Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kalau Perempuan marah.


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, aku tak menyangka kau menyempatkan diri untuk datang di tempat sederhana ku ini, Aku sangat merasa tersanjung sekali."


"Kau bisa aja Ren, aku bosan dirumah hanya berdua dengan si kecil ya sekalian aku suruh Damara saja mengantar kan aku kesini, lagi pula aku juga baru sempat menjengukmu waktu itu aku langsung pulang, karena masih ada si kecil." Terang Jelita melirik babyi Ar, yang masih tertidur lelap di pangkuannya.


"Apa boleh aku menggendongnya?" tanya Renata saat melihat baby Ar, yang sangat menggemaskan itu.


"Ya tentu saja boleh, kenapa tidak." Jelita pun menyerahkan sang bayi pada Renata, dan Renata pun meraih sang Bayi lalu mencium wajahnya dengan gemas.


"Sayang,, kamu lucu sekali, kamu sangat menggemaskan." Renata terus saja menimang bahkan sesekali mencium dan mengajak Baby Ar, untuk berbicara. Jelita yang melihatnya pun nampak terus menyunggingkan senyumnya.


"Lihatlah putramu ini kenapa dia begitu mirip sekali dengan Daddy-nya,"


"lya kau benar sekali, aku sudah capek mengandung dia malah mirip dengan Damara." Sela Jelita, menimpali. Mereka berdua pun pada akhirnya terkekeh bersama.


"Baiklah sekarang kamu mimiq dulu sama Mamy ya sayang, ump__"


"Tunggu! kenapa kau mau menciumnya?," seru dua Pria yang baru masuk secara bersamaan.


"Kalian? kenapa kalian cepat sekali kembali?" ujar Jelita dan Renata juga secara bersamaan.


"Sayang,, jangan menatapku seperti itu."


Ucap Damara, mendekati istrinya yang memberinya tatapan intimidasi.


Sedangkan Baron juga merasa tercekat, saat melihat tatapan Renata yang seolah akan Menelanjanginya.


"Lepaskan aku! kamu apa-apaan sih? bikin malu saja!" ketus Jelita.


"Sayang aku hanya merindukanmu, ayo kita pulang dengan Baby Ar."


"Sayang kau kenapa, tiba-tiba saja ingin pulang aku kan baru saja di sini dan aku tak terima kau melarang Renata mencium baby Ar...!"

__ADS_1


"Dengarkan aku sayang Baby Ar, itu kan anakku, dan dia juga mirip denganku,, apa kau mau saat Renata mencium baby Ar, itu berarti,sama saja ia seperti akan memciumku, yang membedakan adalah Aku versi kecilnya."


"Sayang kau.! mana bisa seperti itu kau ada-ada saja." Kesal Jelita mendengar penuturan suaminya tidak masuk akal itu.


"Dan kau sayang ada apa kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Baron gugup


"Kenapa juga kau datang tiba-tiba dan melarang ku mencium Baby Ar, hemm?"


"It-itu sayang, aku...aku sependapat dengan apa yang di katakan T-tuan Damara, tadi."


"Kalian ini keterlaluan, ada-ada saja." Gerutu Jelita dan Renata melengos dan memilih meninggal kan para lelakinya, jika Jelita memilih keluar rumah dan masuk mobil, maka lain halnya dengan Renata memilih masuk dikamar dan membanting pintu.


Bruaakk...


"Ya ampun, kebangetan banget sih kalau perempuan lagi marah, untung jantungku kuat jadi tidak copot huuuf." Baron mengelus dadanya karena terkejut mendengar bantingan pintu yang begitu kencang.


"Tapi bagaimana caranya masuk kalau dia lagi marah, seram juga sih." Baron bergidik ngeri, setelah berpikir cukup lama dan mencari akal akhirnya Baron pun terpaksa mengetuk pintu dengan pelan.


Tok tok tok tok tok tok...


"Sayang,, apa kau ada di dalam? kalau kamu ada di dalam aku akan masuk, tapi Kalau kau tidak ada maka aku akan masuk juga!"


mendengar tak ada jawaban sama sekali, Baron pun memberanikan diri untuk membuka pintu pelan-pelan, setelah berhasil membuka pintu la tidak langsung masuk, la nyembul kepalanya terlebih dahulu, sedang matanya menyapu ke dalam seluruh ruangan untuk memastikan Renata ada atau tidak, dan nampak seluit wanita.


