Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Apa yang Kau lakukan disini?


__ADS_3

Amara menoleh ke belakang melihat Siapa orang yang memegang pundaknya, dia begitu terkejut saat seseorang memanggil namanya hingga membuatnya seketika menghentikan tangisnya.


"Jhony Kau, Apa yang kau lakukan di sini,? tanyanya sambil mengelap ingusnya yang keluar.


"Kamu sendiri, ngapain Di Sini sambil menangis? Apa ada yang menyakitimu?" "Jangan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan nggak baik, aku yang bertanya duluan."


"Iya, Iya bawel amat sih, setelah menikah kenapa kau Tambah bawel?"


"Yang benar saja, menurutku sih biasa aja, nggak ada yang berbeda dan berubah," Sangkal Amara.


"Iya itu kan menurutmu,"


"Eh, kau sendiri belum menjawab pertanyaanku Ngapain kau di sini?"


"Aku kebetulan lewat saja, dan melihatmu di sini jadi, aku turun siapa tahu saja kamu melompat turun ke danau untuk mengakhiri hidupmu, Aku akan datang sebagai penolongmu."


"Dasar kau Jhon, untuk apa juga aku ingin bunuh diri,?" Ucap Amara sambil mendelik.


"Aku kan cuma bilang siapa tahu aja kan, ada si setan merah yang menggodamu."


"Setan merah? Apa lagi itu,?" Tanya Amara menatap heran.


"ltu loh yang suka membuatmu marah seorang yang tampan, tapi selalu membuat marah itu dibilang setan merah," Canda Jhony.


"Kau ini ada-ada saja, tapi lucu juga sih, Kau bisa menghiburku," Amara pun tersenyum tipis dan itu sempat di lihat oleh Jhony.


"Baguslah, kalau kau bisa merasa terhibur jadi kedatanganku tidak sia-sia, dan sekarang Jawab pertanyaanku kau sendiri lagi ngapain di sini,?"


"Kenapa kau harus bertanya kalau kau Sendiri tahu untuk apa orang datang ke sini?"


"Orang datang ke sini kan punya maksudnya masing-masing."


"Ya mungkin Aku salah satunya, Aku datang ke sini itu untuk menenangkan pikiran, ingin bersantai, ingin menghilangkan stres,"


"Aku tidak menyangka kalau kau bisa stres,

__ADS_1


Sudah sore, Apa kau tak ingin pulang nanti suami kamu nyariin loh." Amara hanya tersenyum miring mendengar perkataan Jhony.


"Suami, mencariku? yang benar saja, Kau tau aku akan menjadi istri yang paling bahagia di dunia jika suamiku mencari ku,"


"Kalau begitu ikut aku," Ajak Jhony.


"Kemana aku masih ingin disini," tolak Amara.


"Oh, ayolah,"


"Ta-tapi..." Jhony lebih dulu menarik tangannya lalu membawanya masuk ke mobil, Jhony pun segera melesat meninggalkan tempat tersebut.


"Katakan padaku kita mau kemana? atau jangan-jangan kau mau menculikku dan meminta tebusan."


"Kau itu akan aku buang ke pantai biar dimakan Hiu, lagi pula pada siapa aku minta tebusan suamimu itu sudah bangkrut, dan Kakak mu sendiri sudah membuangmu," Amara langsung menunduk sedangkan wajahnya terlihat sendu.


"Maafkan aku kalau kata-kata ku salah," Jhony merasa bersalah dengan apa yang di ucapkan nya.


"Tidak apa-apa kau benar, aku saja yang terlalu baper,?" Amara kembali menyunggingkan senyumnya.


"Pantai? kau benar-benar membawaku kesini?"


"Tentu saja, sekarang ini adalah tempat yang paling aman untuk mengeluarkan isi hatimu tidak akan ada yang mendengar mu kecuali angin dan deburan ombak itu, biarkan angin membawa pergi kesedihan mu dan biarkan ombak menggulungnya pergi dan mengubahnya menjadi buih, sekarang cobalah," Amara menatap Jhony, lalu menggangguk la pun segera melangkah agak menjauh dari Jhony.


"Jangan terlalu jauh nanti kau basah!" teriak Jhony.


