
setelah puas menemui ibu dan putranya, Baron melangkah menuju ruangan di mana Renata sedang dirawat. Ia berniat ingin berbicara secara baik-baik pada Renata, karena lbunya sudah menceritakan kepadanya tentang semua kebenarnya. Ternyata selama ini la telah salah menilai wanita yang baru beberapa hari la nikahi itu, dan itu pun atas ke inginan Tuannya, yaitu Damara. Begitu sampai di depan pintu dia melihat seorang perawat keluar
dari ruangan Renata.
"Suster,, maaf, apakah Renata nya ada di dalam?"
"lya Tuan, tapi sepertinya beliau sedang tertidur sekarang, karena tadi beliau sempat meminta obat penenang."
"Apa! obat penenang? jadi Renata minum obat penenang?"
"Iya,, Tuan, karena Nona mengatakan tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena beliau akan sering berteriak dan ketakutan jika sedang tertidur."
"Untuk itulah Nona meminta obat penenang pada Dokter." Baron hanya menunduk terdiam mendengar penjelasan dari perawat itu.
"Apakah sampai separah itu trauma nya?"
Gumamnya dalam hati.
"Baiklah, suster. Biarkan saya masuk ke dalam untuk menemui istri saya." Silahkan Tuan karena kebetulan saya juga mau pergi." Ujar Perawat, menggangguk hormat mempersilahkan Baron masuk."
Baron pun bergegas melangkah masuk, dilihatnya wajah yang begitu tenang yang terdiam dalam tidur nyenyaknya itu. Baron menyingkap anak rambut yang jatuh di wajah Renata.
"Aku tidak tahu, apa yang membuatmu berubah seperti ini? tapi aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan nyawa Putraku, dan aku akan memberikan Apapun Yang Kau Minta. Bahkan aku akan memberikan uang 100 juta, itu padamu. Kau pasti akan segera mendapatkannya, hari ini aku ingin mengajakmu pulang, tapi kau sedang tertidur nyenyak, bagaimana kalau besok, aku akan datang menjemputmu, apa kau setuju? dan kau harus menungguku, jangan kemana-mana.!" Ucapnya panjang lebar, berbicara pada Renata walau pun ia sadar, Kalau Renata tidak akan bisa mendengar bahkan menjawabnya, dan kini la pun mencium dengan lembut pucuk kepala Renata, setelah itu ia pun merapikan selimut yang tergerai untuk menutup tubuh Renata agar Renata tidak merasa kedinginan.
Kini Baron pun segera melangkah keluar meninggalkan Renata."
"Bagaimana Ibu, apa Ibu sudah siap?" "Bagaimana dengan Renata apa Dia mau ikut?" sang Ibu bukannya menjawab tapi malah balik bertanya.
"Bu,, Renata itu adalah istriku, mau atau tidak. Dia harus ikut dengan kita. Jadi besok aku akan datang menjemputnya, karena dia sekarang sedang tertidur pulas. Aku tidak ingin mengganggunya."
"Oke,, baiklah, kalau begitu ayo lagi pulang." Ajak sang Bunda."
"Bara juga sedang tertidur. Kemungkinan dia tidak akan menangis mencari bundanya." "Bunda? maksud ibu?"
"Kamu jangan marah ya. Ibu yang mengenalkan Renata pada Bara sebagai bundanya. Sebagai Bundanya yang telah lama meninggalkannya."
"Tapi Bu, Renata bukanlah ibu kandungnya." "Aku tahu itu Baron, tapi sampai kapan? sampai kapan Bara harus kehilangan kasih sayang Ibunya?, dan Bara menyukai nya. Kau tahu Kenapa? Renata adalah wanita yang cocok menjadi ibu nya."
__ADS_1
"Sudahlah Bu, untuk sekarang kita jangan membahasnya dulu, ayo kita berangkat!" Baron pun segera mengakhiri percakapannya, karena ia tidak ingin ibunya akan terus membandingkan Mantan istrinya itu, dengan istrinya yang sekarang, karena Biar bagaimanapun Baron masih mencintai Mantan istrinya itu, dan ia yakin suatu saat akan bisa bertemu lagi. Bahkan bersatu kembali untuk membesarkan Putra mereka, dan seperti apa yang dijanjikan Baron pada Damara, Ia pun segera meluncur untuk menemui Damara, setelah mengantar ibu, dan anaknya, dengan selamat pulang ke rumah.
Flash back off.
"Jadi Mas, kamu__"
"Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku Mas, kau tahu kenapa aku melarangmu memanggilku Mas, karena panggilan itu akan membuat aku semakin merindukan Lisa." Sela Baron menjeda kalimat Renata.
"Maafkan Aku." Renata segera menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Hei…kau kenapa? lihat aku.! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku sayang? dan ayo mulai sekarang kita memulai Semuanya dari awal, bagaimana apakah setuju." Ujar Baron membingkai wajah wanitanya itu.
"Iya aku setuju sayang." Angguk Renata sambil berusaha untuk memberikan senyum terbaik nya, karena ia tidak ingin terlihat gugup atau terpaksa. Karena perasaannya kini sudah campur aduk.
"Tapi Jika kau tak ingin memanggil ku sayang, tidak apa-apa kau bisa memanggil namaku saja." Renata pun kembali hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Apa itu.? Katakan saja, apa kau akan meminta uang yang di berikan Tuan Damara itu?"
