
Sampai kapan kau akan mengurung ku seperti ini.?" Amara benar-benar merasa kesal atas apa yang dilakukan Darandra kepadanya, seharian ini la telah mengurungnya hanya di dalam kamar saja, dan sesekali ia akan terus melayani gairah suaminya itu.
"Apakah,, kau lupa kalau ini adalah sebagian dari hukumanmu. Bukankah aku mengatakan Aku akan menghukummu.?"
"Oh,, ya! ampun, tapi tidak dengan begini juga kan? kau tahu badanku sekarang sakit semua dan bahkan aku_" Amara menjeda kalimatnya karena merasa malu untuk mengatakan Apa yang dirasakannya saat ini yaitu rasa panas dan perih di area sensitif nya
"Kamu kenapa diam?"
"tidak! lupakan, aku tidak apa-apa."
dasar gadis yang aneh, Apa kau ingin makan sesuatu?"
"Iya aku ingin makan aku sangat lapar.
"Baiklah, kalau begitu tunggulah di sini. Aku akan masak sesuatu untukmu."
"Tidak! aku ingin ikut saja boleh,"
"Aku bilang tunggu ya, tunggu! kenapa kau tak pernah mau menurut kata-kataku! kau ingin saja membantahku." Ucap Darandra datar dengan menatap Amara dengan tatapan tajamnya. Dan lagi-lagi Amara hanya akan menurutinya saja. Setelah Darandra pergi tiba-tiba saja teleponnya berdering.
📲Drt Drt Drt
Amara pun melihat Siapa yang menelpon nya.
"Kak Renata" Gumamnya lalu mengangkat panggilan tersebut.
''Halo Kak apa kabar dan kau sekarang ada di mana Kakak sekarang ada di rumah sakit Ra Kamu tahu kan Bara sedang dioperasi tapi alhamdulillah semuanya sekarang baik-baik saja.
"Ya ampun Kak, Lalu bagaimana keadaannya kakak Apakah baik-baik saja dan kakak?" "Kakak baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir Kakak menelponmu hanya ingin ingin bertanya apakah kamu mau bekerja di Cafe tempat kakak bekerja selama ini?" "memangnya kenapa Kak?"
"itu katanya bosnya cari karyawan baru lagi. Tadi temen Kakak sempat nelpon."
__ADS_1
"Yang benar Kak, baiklah sepertinya akan aku pertimbangkan karena aku mungkin lebih baik bekerja di Cafe tempat kakak daripada aku menjadi asisten di klinik darandra."
"Apa? kau jadi asisten di klinik Darandra?"
"Iya,, Kak, dia pria yang begitu menyebalkan dia hanya menyuruhku bekerja dan bekerja serta melihatnya kemesraan nya dengan wanita itu." Kesal Amara mengepalkan tangan nya.
"Oh,, ya ampun Ra, Kasihan banget sih nasibmu."
"Sudah kak,, Kau tak perlu mengasihani nasibku, sekarang aku akan mulai membuktikan kepadanya kalau aku bisa bekerja sendiri bukan di bawah perintahnya!"
"Apa kau bilang cepat ulangi lagi kata-katamu itu!"
Amara yang terkejut, segera mematikan ponselnya secara sepihak, membuat Renata binggung menatap telponnya yang tiba-tiba mati itu.
"Anak yang Aneh belum juga aku selesai bicara" Gerutunya.
dan kini tatapan tajam Darandra kembali mendominasi nya.
"Kau ke-kenapa?" tanya Amara saat melihat Darandra menghampiri nya. Sedang tangannya membawa nampan yang berisi piring Nasi goreng.
Namun entah mengapa tiba-tiba kepalanya begitu sakit membuat Amara harus meringis kesakitan sambil memegang kepalanya. Darandra yang melihat kejadian itu nampak tertegun, namun dengan sigap ia menangkap tubuh Amara yang tiba-tiba saja limbung ingin membentur lantai.
