Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Bara kangen Bunda


__ADS_3

"Bunda...Bunda..." Seorang anak kecil berlari di antara teman-teman sebayanya...begitu melihat sang bunda yang datang untuk menjemput nya. Dan sang bunda pun dengan langkah cepat menghampiri nya.


"Sudah berapa kali Bunda bilang jangan lari!"


Bukannya mendengar perkataan bundanya Bara langsung saja menghambur memeluk Renata dengan senyum sumringahnya.


"Bagaimana hari ini di kelas, apa Bara suka?" tanya Renata sambil berjongkok, mengusap wajah sang putra yang di penuhi keringat itu.


"Bunda dalimana? Bala kangen cama Bunda." Kata-kata itulah yang meluncur dari bibir mungil tersebut, tanpa menjawab pertanyaan sang Bunda.


"Sayang baru tadi pagi bunda tidak peluk cium kamu, kok sudah rindu?" dengan gemas Renata menciumi seluruh wajah gembul putra kecilnya itu.


"Tapi Bara kenapa tidak menjawab pertanyaan Bunda tadi, bagaimana di kelasnya hari ini.?"


"Ayo kita pulang ajak Renata sambil mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.


"Bunda Bala mau Es klim boleh?" pintanya pada sang Bunda. Saat dirinya dan sang bunda berada di pusat perbelanjaan. Ya Renata memutuskan untuk singgah di swalayan sebelum dia pulang ke rumah, karena la juga akan berencana membeli susu untuk lbu hamil.


"Tapi sayang, kamu kan punya penyakit amandel, Bara tidak boleh makan Es krim nanti sakitnya kambuh lagi." Renata berusaha mengalihkan Bara dengan memberikan sebuah Mainan robot-robot kesukaannya dan itu pun berhasil.


"Bara tunggu bunda di sini ya, karena Bunda mau ke kasir dulu bayar ini. Bara tidak boleh kemana-mana, dan ingat jangan ikut orang asing." Peringat Renata pada sang putra. Sambil mendudukkan nya di sebuah bangku.


"lya Bunda, Bala akan tunggu Bunda, Bunda cepat ya!"


"lya sayang..." Renata pun bergegas menuju kasir setelah mengantri cukup lama Renata pun segera menuju ketempat putranya tadi.


"Sayang maafkan bunda ya! karena lama." Cicit Renata tak enak hati saat melihat putra nya hampir saja tertidur di atas kursi sedang kepalanya terkantuk-kantuk di atas meja.


Bara pun segera membuka matanya saat menyadari sang bunda berada di depannya. "Bunda Bala lapal," dan lagi-lagi ucapan Bara tersebut mampu membuat Renata tercekat, merasa bersalah karena telah membiarkan Sang putra kelaparan.


"Ya Allah,, lbu macam apa aku ini. Maafkan Bunda sayang, maafkan Bunda, sekarang Bara mau minta makan apa Nak, biar Bunda pesankan?"


"Bala mau memakan nasi goleng Ceafood aja, Bunda."


"Baiklah bunda akan pesan dulu ya, tunggu bunda sebentar!" Renata pun bergegas memesan makanan yang diminta Bara.


"Bagaimana sayang enak?"


"Enak Bunda apa lagi kalau dicuapin cama Bunda telus, Bala ingin telus cepelti ini Bunda bunda jangan pelnah tinggalin Bala lagi ya!" pintanya, Renata hanya bisa terdiam membisu tak menjawab apa yang Bara pintakan padanya.

__ADS_1


"Bara,, Bunda Boleh tanya sesuatu nggak?" Sela Renata saat ia selesai menyuapi Bara.


"Ya boleh Memangnya Bunda mau tanya apa cama Bala?"


"Bagaimana kalau Bunda bukanlah ibu kandung Bara, dan ternyata ibu kandung Bara itu masih hidup."


"Bara tidak mengelti Bunda, apa yang bunda katakan, ibu kandung itu apa? dan kenapa Bunda bukan ibu kandung Bala?" tanya Bara dengan wajah polos nya.


"lbu kandung itu, artinya yang melahirkan Bara dari dalam sini." Ucap Renata sambil mengelus perutnya.


