
"Hmm...Eng... Susan besusaha mengerjapkan mata ia baru saja bangun dari tidurnya namun tiba-tiba saja ia merasa seluruh tubuhnya seperti remuk redam, bahkan bagian intinya terasa begitu panas dan perih,
'Aku kenapa? Ada apa denganku sebenarnya? kenapa bagian inti ku ah... jangan bilang kalau aku__?' Susan terus bicaranya sendiri dalam hati, bahkan kepalanya masih sedikit terasa pusing pengaruh alkohol semalam, sesaat ia kembali mencoba mengerjapkan matanya perlahan sambil mengingat kejadian semalam, dan benar saja ia menggeleng kan kepala saat dirinya mengingat sesuatu.
'Tidak, ini tidak mungkin terjadi, tidak mungkin kan aku tidur dengan pria yang memberikan aku Minuman itu,?' ucapnya dalam hati dengan jantung yang berdetak begitu kencang saat mengingat apa yang terakhir kali terjadi padanya
Ia meminum semua minuman yang diberikan oleh pria yang baru dikenalnya itu, tanpa berpikir panjang, Karena ia merasa tidak suka melihat Dokter David yang menyuruhnya pergi begitu saja, sedangkan dia asyik bercengkrama dengan seorang wanita yang begitu cantik dan seksi, bahkan penampilannya sangat menggoda iman.
Susan pun membuka matanya lebar-lebar dan hendak bangkit dari tidurnya ketika Ia menatap kamar yang terasa asing baginya.
'Aukh... jadi aku benar-benar tidur dengan lelaki itu? lalu Bagaimana jika aku hamil? Apa dia mau bertanggung jawab padaku? tidak lebih baik aku segera pergi dari sini Aku ingin segera meminum obat pencegah kehamilan agar aku tidak ke bobolan' Susan terus saja merutuki kebodohannya yang teledor karena merasa tidak dipedulikan, Ia mau mau saja diajak mabuk oleh lelaki yang tak dikenalnya itu, bahkan sekarang lelaki itu merenggut kesuciannya yang sudah lama ia jaga yang akan ia persembahkan hanya untuk suaminya seorang.
Susan Pun membuka selimut dan memperhatikan seluruh tubuhnya yang penuh dengan bercak merah, ia pun bergidik ngeri saat kembali membayangkan adegan panasnya semalam walau ia sepenuhnya tak merasakannya sama sekali.
Susan segera bangkit untuk turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana ini masih pagi, bahkan kepalamu juga pasti masih pusing,!"
Deg.
Tiba-tiba suara Bariton seseorang yang mengejutkannya membuat Susan Tercekat bahkan tubuhnya terasa begitu Kaku diam di tempat, tak bisa digerakkan bahkan kini ia merasakan tangan kekar menarik pinggangnya dari belakang dan mendekap tubuhnya begitu erat, bahkan kini ia merasakan sesuatu yang keras sedang menegang di belakang sana.
"Lepaskan aku, k-kau s-siapa,?" gugup Susan bertanya.
"Sekarang kau bertanya aku siapa,? Oh Ayolah Come on, apakah kau sudah tidak mengenal suaraku setelah semalam kau menikmati tubuhku ini,?" ujar David sambil dengan seringainya, mencium dengan lembut tengkuk wanitanya dari belakang.
"Tetaplah seperti ini, dan jangan bergerak Kalau tidak itu akan bahaya," Susan tidak mempedulikan apa yang dikatakan lelaki asing itu, mungkin karena pengaruh alkohol membuatnya tidak terlalu mengenal jelas suara dokter David karena perutnya sudah mulai terasa mual, sedang kepalanya yang semakin pusing, dengan sekuat tenaga la berusaha keluar dari pelukan dokter David karena Ia tidak ingin berlama-lama di tempat tidur, ia ingin segera pergi untuk mencekik Dokter David, karena tidak datang untuknya, untuk menolongnya hingga dia harus berakhir seperti ini, sampai harus tertidur dengan pria asing dan terbangun di pagi hari dengan tubuh yang menjijikan.
"Bukan kah aku sudah mengatakan untuk diam kenapa kau tak mendengar ku,!" kesal dokter David.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan kau masih menginginkan nya, baiklah mari kita melakukannya lagi dengan kesadaran," setelah berujar dokter David membalik tubuh Susan karena pengaruh obat yang semalam belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya itu, untuk itulah ia melarang Susan untuk bergerak, dan di luar dugaan bukannya menolak Susan hanya terdiam menatap wajah laki-laki yang kini begitu dekat dengan wajah nya itu bahkan David kembali memberikan tautannya membuat ke duanya kembali terlena bahkan saat kedua bukitnya itu di sesap begitu dalam membuat otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih.
