
Seminggu kemudian.
"Apa kau sudah siap?"
"Sudah Mas," sahut Renata yang tengah merapikan rambut, lalu memakai kacamata hitamnya.
"Kalau begitu ayo, kita berangkat karena pesawatnya satu jam lagi, kalian berdua dengar pesan papa kalian baik-baik disini ya papa akan cepat pulangnya kok, setelah mengantarkan Tante Renata," Nasehat Restu pada kedua putri kecilnya itu.
"Hana...!" Panggil nya pada seorang Baby sitter yang baru di dapatnya dari Agensi penyalur.
"Iya, Pak," jawab Hana yang langsung datang dan mendekat saat mendengar namanya di panggil oleh Restu.
"Kamu harus ingat jaga mereka baik-baik, dan satu lagi jangan sampai kamu salah masuk kamar," ucap Restu memberi perintah sekaligus memperingati karena dia tidak ingin kejadian semalam terulang lagi, bagaimana tidak saat terbangun ia di kejut kan dengan Hana yang tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"lya, pak maafkan saya, karena kurang teliti," ucap Hana dengan perasaan malu terlihat dari ia hanya menunduk dan tak berani menatap wajah Restu karena setiap ia menatap wajah lelaki itu jantungnya akan berdegup kencang, karena mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya ingin membenamkan dirinya kedalam tanah karena malu.
#Flashback on.
"Maaf Tuan di luar ada orang yang mengaku dari Agensi, Harapan Keluarga Bahagia," lapor seorang maid di rumah itu.
"Suruh saja dia masuk Bi," Ujar Restu, Bi Asih pun segera memanggil wanita yang di maksud kan nya itu.
"lni dia Tuan, orangnya," Restu pun menatap gadis di depannya itu dengan alis yang berkerut, karena gadis di depannya itu nampak masih seperti anak-anak yang berusia belasan tahun.
"Kau, siapa namamu,?" tanya Restu menyelidik.
"Hana Pak, Hana safitri" ucap Hana memperjelas namanya.
"Baiklah apa kau sudah terbiasa menjaga anak kecil,?"
"Belum Pak, maksud saya ia, saya akan mencoba?" ucap Hana gugup karena ini memang kali pertamanya ia bekerja, itu pun ia terpaksa masuk ke sebuah Agensi agar orang-orang suruhan Bondan, lelaki tua bangka yang punya banyak istri itu tidak menemukannya.
__ADS_1
"Jadi maksudmu kau belum ada pengalaman sama sekali untuk menjaga anak-anak,?"
"Siapa bilang, kalau saya tidak pengalaman menjaga anak-anak saya sering kok, menjaga anak tetangga, bahkan menjaga anak kucing saya bisa Pak," ucapnya penuh percaya diri, dan jawabannya itu mampu membuat Restu memijit pangkal hidungnya.
'Sial, kenapa mereka mengirimkan ku, anak-anak yang suka bermain dengan kucing, hewan yang paling tidak aku sukai itu, membayangkan nya saja aku alergi apa lagi melihatnya, aku harus meminta pengantinya yang lain.'
Gerutu nya dalam hati, dan Restu segera menghubungi kembali no Agensi di mana tempat Hana di kirim. Namun jawaban dari Agensi tidak begitu menyenangkan buatnya.
Bagaimana tidak saat meminta Hana untuk di tukar, Agensi itu mengatakan.
"Maaf Tuan Anda tidak bisa menukar kembali selama belum ada masa uji coba selama satu bulan,"
Restu hanya bisa mengusap wajahnya kasar sedang tatapan nya terus saja menelisik dari bawah hingga atas, membuat Hana bergidik ngeri.
"Baiklah aku akan memper kenalkan mu dengan ke dua Putriku," Restu pun segera memanggil ke dua putrinya untuk di perkenalkan dengan Putrinya itu karena dia sudah tidak banyak waktu lagi mulai besok ia harus berangkat mengantar Renata ke Singapur.
