Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Anak Mami Kenapa?


__ADS_3

"Sayang Kemarilah sebentar…!" Damara meraih tangan Jelita lalu memberikan kecupan lembut di jari jemari lentik wanitanya tersebut.


"Terima kasih sekali lagi karena sudah hadir di tengah-tengah hidupku aku sudah tidak mampu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan segala apa yang aku rasa padamu. karena aku merasa semuanya tidak cukup hanya dengan mengungkapkan kata-kata saja. sayang Apa kau tahu kebahagiaan terbesarku adalah memiliki kalian berdua. Jelita hanya bisa tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Sayang kau kenapa? hei…kenapa kau harus bersedih seharusnya kau tersenyum bahagia aku tak ingin melihat air mata jatuh di wajahmu lagi." Damara membingkai wajah Jelita dengan kedua tangannya.


"Sayang Apa kau tahu kenapa Aku memanggilmu dengan panggilan Damar hmm?"


"Ya. Sepertinya aku tidak tahu aku rasa kau memanggilku seperti Mimi yang suka memanggil ku dengan panggilan tersebut." "Tidak kau salah. Sayang Aku memanggilmu dengan nama Damar bukan karena Mimi juga memanggilmu dengan nama tersebut. Aku memanggilmu Damar karena artinya, kau itu adalah pelita. Aku berharap kau bisa bersinar di relung hatiku jika sedang berada dalam kegelapan, kau Pelita yang tidak akan pernah redup badai datang untuk memadamkan sinarmu. Aku harap sekarang dan selamanya Kau akan terus menjadi Sinar kebahagiaan kami.


"Apa kau tahu sayang, kalian berdua itu adalah pelitaku yang sebenarnya, kalian telah menerangi jiwaku yang haus akan cinta dan kasih sayang, jadi Tetaplah seperti ini, sekarang dan untuk selamanya." Damara pun meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat begitupun dengan Jelita membalas pelukan sang suami.


Iya menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang milik Damara, dan merekapun terhanyut dalam perasaan masing-masing. Damara menangkup lalu menghujani wajah istrinya dengan kecupan-kecupan mesra.


"Owee…owee…owee…!


suara rengekan tangis dari baby Ar membuat keduanya tersadar Mereka pun sama-sama tersenyum lalu mendekati box bayi di mana baby Ar sedang terbaring.


"Anak Mami kenapa? kamu haus ya sayang cicit Jelita mengajak bicara sang bayi, sambil menciumnya dengan gemas, sepertinya jagoan Papi lagi cemburu ya sama papi makanya baby Ar menangis."


"Sayang kamu apaan sih! dia menangis karena haus saja dibilang cemburu. mana ada sih, anak bayi yang cemburu paling kamu aja tuh yang suka cemburu." Timpalnya dengan wajah yang mengerucut.

__ADS_1


"Ya siapa tahu aja baby Ar, tidak mau melihat Papinya sayang-sayangan sama Maminya." Kekeh Damara.


"Ya mungkin juga bisa jadi karena kamu kan suka jahil, sayang kamu Boleh bantu aku nggak untuk mengganti popok nya aku rasanya sudah full jadi kamu Tolong ganti dulu ya karena aku mau nyuci botol susu untuk bayinya."


"Oke sayang apa sih Yang tidak bisa Papi lakukan untuk jagoan Papi ini." Dan Damara segera meraih tubuh kecil sang jagoannya ayo jagoannya Papi, kita ganti popok nya dulu ya." Damara pun dengan telaten membersihkan dan menggantikan popok untuk sang bayi namun sesaat kemudian


"Sayang…Ayo cepat kemari!" teriaknya kencang memanggil Jelita.


"Ada apa sih sayang kamu teriak-teriak begitu, aku kan ada di sini. Suaramu itu nanti malah bisa membuat Baby Ar jadi takut dan Kenapa jug_" Jelita menjeda kalimatnya di saat matanya tertuju pada wajah sang suami yang kini basah Namun bukan karena keringat tapi karena pipis dari baby Ar, Jelita yang melihat kejadian tersebut berusaha untuk menahan agar jangan sampai dia tertawa.


"Sayang kau lihat perbuatan putramu ini. Kau lihat saja cara dia membalasku dasar menyebalkan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di sebuah rumah kecil Renata yang kesal dengan apa yang di lakukan Baron suaminya sejak tadi hanya bisa menggerutu, bagaimana tidak Rumah yang ia tempati hanya ada satu kamar pribadi satu ruang tamu dan juga satu kamar mandi plus toilet.


"Dasar laki-laki kere kenapa juga kau datang menghancurkan mimpiku!" teriaknya penuh dengan kekesalan.


"Hai wanita bodoh apakah kau lupa kalau kau hanya seorang gembel jadi sesama gembel dilarang berteriak. Apa kau mengerti!" sergah Baron mencengkram wajah Renata dengan kasar.


"Sekali lagi aku mendengar mu mengeluh dan mengumpat, maka kau akan ku cincang dan aku berikan kepada Tuan untuk santapan piranha. lebih baik lakukan tugas mu sebagai seorang istri dengan cepat, sebelum aku berubah fikiran."

__ADS_1


Baron pun melepas cengkraman nya dengan kasar hingga membuat tubuh Renata terhempas dengan kasar di atas lantai hingga membuat pinggang nya terasa ingin patah.


"Auhk ahk sakit!" ringisnya


"Apa kau bilang sakit? bukankah sudah aku jelaskan jangan pernah mengeluh di depan ku apa kau belum faham juga atau ini yang akan membuatmu faham!" Baron melepaskan tali ikat pinggang nya dan mengarahkannya ke tubuh Renata dengan kasar, Renata menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun, akibat cambukan dari Baron membuat tubuh Renata yang notabenenya putih kini memerah membentuk garis-garis panjang berwarna merah.


"Sekarang bangun dan cuci tubuhmu yang bau itu! karena aku tidak mau di layani dengan wanita berbau busuk sepertimu! dan satu lagi kembalikan cek' yang kau ambil dari Tuan Damara.!" Renata mengaguk dengan cepat lalu berusaha bangkit walau kini tubuhnya hampir saja limbung karena otot-otot di tubuhnya seperti akan terlepas dari tempat nya masing-masing.


"Hari ini kau harus menikmati hidup agar kau merasa terbiasa, cepat lah bersihkan dirimu lalu pakai ini dan temui aku di kamar!"


Ia pun segera pergi meninggalkan Renata yang masih terpaku di tempatnya. Sambil meraih lingerie yang di lempar Baron tadi.


"Sepuluh menit dari sekarang jika kau terlambat satu menit maka kau akan tau akibatnya." Ucapnya tanpa menoleh sambil terus berlalu.


Dan sontak ucapannya tersebut membuat Renata tersadar dari lamunannya dan dengan secepat kilat ia segera masuk ke Kamar mandi di rumah tersebut.


Dan benar saja setelah selesai, membersihkan tubuhnya Renata langsung masuk ke kamar, di sana sudah ada Baron yang sudah menunggu nya.


"Good, girl…akhirnya kau datang cepat juga apa kau benar-benar sudah tidak sabar ya melakukan malam pengantin kita" seringainya


membuat Renata berkeringat dingin membayangkan tubuh mungil nya akan remuk kembali jika melayani nafsu suami barunya itu.

__ADS_1


__ADS_2