Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Darimana saja kamu.


__ADS_3

Jelita tak lupa mengucap kan terima kasih atas tumpangan, yang di berikan Jhony.


Ia pun menatap kepergian Jhony hingga mobilnya menghilang di balik ujung jalan.


"Dia bilang apa tadi, ada orang yang sedang menungguku. Hah...! yang benar saja Anak itu benar-benar membuatku binggung apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidupnya, haah...


Tapi aku betul-betul merasa bersalah padanya sekarang." Gumamnya sambil tersenyum sinis, saat mengingat ucapan Jhony tentang ada orang yang sedang menunggunya. Bermimpi pun ia tak pernah.


Jelita mengayunkan langkah kakinya untuk segera masuk, Namun tiba-tiba saja menatap seluit tubuh wanita melangkah beriringan bersama asisten Damara yaitu Rony. Ia pun segera berlindung di bawah sebuah pohon agar bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu.


"Siapa wanita itu sepertinya aku mengenal nya? Hah,,,bukankah dia wanita yang tempo hari berada diruangan itu? lalu kenapa dia kesini lagi jangan-jangan dia Haah...!" Jelita menutup mulut dengan kedua tangannya saat membayangkan yang aneh-aneh terjadi pada mereka.


Tapi setelah memperhatikan Rony tidak mungkin Damara melakukan hal tidak senonoh di depan Asistennya itu.


Tapi mungkin sajakan dia hanya disuruh menjemput wanita itu. Hah...kenapa aku harus memikirkan tentang mereka Jelita-Jelita stop...! Kau jangan bodoh harus memikirkan apa yang telah mereka lakukan, sekarang yang terpenting Fikirkan bagaimana caranya Kak, Darandra bisa membantumu untuk kesembuhan Jelita agar segera terbebas dari belenggu laki-laki menyebalkan itu."


Jelita terus bermonolog dalam hatinya. Lalu ia pun melihat Rony dan wanita itu masuk kedalam mobil dan dengan cepat mobil itu melesat meninggal kan kediaman Damara.


Jelita pun segera keluar dari tempat persembunyian nya, ia pun memantapkan langkah kakinya masuk, dan menuju sebuah kamar yang kumuh sebenarnya dulu sebuah gudang yang tak terpakai, dan Jelita membersihkan nya agar bisa dia tinggali selama tinggal di rumah Damara untuk sementara waktu sebelum akhirnya dia akan berpisah.


Tak tak tak...!


Suara langkah kaki Jelita memecah kesunyian di dalam rumah besar itu, maklum sudah hampir jam 23 malam ia baru sampai, begitu ia melewati ruang utama ia menengok ke kiri dan ke kanan suasana nampak begitu lengang apa lagi para maid sudah pada istirahat.


"Nak, Jelita baru pulang?" tanya Bi, Sumi yang tiba-tiba saja mengejutkannya.

__ADS_1


"Bi, Sum, kau mengagetkan ku!" Cicitnya sambil memegang dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.


Bi, Sumi hanya menunduk hormat merasa bersalah kepada Jelita. Bi, Sumi adalah pengasuh Damara sejak kecil ia baru saja tiba 3 hari yang lalu, dari kampungnya karena suaminya yang beberapa minggu lalu telah meninggal membuatnya harus minta izin pulang kampung.


"Maafkan Bibi Nak telah mengejutkanmu." Cicitnya masih merasa bersalah.


"Sudahlah Bi, Jelita juga yang salah tidak melihat Bibi, oh ya Bi kok sepi, sekali?" tanya Jelita


"Iya Nak semua sudah pada tidur ini Bibi juga mau mengambil air minum di dapur, tapi kebetulan melihat Nak Jelita baru masuk."


Jawab Bi, Sumi,


"Oh ya Bi apa Damara_ mam...maksud Jelita apa Tuan Damara sudah pulang?" tanyanya tergagap karena Bi Sumi juga tidak tahu menahu tentang pernikahan Jelita dan Damara, sedang Bi, Sumi taunya Jelita adalah pembantu baru yang Damara tugaskan untuk menjaga Amara adiknya.