"Amara, Amara, kau kenapa buka matamu Amara buka matamu, kau jangan bercanda Amara.!" Teriak Darandra merasa khawatir.
Dengan cepat dia pun mengangkat tubuh Amara ala bridal style lalu segera membawanya keluar, dari rumah menuju mobilnya Darandra membaringkan tubuh Amara pelan, di dalam mobil, dan ia pun segera melaju menuju rumah sakit.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada mu Amara? ini bukan kali pertama aku melihatmu seperti ini." Darandra yang masih khawatir sesekali akan menatap wajah istrinya itu dari kaca sepion. Nampak Amara masih menutup mata,dengan wajah pucat nya. Lalu la pun menelpon seseorang.
"Tolong periksa istriku!" ucap Darandra pada dokter David yang sudah standby dari tadi karena Darandra telah menelponnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu waktu lama lagi Dokter David pun segera mendorong bangkar yang di mana di atasnya ada tubuh Amara yang masih setia menutup mata itu.
"Dokter!" dokter David yang hendak memasang kan alat infus di tangan Amara begitu terkejut saat Amara tiba-tiba saja menganggam tangannya.
__ADS_1
"Non-Nona Anda?"
"usstt...!" Amara menyimpan satu telunjuknya di bibir, sebagai isyarat agar dokter David diam, dokter David pun mengerti dan menurut saja.
"Dokter, jangan katakan pada suamiku kalau aku itu pura-pura pingsan, dan kau boleh mengatakan kalau aku hanya capek butuh istirahat dan banyak makan yang enak dan Bergizi." Dokter David hanya diam mendengar apa yang di ingin kan pasien nya itu.
"Aku mohon dokter hepl my please." Amara menangkup ke dua tangannya, membuat dokter David tertegun, setelah itu dokter David pun bergegas ke keluar membuat Amara melongo.
"Dokter itu benar-benar brengsek dia tidak mau membantuku!" kesal Amara.
"Kau tidak perlu menyumpahi ku Nona, kau sudah menyuruh seorang dokter untuk berbohong, aku sudah melakukannya dan sekarang kau menyumpahi ku, seharusnya Anda itu berterima kasih karena Anda telah membuat saya harus melanggar kode etik kedokteran."
Amara hanya tersenyum kaku, dan merasa serba salah,
"Maaf" hanya itu yang bisa dia ucapkan, dokter David pun, tidak menangapi ia memilih pergi meninggalkan Amara yang masih tertegun menatap punggung dokter David yang menghilang di balik pintu.
Ceklek.
Suara pintu yang terbuka membuat Amara kembali berpura-pura menutup matanya.
Darandra berjalan mendekati Amara dan duduk di sisi pembaringan nya.
"Ra, kau harus cepat sadar di luar ada Jelita sama Arjuna, bahkan Momy Dan Dara, juga mau bertemu denganmu, aku minta maaf dan tidak akan membuatmu kecapean lagi, dan kamu boleh bekerja di mana saja yang kau mau asal kau cepat sadar dan cepat sembuh."
"Benarkah aku boleh kerja dimana saja?" tanya Amara keceplosan membuat Darandra terkejut dan membulatkan matanya.
"A-aku sekarang ada di mana?" tanya Amara gugup, Darandra pun langsung memeluknya dengan erat Amara dan mencium seluruh wajahnya.
"Terima kasih sayang, kau sudah sadar kau tau aku sangat khawatir sekali."
"Sayang? kau memanggil ku sayang?" senyum Amara pun merekah.
__ADS_1
"lya Karena kau tau apa yang di katakan dokter David, dia mengatakan kalau kau tidak akan bangun, sebelum mengabulkan keinginan mu dan aku harus memberikan kata-kata yang manis untuk mu. Momy dan Dara pun marah karena aku membuatmu seperti ini, sekarang kau harus menjelaskan pada mereka kalau aku sangat-sangat menyayangi mu."
"Dasar sial aku kira dia tulus"