"Hai...Kakak...!" seru si Sulung dengan senyum yang ramah, begitu juga dengan si bungsu dengan gaya comel nya ikut menyapa membuat Hana tertegun dan begitu gemas dengan kedua anak calon majikan nya itu.
"Karena anak-anak tidur di atas, maka kau juga akan aku beri satu kamar di sini, ini kamarmu dan itu kamar ku dan ini kamar anak-anak," ucap Restu menjelas kan.
Restu menarik nafas lalu menghempas kannya perlahan, ia memijit pelipisnya melihat kelakuan pengasuh baru anaknya itu.
"Hana, apa kau mendengar ku,?" tanya Restu sedikit berteriak.
"Ah, i...iya Pak siap," Hana yang terkejut pun spontan hormat membuat kedua putri Restu tertawa kencang karena melihat tingkah lucu Hana yang menurut mereka bisa menghibur, karena lucu.
"Hana...!" geram Restu menatap tajam.
"lya...Pak...Maaf kan saya pak," gugupnya menahan ketakutan mendapat tatapan yang seolah ingin menelanjanginya itu.
"Sekarang temani anak-anak bermain jika kau melakukan kesalahan maka aku akan menghukummu, apa kau mengerti!"
__ADS_1
"l-iya Pak, saya akan melakukan perintah Bapak" Jawab Hana.
Setelah seharian menemani anak-anak bermain makan dan membacakan dongeng kini Reva dan Revi, mulai terlelap di dalam dunia mimpi nya, bahkan Hana pun ikut tertidur di samping mereka, tepat pukul 01:00 Hana terbangun namun masih dengan rasa kantuk yang berat.
'Hooaaam...Sebaiknya aku pergi tidur ke kamarku, karena kalau sampai pak bos melihatku tertidur di sini bisa di habisi aku jadi daging rendang, iiiiih,' Hana pun bergidik ngeri lalu segera turun dari tempat tidur Revi.
Ceklek.
Hana melangkah masuk ke kamarnya, ia pun segera membuka baju dan celana Jeans yang di pakai nya itu, karena itu adalah kebiasaan nya waktu di kampung,
'kenapa dingin sekali?' Gumamnya meraih selimut tebal dan menutupi tubuhnya itu. Saking letih dan mengantuk, ia pun terbui kembali ke dalam mimpinya.
*
Pagi.
Restu mengerjapkan matanya saat merasa seluruh tubuhnya kaku bagai terhimpit sesuatu beban, bahkan saat bergerak pun seperti sangat susah, ia mulai mengumpulkan kesadarannya, sebelum membuka mata dengan sempurna.
Dan dia merasakan betul ada benda kenyal menyentuh bibirnya, masih dengan mata yang terpejam, ia meresapi semuanya.
'Apa kah aku sedang bermimpi?' Fikir nya saat dirinya hafal betul benda kenyal itu adalah sebuah bibir, belum lagi tangan yang memeluknya begitu erat dengan satu kaki melingkar indah di pinggangnya.
'Mungkin aku sedang bermimpi,' fikir nya lagi lalu mencoba untuk memberikan ******* pada bibir tersebut namun masih tetap dalam ke adaan terpejam.
'Oh... Bibir ini manis sekali, andai ini bukanlah mimpi aku akan sangat menikmati sentuhan bibir yang sangat manis ini,' Fikirnya lagi.
Hingga sebuah pelukan erat kembali dia rasakan bahkan tubuh itu semakin merapat di tubuhnya membuat sesuatu yang di bawah sana memegang.
'Damn it,' umpatnya dalam hati.
"Lepaskan Aku, aku tidak mau menikah dengan tua bangka itu,"
__ADS_1
Restu yang semula menganggap itu semua hanya mimpi kini membuka matanya lebar-lebar, saat menyadari siapa yang berada di sampingnya dan memeluk tubuh nya itu.
Spontan dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh itu hingga jatuh ke bawah.