'Darandra, kau tau aku membencimu karena aku tidak suka dengan sikapmu yang acuh pada ku, kau suami yang tidak punya perasaan, aku membencimu!'


Amara terus berteriak, mengeluarkan rasa yang menghimpit di dada nya, hingga tanpa mereka sadari malam mulai turun menyelimuti senja, setelah merasa puas Amara pun datang menghampiri Jhony.


"Terima kasih Jhon, kau sudah membawaku ketempat ini," Amara berucap sambil memeluk Jhony, sedangkan Jhony juga membalas pelukannya itu dengan menepuk-menepuk lembut punggung Amara.


"Ayo kita cari makan setelah itu aku akan mengantar mu pulang," Ajak Jhony kembali setelah Amara mengurai pelukannya, Amara pun menggangguk menyetujui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu Renata terus saja mengajak Baron untuk berbicara karena semenjak pulang dari rumah sakit Baron lebih memilih mendiaminya, Daripada harus marah-marah Dan Renata benar-benar tidak suka itu.


"Sayang apa kau masih marah padaku,? ayolah sayang, kau jangan diam seperti ini, aku tidak menyukai nya," Renata mencoba mendekati suaminya bahkan kini la memberanikan diri untuk memeluknya, namun di luar dugaan Baron menghempaskan tangannya.


"Jangan pernah sentuh aku, jika kau saja masih berani mencari lalaki itu dan rela meninggalkan Bara"


"Sayang bukan kah aku sudah menjelaskan nya, tu-tunggu dulu jangan bilang kau cemburu makanya jeles,"


"Si-siapa yang cemburu? dengarkan aku, aku sangat mencintai Lisa, jadi untuk apa aku cemburu, lagi pula sebentar lagi kita berpisah kau jangan lupa itu," Baron memilih pergi meninggalkan Renata daripada terus menahan hasratnya untuk ingin menyentuh wanitanya itu, bagai mana tidak sejak dia berusaha mendiamkan Renata, namun Renata terus saja berusaha untuk terus mendekat bahkan menggodanya, dengan suara manja juga kemolekan tubuh nya.


'Ck, sial kenapa aku selalu tidak bisa menahan diriku untuk tidak terpancing wanita itu benar-benar membuatku tidak berdaya, lebih baik malam ini aku tidur di kamar Bara saja.'


Fikir Baron dan bergegas mencari Bara di kamarnya,


Sedangkan Renata masih membeku di tempatnya, saat mendengar kata-kata Baron tadi, tak terasa buliran bening kembali jatuh di pipinya la merasa begitu malu mendapat penolakan dari suaminya itu.


"Kau harus kuat Ren, jangan cengeng hanya untuk sesaat saja kau merasa sakitnya setelah itu mari pergi meninggalkan kenangan," Renata terus saja berusaha menguatkan dirinya agar tidak kembali lemah,


"Mungkin aku harus menutup perasaan ku agar aku tidak terlalu merasakan sakitnya dan sebelum ini terjadi sebaiknya aku harus pergi menjauh dari Mas Baron, tapi aku harus kemana?" Renata terus saja berbicara pada dirinya sendiri hingga ia pun berfikir akan tidur di kamar Bara saja hari ini.


Ceklek.


"Sayang kok, anak Bunda belum tidur,?"


"Bunda, tadi Ayah datang mau menemani Bala bobok, tapi Ayah pelgi dulu karena tante Lica telpon, jadi Bala di culuh bobok cendili dulu kata Ayah nanti balik lagi kecini."


"Oh ya, jadi Bunda terlambat dong, padahal Bunda baru saja mau tidur dengan Bara, kalau begitu Bunda pergi dulu okey"


"Jangan...! Bunda di cini aja ya, karena kalau Ayah pasti lama" Renata pun berfikir sejenak, sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di kening, dan itu di saksikan Bara dengan wajah polosnya berharap kalau bundanya akan menemaninya malam ini.


"Hmmm... baiklah, Bunda akan tidur disini,"


"Telima kacih Bunda, Bala cayang Bunda"


"lya sayang, Bunda juga."

__ADS_1


__ADS_2