
Pagi.
Baron mengerjap mata saat merasa sebuah tangan halus membelai wajahnya, Baron pun meraih jari jemari lentik itu lalu menciumnya dengan lembut, walau sara kantuknya berat la masih berusaha untuk membuka sedikit matanya sambil tersenyum.
"Hei Selamat pagi sayang," ucapnya lembut pada Renata yang juga menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Apa kau tidak akan bangun untuk bekerja?"
"tentu saja aku akan pergi tapi tunggu sebentar lagi, lagi pula aku akan ke kantor agak siang," Timpalnya.
"Kalau begitu bangunlah dulu temani aku untuk sarapan," Baron membuka matanya lebar menatap dekat wajah di depannya itu lalu ia pun mengerutkan kedua alisnya.
"Sayang apa aku tidak salah dengar kau mengajakku makan maksud ku, kau meminta ditemani untuk sarapan tumben,?"
"ya sesekali aja kan tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa," Renata pun hendak pergi dari tempat.
"Hei apa kau masih marah padaku,? Ucap Baron sambil menarik tangan Renata hingga Renata pun terjatuh tepat di atas dada Baron, Dan membuatnya sedikit menjerit.
Brugh.
"Jangan lakukan ini, nanti ada yang datang." "Kau belum menjawab pertanyaanku dan Kenapa hari ini aku tak mendengar kau memanggilku sayang Apa kau benar-benar masih marah padaku,?" Baron bertanya tanpa mempedulikan perkataan Renata.
"Seharusnya aku yang akan bertanya seperti itu, karena Aku tidak akan punya hak lagi untuk marah padamu, dan untuk panggilan sayang aku rasa sebaiknya aku, maksudku sebaiknya kita tidak melakukannya lagi."
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" "Tidak ada yang salah menurutku tapi, setidaknya kita harus bisa saling menjaga ucapan karena Bukankah Sebentar lagi kita akan berpisah? Aku tidak mau panggilan itu akan terus melekat pada Dirimu dan diriku, aku juga berterima kasih padamu karena telah mengabulkan keinginanku selama satu bulan kau membuatku merasa jadi orang yang memiliki cinta yang merasa Ingin Dimiliki oleh orang yang sangat dicintainya walau semua itu hanya pura-pura saja."
Renata menjeda kalimatnya saat kepalanya bersandar lembut di dada bidang milik suami nya itu, sedang tangan Baron mulai mengelus rambutnya yang tergerai.
"Aku berharap jika aku Tiada Berbahagialah, jangan lupa untuk selalu memperhatikan Bara,"Renata berusaha bangkit dari tubuh Baron namun Baron memeluknya dengan begitu erat seperti enggan untuk melepaskannya.
"Kau,, jangan bergerak, karena nanti bisa bahaya, kau akan susah mengendalikannya kalau dia sedang terbangun" bisik Baron di telinga Renata, membuat Renata meremang.
"Kau apa-apaan sih," Kesal Renata memukul pundak Baron sedangkan Baron hanya terkekeh melihat Renata yang menahan malunya."
__ADS_1
"Biarkan seperti ini dulu, Biarkan Aku Memelukmu sebentar saja, aku ingin menikmati aroma tubuhmu, Karena setelah kita berpisah mungkin aku tidak akan bisa merasakan bahkan menghirup aroma tubuhmu," Baron menatap wajah wanitanya itu sambil mengelus lembut wajah halus Renata, Renata memejamkan mata berusaha menikmati sentuhan itu.
"Kau jangan berkata seperti itu, kau kan punya Lisa dia pasti tahu caranya untuk memberikan yang terbaik untukmu, sekarang lepaskan aku, Aku mau pergi kerja, kalau kau tidak ingin menemaniku sarapan aku akan sarapan di cafe saja," Renata tak ingin terbawa suasana la memilih untuk menyudahi sebelum semuanya terlambat.
"Ya,, sudah tunggu, aku akan segera menyusulmu" Baron pun segera melepaskan pelukannya sedangkan Renata bergegas bangkit dari tubuh suaminya itu Ia pun segera beranjak keluar meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan yang susah ia tafsirkan, Renata Melangkah dengan lesu memasuki dapur dan menyiapkan makanan untuk dirinya dan suaminya sedangkan mertuanya sejak tadi pergi mengantarkan Bara untuk ke sekolah padahal Renata sudah melarangnya karena dia belum terlalu sembuh tapi Bara tidak ingin hanya di rumah saja dia ingin segera bertemu kawan-kawannya di sekolah.