"Sudah Nak, mungkin sekarang Nak Damara juga sudah istirahat karena tadi sebelum Bibi tidur Bibi melihatnya masuk kekamarnya Nak," Terang Bi, Sum lagi.


Jelita meraih kunci' kamar yang dia simpan di dalam slingbagnya kemudian ia pun memasukkannya pada lubang kunci, namun ia sedikit heran melihat pintu kamarnya seperti ada yang membukanya.


"Perasaan sebelum pergi aku selalu mengunci pintu, tapi kenapa pintu ini seperti ada yang sudah membukanya?" Gumamnya berbicara pada diri sendiri sambil tangannya memutar knop' pintu.


Kriiieeet...bugh...ceklek...!


Suara pintu yang terbuka kemudian tertutup.


Baru saja Jelita memutar tubuhnya dari pintu tiba-tiba saja lampu kamarnya menyala dibarengi suara bariton seseorang yang begitu familiar di telinganya.

__ADS_1


Cetek...!


"Dari mana saja kamu kenapa baru pulang jam segini, apa kamu tau sekarang sudah jam berapa!" Sarkas Damara menatap nyalang.


Jelita pun terlojak kaget kembali memegang dadanya. Bukannya menjawab Jelita merengut kesal Karena dua kali ia di kejutkan.


Hari ini ia benar-benar merasa sial,


"Apa mereka ingin melihatku mati lebih cepat apa karena serangan jantung." Gerutunya sambil melangkah tanpa memperdulikan Damara yang masih menatapnya dengan tatapan tajamnya.


"Apa kau berkata sesuatu? aku tidak mendengar mu!" tanya Damara kembali dengan nada suara yang terdengar datar.


Jelita masih tetap diam, tak ingin menjawab karena yang ada di fikiran nya saat ini adalah apa yang di lakukan Damara dengan wanita ****** itu. Dia melangkah dengan gontai bahkan dia sama sekali tak ingin menatap Damara karena ntah mengapa jika menatap wajah Damara hatinya merasa sakit membayangkan Damara telah bercinta dengan wanita lain di belakangnya.


"Apa sekarang kau sudah berubah tuli dan bisu aku dari tadi bertanya kenapa kau tidak menjawab? Oh aku tau apa karena pasangan mesummu itu? yang melarang mu untuk menjawab pertanyaan ku!" Sarkasnya kembali mencengkaram tangan Jelita hingga membuat Jelita meringis kesakitan, sedang di luar sana hujan mulai turun dengan derasnya.


"Lepaskan-lepaskan!" Teriak Jelita.


"Saya tidak tau dengan apa yang Anda tanyakan, jadi untuk apa saya menjawabnya bukankah kita punya privasi masing-masing apa Anda lupa dengan poin-poin yang di dalam surat kontrak itu Tuan, dan apa Anda lupa arti dilarang menyentuh bahkan saling tatap seperti ini? dan saya mohon dengan sangat silahkan Anda keluar dari kamar pribadi saya ini, karena tidak sepantasnya Anda berada dikamar pembantu rendahan seperti saya ini Tuan. Jadi keluarlah dari sini hari ini saya capek, saya tidak ingin berdebat karena itu akan merugikan diri saya sendiri. Cicit Jelita dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Mendengar perkataan Jelita Damara pun melepaskan cengkeramannya, ia seketika terdiam mendengar apa yang Jelita ucapkan.


Dia pun merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan diri setidaknya hingga Amara sembuh, memang benar apa yang dikatakan Jelita, dia berusaha memberikan poin-poin yang memberatkan pada Jelita di dalam surat kontrak tersebut, namun kenapa dia juga yang ingin melanggarnya.


Damara menatap lekat wajah yang begitu terlihat tirus di depannya itu.

__ADS_1


"Kenapa semakin hari hari aku melihatnya semakin kurus dan kenapa aku seperti tidak tega melihatnya menangis seperti ini."


Damara terus bergumam dalam hati ingin rasanya dia menghapus air mata Jelita namun karena gengsinya membuatnya sungkan dan memilih segera berlalu dari kamar tersebut namun tiba-tiba saja.


__ADS_2