"lni bukan masalah uang, bahkan aku sudah melupakan itu, ya meski aku juga tidak munafik aku akui aku juga butuh uang, tapi sekarang itu sudah tidak penting lagi bagiku."
"Ya!,, tentu saja aku yakin!" Jawab Renata cepat.
"Baiklah katakan apa yang kau inginkan.?"
"Izinkan aku menjadi lbu, untuk Bara, dan biarkan aku melayanimu sebagaimana istri yang sesungguhnya, dan sebaliknya aku ingin kita selalu mesra walau itu hanya sandiwara, dan kita akan melakakukan itu selama satu bulan saja. Karena aku ingin merasakan mempunyai keluarga kecil yang sempurna."
"Maafkan Aku, jika aku terlalu serakah dan menginginkanmu melupakan mantan istrimu itu. aku tau aku salah jika mengharapkan dirimu mencintaiku, walau itu hanya sebentar saja, karena mungkin hidupku sudah tidak akan lama lagi, dan aku ingin diakhiri hidupku Aku merasa bahagia bersamamu dan keluarga kecil kita, tapi jika kau terus memikirkan mantan istrimu itu, aku rasa kesempatanku untuk membuatmu mencintaiku tidak ada lagi. Apakah memang Aku ditakdirkan ke dunia ini untuk tidak mendapatkan cinta dari kedua orang tuaku, dan aku pun akan pergi meninggalkan dunia ini tanpa cinta dari suamiku sendiri."
Monolog Renata dalam hati sambil menatap lekat wajah lelaki yang telah menjadikannya Istri itu. Walaupun sebelumnya Ia tidak menginginkan pernikahan ini, namun. Entah mengapa ia merasa begitu nyaman berada di samping Baron, meski, di awal pernikahannya Baron terus saja menyiksanya.
"Ayah…Unda…!" teriak seorang anak kecil berlari menghampiri mereka, dan itu mengejutkan Renata dari lamunannya.
"Hai…anak ganteng Ayah, ayo, sini sama Ayah sayang." Panggil Baron.
"Tidak, Bala Maunya cama Unda aja." cicit Bara menghambur memeluk Renata.
__ADS_1
"Oh jadi sekarang Bara punya Bunda, dan Bara tidak mau sama ayah lagi?"
"Ya…cekalang Bala sudah ada Unda, kalau Ayah pelgi Bala bica main cama Unda." Celoteh comel Bara dengan khas cadel nya.
"Oh...,, jadi sekarang ceritanya Bara mau balas dendam ya sama Ayah, karena Ayah selalu ninggalin Bara sendiri sama nenek?"
"Iya,, cekalang kalau ayah cuka malah cama Unda Bala akan pukul Ayah." Bara berceloteh sambil mengepalkan tangan mungilnya, membuat Baron merasa gemas karena putranya itu, sudah berani memberikan ancaman padanya.
"Hei…sayang…" Renata duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh Bara. Lalu la pun menggenggam tangan mungil itu, sedang tangan yang satunya membingkai wajah, gembul yang menggemaskan.
"Kenapa Bara bisa berpikir seperti itu? Ayah tidak pernah kok marah sama Bunda sayang, Ayah malah sayang sama Bunda dan Bara, Bara juga harus sayang sama Ayah, Bara tidak boleh berbuat seperti tadi pada Ayah Karena itu tidak baik, Kalau Bara berbuat tidak baik pasti Bunda akan sedih,"
"Apakah kalau Unda cedih Unda akan pelgi lagi? Unda, Bala janji akan jadi anak baik tapi unda juga janji jangan pelgi ya, dan Ayah juga janji jangan malahi Unda lagi cupaya Unda tinggal telus cama kita."
"Memangnya siapa yang bilang kalau Bunda pergi karena Ayah yang suka marah."
"Nenek Ayah...Nenek yang bilang kalau Ayah cuka malah, makanya Unda pelgi karena cedih" setelah berucap Bara pun menangis sesenggukan, membuat Renata dan Baron segera memeluk putra mereka.
"Bara sayang kok, Bara menangis tanya Renata yang merasa iba, melihat sang putra yang menangis sampai sesenggukan.
"Bala tidak mau Unda pelgi lagi, kalau Ayah malah, Unda bilang sama Nenek dan Bala, karena kalau unda pelgi lagi Bala ikut Unda. haaa...haaa...haaa"
"Cup-cup-cup, Bara sayang lihat Bunda, Bara itu anak lelaki, jadi Bara harus kuat tidak boleh menangis,"
"Benar apa yang di katakan Bunda sayang, dan Ayah janji, Ayah tidak akan marah-marah lagi sama Bunda" sela Baron lagi menghibur sang putra.
"Janji…Ayah"
"Iya sayang Ayah janji" Baron menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Bara sebagai tanda ikatan perjanjian mereka berdua.
"Ayah,,"
"Ya,, Sayang..."
"Bala minta maaf, karena sudah kulang ajal cama Ayah"
"Iya sayang,, Ayah sudah maafkan kok,.." Baron pun mengacak-ngacak gemas rambut sang putra lalu mereka bertiga pun berpelukan,
__ADS_1
sementara itu dari kejauhan, lbu Sofia melihat putranya bisa menerima Renata merasa sangat bahagia, ia pun menyeka sudut matanya yang mulai berair.
"Aku sudah melakukan semua apa yang kau, lnginkan Lisa, dan aku harap dengan ini Baron akan melupakan mu."