darandra hingga membuat Darandra mengalami beberapa luka lebam karena ia memang tidak melawan dan menghindar, Jelita, yang melihat kakak, sepupu dan suaminya, hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya, dan saat Damara ingin kembali menghajar Darandra dengan cepat Jelita menahan tangan suaminya itu agar tidak melakukannya lagi.


"Sayang kau bisa membunuhnya, biar bagaimana pun dia itu adalah Kakakku,"


Dan tanpa Jelita sadari ucapannya itu semakin memancing emosi Damara.


"Pergilah dari sini Kak, sebelum aku juga marah pada kakak, kenapa kakak bodoh sekali kenapa Kak, kau membuat kami harus kehilangan Amara, apa kau puas sekarang kak, sebaiknya sekarang kakak pergilah dan jangan kembali menemui keluarga kami tanpa Amara," tegas Jelita mengusir sang kakak sepupunya itu.


"Justru aku kesini ingin membawa pulang Amara aku tau kau pasti menyembunyikan nya kan, aku tau aku banyak salah padanya tapi aku mohon kembalikan dia untukku aku akan menebus semuanya, semua kesalahan ku padanya aku akan menebusnya."


"Jadi kakak menuduh kami menyembunyikan Amara?" Jelita menatap sengit pada Darandra.


"Tega Kakak ya, kau yang membuat Amara pergi lalu kau datang menuduh kami menyembunyikannya, sekarang keluarlah dan mulai detik ini kau bukanlah sepupuku lagi,!"


Jelita pun masuk menemui suaminya meninggalkan Darandra yang masih berdiri mematung seperti orang yang linglung.


la pun meninggal kan tempat itu dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan.


Sementara itu Jelita mengetuk pintu kamar di mana suaminya yang masih kesal dengan tindakannya yang tadi, membela sepupunya itu padahal hampir saja ia membunuh lelaki pecundang itu.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"Sayang apa boleh aku masuk menemuimu,!" seru Jelita, namun dirinya tak mendapatkan jawaban membuatnya memilih masuk sendiri tanpa di persilahkan.


Jelita melangkah pelan, mendekati tempat tidur, lalu la duduk di tepian ranjang, karena ternyata Damara kini sudah berbaring di atas tempat tidur, dengan posisi yang memunggunginya.


"Sayang kau kenapa,? Hey...apa kau akan terus marah padaku seperti ini,?" Tanya Amara menatap punggung suaminya.


Namun tetap saja, Damara hanya diam tak menggubris nya, membuat Jelita binggung, namun ia tak kehabisan akal dan terus berusaha, Senyumnya pun Terukir di bibir saat ia memikirkan sesuatu, Jelita menyibak selimut yang dipakai Damara untuk menutupi tubuhnya itu, dan kini Jelita pun ikut berbaring di belakang suaminya.


"Sayang, apakah kau masih marah padaku,?" tanya jelita, sedangkan tangannya terus bermain di dada bidang itu. Ia Pun mencoba untuk mencium tengkuk Damara.


'Aku ingin melihat, sampai di mana kau akan mendiamkan diriku ini Sayang,?' ucap Jelita namun hanya di dalam hati, Dan benar saja Jlita terus mempermainkan tubuh suaminya itu hingga membuat Damara Tak Tahan Lagi, saat ini dia menggenggam tangan istrinya dan berbalik.


"Bisa tidak, Kamu hari ini tidak usah menggangguku dulu Jelita, kau tahu kan aku sedang memikirkan Amara, tapi kau Seenaknya saja membela Kakak sepupumu itu, kau dan dia sama saja sama-sama menyebalkan, dan tidak punya perasaan sekarang keluarlah tinggalkan aku sendiri," usir Damara tanpa sadar, Jelita yang kecewa pun bangkit dan memilih keluar dari tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai...sambil nunggu Author UP yuk kepoin juga karya teman Author di bawah ini👇



Nomor 21


Indah adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.


Dia tinggal bersama Ibu tiri dan kakak tirinya, awalnya hidup Indah biasa saja. Sama seperti keluarga pada umumnya, Ibu tirinya Indah menyayangi Indah sama seperti dirinya sayang kepada anak kandungnya. Namun, setelah Ayahnya Indah meninggal, Ibu tirinya menjadi jahat dan memperlakukan Indah layaknya seorang pembantu di rumahnya sendiri.


Indah pernah dijual oleh Ibu tirinya kepada laki-laki hidung belang, untungnya dia bisa melarikan diri dari laki-laki itu dan akhirnya Indah ditolong oleh seorang laki-laki yang bernama Feri.


Siapakah Feri?


Akankah Indah menemukan kebahagiaannya?

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya**!


__ADS_2