
"Lebih baik kau makan dulu, karena aku lihat kau dari tadi belum makan apapun, bukankah aku menyuruh mu untuk makan bersama tapi kenapa kau tidak datang,?"
"Karena aku tak ingin makan dan belom ingin makan Mas," jawab Renata tanpa ingin menatap Restu, walau la merasa di acuhkan Restu tetap menghadapi Renata dengan sabat.
"Kalau kau hanya menghindariku, sebaiknya kau makan demi anakmu! Jangan pikirkan hal lain selain anakmu, Kasihan dia. Apa kau ingin dia juga menahan kelaparan di dalam sana dan sana."
mendengar apa yang diucapkan Restu tentang anaknya membuat Renata tersadar, tidak ada gunanya ia harus menahan lapar.
"Aku tidak melihat Amara ke mana dia?"
"Dia ada di ada Kok. Sebentar lagi ke sini kok, aku menyurah untuk menemanimu dulu sebelum ada Bibi datang untuk menemanimu di sini."
"Apa maksudmu Mas? aku tidak mengerti aku tidak ingin tinggal di rumah ini, aku akan mencari kontrakan di tempat lain mungkin lebih dekat dari Cafe, biar aku tidak terlalu capek untuk berjalan, selain itu bisa menghemat biaya," Restu tersenyum tipis mendengar ucapan Renata karena dia tidak menyangka wanita yang dulu selalu mendambakan harta kini malah hidup sederhana dan itu membuatnya nampak jauh lebih dewasa.
"Aku salut padamu ternyata setelah kita berpisah kau jauh lebih berubah, Kau Berubah jauh lebih baik, Seandainya saja kita bisa__" "Stop mas aku tak ingin membahasnya lagi," ujar Renata karena dengan Restu membuka kembali masa lalunya yang penuh dengan luka dan air mata itu.
"Baiklah Maafkan Aku, aku berjanji tidak akan mengungkit masa lalu kita lagi jika kau memang tidak menginginkannya, tapi kau harus itu tetap tinggal di rumah ini, karena rumah ini adalah milikmu."
"Apa milikku? tidak Mas kau sengajakan menyuruhku tinggal di sini dan setelah itu kau akan__"
"Tidak Renata, aku tidak ada maksud lain selain ingin memberikan hakmu aku benar-benar hanyabingin membantumu saja, dan ini surat-surat kepemilikan rumah ini atas namamu, juga cafe yang tempatmu bekerja, semuanya atas namamu''
kembali Renata membulatkan matanya mendengar apa yang dijelaskan Restu serta surat-surat yang di dalam sebuah file berwarna biru.''
"Ka-kamu gila Mas,?"
"Ck, Aku tidak gila Ren, ini adalah pemberian Atika," Ujar Restu sambil berdecak
"Atika? Tapi kenapa Mas? kenapa dia harus memberikan semua ini padaku?"
__ADS_1
"Dia memberikan 50% kepadamu untuk anak-anak 50 sedangkan aku punya sendiri hanya saja selalu menutupinya Restu mulai ceritakan satu-persatu kisah nya hingga permintaan mendiang istrinya,
"Aku Hanya ingin menyampaikan amanah dan permintaan mendiang lstriku." Ujar Restu
"Atika berharap kita kembali bersatu untuk mengurusi anak-anak, tapi jika kamu tak ingin juga tidak apa-apa, karena mungkin di hatimu kini sudah tidak ada rasa cinta lagi untukku, "Maafkan Aku yang selama ini selalu membuatmu terluka, tapi ketahuilah Aku tidak ingin melihat lelaki lain melukaimu mulai saat ini jika itu terjadi maka jangan salahkan aku jika aku akan menghukumnya bukan sebagai mantan suami tapi sebagai teman Apakah kau mau berteman denganku tanya Restu melirik Renata sambil sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Jika dulu sebagai suamimu aku selalu melukai, dan menyakitimu, tapi sekarang sebagai temanmu Aku tidak ingin ada seorang pun yang melukai dan menyakitimu, Aku harap kau tidak menolak keinginanku ini, karena ini adalah jalan satu-satunya untukku aku ingin menebus rasa salah dan dosaku padamu di masa lalu."
Renata hanya terdiam merenungi setiap bait kata yang keluar dari mulut Restu sambil menatap manik mata lelaki yang pernah menjadi suaminya itu, ia ingin mencari kebohongan di dalamnya namun sayang dia sama sekali tidak mendapatkannya.
