Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jelita


__ADS_3

Jelita meninggalkan pemakaman tersebut dengan melajukan motor sport kesayangannya, Damara hanya bisa menatap kepergian Jelita dengan ke dua tangan yang mengepal. Ia pun mulai menelpon seseorang.


"Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?"


"Sudah Tuan!" sahut Rony


"Baguslah segera bawa ke rumah aku akan melihat sampai di mana ke angkuhannya.Setelah mengakhiri percakapan nya ia pun pamit pada sang Grandma.


"Damara pamit dulu ya Grandma Damara janji nanti Damara akan kesini lagi di saat Jelita sudah resmi menjadi istri Damara dan Damara Janji itu." Ujarnya lalu ia pun melangkah meninggalkan pelataran pemakaman yang luas itu.


*


Dan begitu dia turun dari mobil dia di sambut dengan wajah asistennya yang sepertinya sedang khawatir.


"Tut-Tuan...!" gugup Rony


"Ada apa Ron...apa kau membawa apa yang aku pesan?"


"sudah Tuan tapi ada yang jauh lebih penting dari itu! ini tentang Nona Amara Tuan."


"Amara, ada apa dengan Amara, apa anak itu belum pulang dan membuat ulah?"


"Nona Amara kecelakaan dan masuk rumah sakit Tuan?" Jelas Rony to the point.


Dan sontak apa yang di sampaikan Rony membuat Damara tercekat.


"Kamu jangan berbohong padaku Rony...!" Pekik Damara saat tersadar dengan apa yang di dengar nya dari Rony.


"Sekarang katakan padaku dimana Amara?" lanjutnya bertanya


"Nona di bawa kerumah sakit di jalan xxxxx Tuan" terang Rony memberikan jawaban.

__ADS_1


"Ayo kita segera kesana!" perintah Damara kepada Rony, Dan mereka pun segera menuju rumah sakit yang di maksud.


*


*


*


Sementara itu di Mansion Rafa Anggun yang baru saja ingin mengambil air minum di kejutkan dengan kedatangan Jelita yang baru saja masuk.


"Astaghfirullah Je, bisa tidak kamu masuk kasih salam. Dan kamu darimana kenapa baru pulang malam-malam begini bukankah acara Kakak mu sudah selesai tidak terlalu malam. dan itu kakimu kenapa jalannya pincang?"


"Bub, Bunda orang nya sudah mati." Setelah berkata seperti itu ia pun jatuh luruh kelantai membuat Anggun tanpa sadar membuang air yang berada di tangannya Yang belum sempat dia minumnya itu pecahan gelas pun berserakan di atas lantai.


"Jelita...!" Anggun terpekik melihat tubuh sang putri yang tiada pergerakan itu, dan sontak suara teriakannya mengundang seluruh orang yang berada di dalam mansion.


"Bunda ada apa?" cicit Exel dan Dara yang baru saja terbangun lantaran Dara meminta Exel untuk membuatkan cemilan karena Dara merasa lapar.


"Mas, anak kita Mas, Jelita! adu nya pada sang suami. Sementara Exel segera menghubungi Dokter David.


"Sudah ayo! kita bawa kekamar Dokter David sebentar lagi datang, Bunda jangan khawatir!" ujar Exel menenangkan sang Bunda.


"Bagaimana dengan adik saya Dokter apa perlu kami membawanya kerumah sakit? tanya Exel begitu Dokter David keluar dari kamar setelah selesai memeriksa Jelita.


"Tidak perlu khawatir dia hanya syok saja mungkin ada kejadian besar yang membuatnya seperti ini. Oleh karena itu dia jatuh pingsan." Terang Dokter David memberikan penjelasanya.


"Sayang boleh kita bicara sebentar?" ajak Dara pada sang suami, lalu di angguki oleh Exel.


begitu sampai di kamar Exel pun menyandarkan tubuhnya pada head board.