Tengah terbaring di atas tempat tidur, sedangkan seluruh tubuhnya tertutup selimut. Baron pun melangkah masuk lalu Mengunci pintu, ia berjalan menghampiri di mana Renata sedang berbaring tertidur. "Sayang,, Apa kau sudah tertidur?"


"Iya sudah!" Jawab Renata tanpa sadar.


"Kalau kamu udah tidur kok masih bisa menjawab sih?"


"Ya ampun Kenapa juga aku menjawabnya

__ADS_1


Padahal tadi aku rencananya ingin ngerjain Mas Baron supaya dia berpikir aku tuh sedang marah beneran." Monolognya dalam hati merutuki ke bodohannya.


"Sayang,, Boleh aku minta tolong siapkan baju untukku karena aku mau mandi dulu." Pinta Baron. Namun Renata bergeming dari tempatnya karena saat ini ia berusaha untuk mendekap perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit luar biasa.


"Sayang apa kau mendengarku, atau sekarang ini kamu beneran sudah tidur.?" Mendengar tidak ada jawaban dari sang istri Baron Bun segera membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Renata. Dan betapa terkejutnya Ia mendapatkan apa yang terjadi di depan matanya. Terlihat Renata yang Berkeringat dingin menahan rasa sakit. Sedang wajahnya sudah terlihat pucat pasi.


"Sayang Apa yang terjadi padamu? Sayang jangan diam saja. Katakan sesuatu padaku, di bagian mana yang terasa sakit jangan diam saja." Cicit Baron yang benar-benar nampak mulai merasa khawatir.


"Sayang kamu jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok, aku hanya sakit perut jika hendak datang bulan, bohong Renata sambil terus meremas perutnya yang terasa sakit.


"Apa iya perempuan kalau akan datang bulan sesakit ini?" tanya Baron penasaran. Karena menurut pengetahuan nya dulu Lisa tidak pernah mengalami hal seperti Renata sekarang ini.


"lya sayang,, tapi itu tidak semuanya. mengalami sepertiku" jawab Renata.


"Maafkan aku Mas aku terpaksa untuk berbohong, Aku tidak ingin mendapatkan belas kasihan hanya karena aku mengidap penyakit Ini. kau tidak boleh mengetahuinya sampai akhirnya aku akan pergi meninggalkanmu. Sebelum semua itu terjadi aku hanya ingin membangun Memori Indah Bersamamu, agar kelak kau bisa mengenang tentang diriku. Meski hanya sedikit saja yang tersimpan di hatimu. Aku ingin kau mengenang ku bukan sebagai orang yang selalu menyusah kan mu tapi aku ingin di kenang sebagai istri yang mencintai, Mas..."


Renata terus saja berbicara dalam hati hingga dia pun tak merasakan apa pun karena kini ia sudah pingsan.


"Sayang,, buka matamu, sayang, sayang!" Baron kini mulai panik saat menyadari kalau Renata ternyata pingsan.


"Ya Tuhan,, kenapa jadi separah ini? tapi apapun itu aku mohon. Cepatlah sadar aku sangat mengkhawatirkanmu sayang, Baron membetulkan posisi tidur Renata, lalu ia pun menyelimutinya. di tatapnya wajah pucat Renata lalu dengan pelan tangannya menyentuh wajah pucat tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang dirasakan dengan hatiku saat ini, yang aku tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, dan apakah hal seperti ini sering terjadi padamu? apa separah ini jika kau akan datang bulan?" Baron hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri, karena ia pun masih bingung kenapa Renata sampai harus pingsan.


"Sebaiknya aku panggil dokter saja. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi padamu." Baru saja Baron Bangkit Dari duduknya untuk melangkah pergi, ia ingin segera menelepon seorang dokter, namun tiba-tiba saja tangan seperti tertahan. Ia pun segera berbalik.


"Sayang kau sudah bangun? baru saja Aku ingin memanggil kan dokter untukmu."


"Jangan Pergi, temani aku!"


"Aku kan hanya ingin memanggil dokter saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa, apalagi kamu harus sampai pingsan kayak tadi.

__ADS_1


"Sayang Percayalah padaku, aku tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu ada di sini jangan tinggalkan aku."


"Sayang kenapa kamu jadi berubah manis seperti ini? atau jangan-jangan kamu__" Baron menjeda kalimatnya karena wajahnya kini begitu dekat dengan wajah cantik Renata.


__ADS_2