"Baiklah Mas, Jika kamu ingin kita hanya berteman aku setuju, tapi kamu berjanji tidak akan macam-macam karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita apalagi jika orang-orang melihat kita,"
"kau tenang saja aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu, sebaiknya sekarang kau makanlah dulu"ujar Restu lalu berjalan keluar dari tempat Renata karena ia tidak mau membuatnya canggung."
Namun baru saja ia ingin meraih handle pintu
"Ada apa Ren,?" tanya Restu bingung
"boleh aku bertemu dengan anak-anak?" tentu saja boleh, kapan kamu ingin?"
"Kapan saja yang kamu bisa membawanya untukku"
"Benarkah kamu ingin bertemu dengan anak-anak?" tanya Restu kembali karena masih setengah percaya sambil melangkah kembali mendekati Renata dengan dekatnya.
"Aku ingin bertemu dengan mereka, aku ingin memeluk mereka, Walau sekali saja Sebelum aku pergi dari..."
"Stop jangan berkata seperti itu lagi?" Restu memberi isyarat dengan menyimpan satu telunjuk di depan bibir Renata membuat Renata menatapnya begitu lekat.
"Ren, kau tahu aku tidak suka mendengarnya? Kau pasti bisa sembuh aku akan membawa berobat Dimanapun kau mau atau bisa ikut denganku pulang ke Singapura untuk sementara anak-anak akan aku tinggalkan di sini"
__ADS_1
"ikut denganmu? tapi Jika suamimu tidak ingin bertanggung jawab Maka ikutlah denganku ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sana Tapi itu tidak apa-apa kok paling hanya beberapa bulan saja aku tinggal di Sengkang, nanti aku akan membawamu ke rumah sakit Sengkang saja.
"Tapi, Mas aku..."
"Aku tau kau masih ragu" Restu meraih kedua tangan Renata.
"Percayalah padaku kali ini aku berjanji tidak akan, menyia-nyiakannya kepercayaan dan kesempatan yang kau barikan padaku." Renata hanya tersenyum canggung, saat dia begitu terlalu dekat dengan mantan suaminya itu.
"Boleh aku memelukmu sekali saja, tapi kalau kamu tidak mau tidak apa-apa" pintanya Renata hanya mengangguk kecil sebagai tanda mengiyakan, tentu saja apa yang ditunggu tidak disia-siakan oleh Restu, Ia pun segera meraih tubuh Renata lalu memeluknya dengan lembut.
"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih karena kau mau menerima permintaan maafku dan memberikanku kesempatan untuk memelukmu, walau hanya sesaat, seandainya dulu aku tidak menyia-nyiakanmu mungkin aku adalah lelaki yang paling berbahagia di dunia ini.
Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat untukku. Mungkin ini adalah sebagian kecil hukuman yang telah Tuhan berikan padaku karena telah menyia-nyiakanmu,"
"sudah lah Mas, semuanya sudah berlalu Aku sudah memaafkanmu aku juga banyak salah selama ini padamu, sebaiknya sekarang kita melupakan semuanya demi anak-anak,"
"kau benar sekali Ren, kita harus melupakan semuanya demi anak-anak, kalau begitu aku pamit pergi dulu Jaga dirimu baik-baik di sini kalau ada apa-apa cepat hubungi aku nomorku masih sama seperti yang dulu aku tak pernah gantinya, Karena aku berharap suatu saat kau menelponku dan memintaku untuk menjemputmu," Ucapnya sambil mengurai pelukannya.
"Baiklah aku pergi dulu ya" Restu pun segera berbalik meninggalkan Renata yang masih berdiri menatap punggung pria yang dulu selalu dipeluk nya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayya...hayya...🤗 jangan lupa ikuti juga cerita Author yang satu di bawah👇ini ya cantik manis😍😘
Menikah dan membangun rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan merupakan impian setiap orang. Begitu pun dengan Tsamara Asyifa Gibran. Namun, bagaimana jadinya bila sang suami tidak pernah sekalipun mencintai wanita itu dan belum bisa move on dari mantan kekasih?
Akankah Tsamara terus mempertahankan rumah tangganya bersama Bimantara atau malah membuka hatinya untuk Yudistira?
__ADS_1