"Kemarilah duduklah di sini!" serunya pada Dara sambil menepuk pahanya agar Dara duduk di atas pangkuannya. Dara pun mendekat dan mengikuti perintah suaminya, setelah bokongnya mendarat Exel langsung memeluknya dari belakang dan menghirup aroma rambut panjang nya yang tergerai indah.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang ingin bicara, kamu ingin bicara apa sayang,? sekarang bicaralah aku akan jadi pendangar setiamu."


"Aku ingin bicara tentang Damara." ucapnya sambil menoleh kesamping untuk menatap suaminya karena posisinya yang sekarang memang sedang menyamping.


"Damara, ada apa dengannya kenapa kamu tiba-tiba menyebut namanya? jangan bilang kamu merindukannya karena anak kit_ummp"


Ucapan Exel tenggelam dalam ******* sang istri Dara terpaksa melakukannya karena merasa kesal dengan Exel yang bertanya tanpa titik koma itu apa lagi Dara belum selesai berbicara.


Exel yang menerima serangan begitu mendadak hanya membulatkan matanya namun sesaat kemudian diapun aktif memberikan belaian dan sentuhan lembutnya, tautan yang awalnya hanya biasa saja kini jadi berubah begitu panas dan menuntut. Sedang Exel yang sudah menegang tak ingin menghentikan permainannya membuat Dara harus mengikuti permainan suaminya yang tidak ada kata capek itu.


Suara des...ahan dan era...ngan pun kembali terdengar didalam ruangan yang kedap suara tersebut Ntah sudah beberapa kali Exel melakukan penyatuannya namun ia tetap melakukannya dengan hati-hati takut akan menyakiti anak dan istri nya.


"Lain kali aku tidak ingin mendengar mu menyebut nama pria lain selain namaku, kalau tidak aku akan menghukum mu lebih lama dari ini" ucapnya begitu ia berbaring di samping sang istri sambil memeluk Dara yang masih polos di balik selimut. Sedang bibirnya tak Berhenti mengecup tengkuk istrinya karena posisi Dara yang memang membelakanginya.


Dara, membalikkan punggung nya kini menghadap sang suami.


"Dengarkan aku sayang, bukan maksudku untuk menyebut namanya karena aku merindukannya, bagaimana aku merindukan lelaki lain kalau dirimu saja selalu membuatku rindu setiap hari" rayu Dara menatap lekat sang suami yang memang semenjak hamil ia tak ingin suaminya menjauh darinya bayangkan saja Exel ke toilet aja dia harus ikut apa lagi ke kantor, tapi Exel sungguh menikmati semua perubahan sikap sang istri tersebut.


"Sayang kamu ingat Jelita?"


"Iya aku ingat bukankah dia adikku dan untuk apa kau menanya kan semuanya."


"Bodoh itu aku tau dia juga adikku sebelum menjadi adikmu!" kesal nya


Exel hanya bisa terkekeh melihat wajah kesal istrinya itu.


"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan tentang Damara?" tanya Exel dengan nada yang jauh lebih serius.


"Aku hanya memikirkan kata-katanya apa kau ingat saat itu dia mengatakan saling mencintai bahkan dia mengatakan mempunyai masalah sepele, tapi yang aku lihat sepertinya jelita tidak menyukainya"


"Dengarkan aku kamu bilang Jelita tidak menyukainya? waktu itu kan Jelita memang ada masalah dengannya. Makanya dia seperti itu, apa kau ingat jika kau marah kau seperti membuatku ingin mati tercekik tidak bisa bernafas karena, mungkin seperti itu juga masalah mereka, dengar sayang Jelita itu sudah dewasa, jadi.

__ADS_1


Biarkan dia belajar untuk menyelesaikan setiap permasalahannya karena itu akan membuatnya kuat untuk menghadapi segala cobaan nantinya, seperti dirimu yang selalu kuat. Kita hanya bisa memberidukungan saja." Jelasnya panjang lebar sambil mencium wajah istrinya dengan penuh cinta. sekarang tidurlah sebentar lagi fajar" Ujarnya sambil memperbaiki selimut yang di pakai Dara.


__ADS_2