"Apa sudah siap tanya Baron begitu masuk dengan penampilan nya yang sudah rapi. "Semuanya sudah siap kok, tinggal nunggu kamu aja."
"Ya sudah, ayo kita sarapan," Ajak Baron.
'Maafkan Aku Mungkin ini sarapan terakhir kita, Aku harap kau bisa terus bisa sarapan pagi bersama istrimu kelak'
"Ren,, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, tapi seperti nya Kau buru-buru dan sibuk Lain kali saja."
"Sebaiknya kau bicarakan itu sama ibu jangan padaku, karena aku mengerti apa yang akan kau bicarakan ini pasti tentangmu dengan Lisa kan?"
"Iya maaf maksud aku tidak bermaksud_" "tidak perlu minta maaf Bukankah sejak awal aku mengetahui semuanya," Selanya memangkas kalimat Baron.
"Uhuk uhuk uhuk" mendengar itu semua membuat Renata tersedak Baron pun dengan sigap memberikan nya air minum.
"Pelan-Pelan saja kalau makan"
"Maaf..." Baron mengusap lembut punggung wanita nya.
"Aku kan sudah bilang, kau tidak perlu minta maaf padaku, cepat atau lambatkan kalian memang harus menikah karena Bara juga butuh ibu kandungnya, Tapi sebaiknya Bicaralah pada ibu pelan-pelan saja, aku yakin Ibu pasti akan mengerti, karena ini demi kebahagiaan Bara." lmbuhnya melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda.
"Sekarang aku baru tahu kenapa Bara begitu menyayangimu Bahkan dia rela menunggumu Di saat dia tahu kalau kau sedang sakit karena kau Ibu yang selalu mementingkan kebahagiaan Bara."
"Semua ibu pasti akan melakukan hal seperti itu begitupun dengan Lisa yang notabene adalah ibu kandungnya, dan Bara pasti akan merasa jauh lebih bahagia ketika Lisa bersamanya, Tapi kau jangan pernah lupa untuk memberikan perhatianmu pada Bara, Kau adalah ayahnya berikanlah yang terbaik untuknya dengarkan apa yang dia inginkan."
"Baiklah aku sudah selesai apa kau mau lagi?" "Tidak aku sudah kenyang baru saja baru Baron ingin berdiri dari duduknya tiba-tiba saja teleponnya berdering.
📲Drt...Drt...Drt...
__ADS_1
"Dari siapa?"
"Dari Tuan tumben pagi-pagi begini menelpon"
"Coba diangkat dulu, siapa tahu penting," ujar Renata.
"Ya Tuan iya apa selama satu minggu ya siap Baiklah oke Tuan baiklah," setelah mematikan panggilannya Barom menatap Renata, Entah mengapa hatinya begitu merasa sedih hari ini, seolah ia dan Renata akan berpisah untuk selama-lamanya.
"Kau kenapa menatapku seperti itu.?"
"Tidak aku hanya-aku hanya Mau mengatakan satu minggu kedepannya Aku tidak akan pulang ke rumah karena ada tugas di luar kota bersama Tuan Damara, dan sorenya kami akan berangkat, dan aku, ntah kenapa Kalau perasaanku mengatakan Sepertinya kau akan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Deg.
Jantung Renata pun berdegup dengan kencangnya.
"Kau ini ada-ada saja, Ya jelaslah kau akan menikah sebulan lagi, otomatis kita akan berpisah kan?"
"Baiklah mungkin seperti itu, Aku titip Bara sama kamu selama satu minggu,"
"dan setelah kau pulang aku ingin kita segera berpisah" ucap Renata dengan berat karena merasa menahan sesak di dadanya.
"Kenapa terlalu cepat sekali kita kan masih punya waktu, atau kau sudah tidak sabar ingin berpisah denganku?"
"kau jangan terlalu Naif, cepat atau lambat itu pasti terjadi, kita akan tetap berpisah"
"Baiklah terserah, apa maumu aku akan mengabulkannya, Tapi kau jangan khawatir aku sudah mempersiapkan tempat tinggal untukmu, Dan aku berjanji akan selalu memberikan santunan untukmu juga."
"Kau tidak usah repot-repot, lagi pula aku tidak membutuhkan semua itu karena mungkin aku tidak akan tinggal di sini lagi, maksudku di negara ini, lagi pula aku kan pernah meminta sesuatu padamu, satu permintaan dan kau sudah berjanji akan mengabulkannya."
"Iya aku masih ingat dan tidak akan pernah lupa kok, sekarang Katakan saja apa yang kau inginkan?"
"belum saatnya, tunggulah jika saatnya tiba."
__ADS_1