'Oh...Tuhan apa yang aku lakukan dengannya? seharusnya aku menolak, tapi kenapa aku begitu menikmati semua ini dan, dan dia Dokter David,' Gumamnya dalam hati
Dan saat tersadar akan semuanya Susan berusaha,untuk mendorong tubuh kekar itu namun sayang ia tidak bisa saat merasakan sesuatu yang di bawah sana kini memenuhinya dan entah setan darimana yang kembali menggodanya saat merasakan gerakan lembut yang terus menekannya di bawah sana, membuatnya hampir menggila dengan sensasi nikmat yang kembali menjalari tubuhnya hingga ke ubun-ubun.
"Auhk...ahk...aku, aku mau kel...luar..." ucapnya sambil terbata-bata membuat dokter David mempercepat tempo permainan nya, sedang tangannya menekan tubuh David, hingga.
"Ahhk..." erangan panjang pun kini terdengar dari keduanya, Dokter David kembali menyemai benihnya ntah sudah beberapa kali, kini ia pun menghempaskan tubuhnya di sisi, Susan.
sedangkan Susan memilih memejamkan ke dua matanya ia berharap saat membuka mata ini semua hanyalah mimpi belaka, namun rasa mualnya kembali datang mendera membuatnya mau tidak mau membuka mata untuk segera beranjak dari peraduan.
"Tunggu biar kan aku membantumu," ujar David, saat melihat wanitanya ingin bangkit, namun ia yakin saat ini Susan tengah menahan sakit di bagian intinya.
Namun Susan tetaplah susan yang keras kepala, ia menolak bantuan yang di tawarkan oleh David hingga Dokter David geleng-geleng kepala di buatnya.
"Auh...ahk...its..kenapa sesakit ini sih?" rintihnya.
"Good girl," ujar David saat melihat Susan kini patuh dengan perintah nya.
"Kau tunggu aku, aku akan menyalakan air hangat untukmu" David pun segera bangkit menuju kamar mandi dan mempersiapkan semuanya, tak lupa juga ia memberikan cairan anti septik di dalam air agar tidak jadi peradangan pada kepemilikan Susan.
"Ayo aku akan menggendongmu" ucap David tanpa menunggu jawaban dari Susan yang masih membuang pandangannya, karena David seenaknya saja berjalan di hadapannya tanpa memakai sehelai benang pun di tubuhnya, bahkan sekarang ia berada dalam gendongan pria itu dalam keadaan polos membuat nya menutupi bagian dadanya dengan ke dua tangannya tersebut.
"Untuk apa juga kau menutupinya? bukankah dari semalam aku sudah melihatnya bahkan sudah merasakan semuanya,"
Mendengar apa yang di katakan dokter David membuat Susan menyembunyikan wajahnya yang kini merona dan terasa panas, karena menahan malunya, ntah mengapa, Dokter yang ramah bahkan kadang diam itu berakhir tidur dengannya, namun ia bersyukur tidak
berakhir dengan pria asing itu, masalahnya yang sekarang nanti ia akan membicarakan nya di saat kepalanya sudah berhenti pusing.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu di luar, panggil aku jika kau sudah selesai," Dokter David meninggal kan Susan sendiri saat ia sendiri sudah selesai membersihkan tubuhnya secepatkilat, setelah mereka selesai mereka pun duduk di kursi masing-masing dan saling berhadapan.
"Minumlah ini mumpung masih hangat lain kali kau jangan meminum apa pun dari orang yang tidak kau kenal apa kau faham? karena kesalahan mu itu kita berakhir seperti ini, lupakan kejadian hari ini dan ayo kita akan ke rumah sakit, dan jangan pernah kau mengungkit nya hingga aku memutuskan sesuatu."
Flashback of.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haaaiii...yuk say, sambil nunggu up lagi ikuti juga cerita yang di bawah ini👇 ya! Dan jangan lupa budayakan Like komen vote dan hadiahnya tekan juga tanda love nya, karena apa yang kalian berikan akan membuat Author tetap bisa berkarya...selamat membaca semoga terhibur.😍
Nomor 27
Masihku berdiri dalam penantian yang kau janjikan.
Mencoba tetap bertahan meski ku tahu, aku telah dilupakan.
Masihku ingat, waktu itu kau memintaku untuk melupakanmu.
Kau tahu, saat itu aku meringkuk, meringkih bagaikan janin, tersiksa menahan perih.
Masihkah tak puas kau hancurkanku?
Kau putar kata, seolah perih ini salahku.
Inginku teriak semua janji yang kau ingkari yang membuatku menanti dan kini tersakiti.
Agar kau tahu, seberapa lelah aku akan sikapmu yang tak berperi.
__ADS_1
Dan bila nanti kau tak temui lagi, jangan kau cari, jangan kau sesali.
Karena sesungguhnya saat itu aku benar-benar telah lelah menantimu. Akankah Angel, bertahan menjalani rumah tangganya bersama Veri? Lalu akankah Veri berubah atau pergi meninggalkan Angel, untuk hidup bersama tunangannya?