"Jadi Bala tidak kelual dali cini ya Bunda? jadi Bunda itu bukan Ibunya Bala? Bala tidak cuka, kalau Bunda bukan lbunya Bala! Bala hanya mau Bunda" Ucap nya dengan hidung yang mulai kembang kempis.


"Bukan seperti itu sayang, Bunda akan tetap jadi bunda kamu apapun yang terjadi,sayang Bunda tetap bundanya Bara."


"Benal itu Bunda"


"lya benar sayang"


"Bala cayang Bunda"


"Bunda juga sayang Bara" mereka berdua pun berpelukan dan jadi tontonan orang-orang sekitarnya ada juga yang terharu dan mengabadikan momen tersebut.


"lya sayang boleh"


"ceandainya, di dalam pelut Bunda bisa kelual adik bayi, kan cepelti teman-teman Bala itu. Meleka Cemua punya adik bayi dali Bundanya"


"Bunda Tidak apa-apa kok, sayang kalau kamu mau punya adik bayi."


"Bala juga tidak apa-apa tidak kelua dali cini yang penting Bala punya adik bayi yang kelual dali cini." Ucapnya bersemangat.


"Tapi bagaimana Kalau Bundanya Bara masih hidup? dan Bunda Bara itu bisa memberikan adik bayi buat Bara?" Bara hanya terdiam mencerna apa yang diucapkan Renata tadi.


"Bunda kalau ibu Bala masih hidup. Kenapa dia meninggalkan Bala pasti dia tidak cuka cama Bala, tidak sepelti Bunda yang cayang cama Bala."


"Tidak seperti itu juga Sayang, mungkin lbunnya Bara Punya alasan lain. Kenapa Bundanya Bara harus meninggalkan Bara." Ucap Renata terus memberikan penjelasan.


"Bara janji sama Bunda ya, jika suatu saat nanti. Bundanya Bara masih hidup Bara harus janji sama Bunda kalau Bara harus sayang sama bundanya Bara sendiri,"


"Tapi Bunda Bala tidak mau Bunda diganti sama Bunda yang lainnya, kalena Bala tidak bisa jauh dari Bunda, bunda harus janji sama Bala kalau Bunda tidak akan pernah pelgi meninggalkan Bala."

__ADS_1


"Bunda janji tidak akan pernah meninggalkan Bara karena Bunda akan selalu ada di sini, di dalam hati Bara di mana pun Bara berada kalau Bara sedang Merindukan Bunda sentuh dada Bara dan sebut nama Bunda pasti Bunda akan merasakannya kalau Bara sedang rindu."


"Dan apakah Bunda akan datang kalau Bala cedang lindu"


"Tentu saja sayang...kalau Bara punya adik bayi, Bara harus janji akan menjaganya dan melindunginya."


"Tentu saja Bunda. Memangnya di dalam cini ada adik bayinya ya Bunda?"


"Iya sayang di dalam sini ada adik bayinya, kamu mau adeknya cowok atau cewek?"


"Bala maunya kalau punya, adiknya perempuan aja Bunda bial dia cayang cepelti Bunda"


Setelah puas bercengkrama, dan makan Renata pun segera membawa Bara untuk pulang karena hari sudah sore.


Malam.


"Bara,, Bara kenapa? ayo bilang sama Ayah kenapa Bara sampai demam begini?"


"Ayah tenggolokan Bala cakit kalena tadi cepulang cekolah Bala ikut Bunda di tempat cwlayan untuk temani Bunda belanja dan di cana Bala makan Es, klik, cakit Ayah...Aaaah"


"Baiklah Ayah panggil kan Dokter sama Nenek ya, tunggu Ayah"


"Iya Ayah" Angguknya.


Setelah Baron menelpon Dokter dan memanggil lbunya, la pun bergegas mencari Renata, namun yang di cari tak kunjung datang Bahkan menjawab nya membuat, Baron semakin Emosi.


"Kau darimana saja apa kau tidak mendengarkan kalau aku berteriak memanggil mu dari tadi!" geramnya menarik tangan Renata.


"Aku dari__"


Plak...


Satu tamparan di pipi Renata mampu menjeda kalimatnya.


"Sayang kau__!"


"tutup mulutmu dan dengarkan aku! apa yang kau lakukan pada Bara hari ini hingga dia demam?"


"Apa Bara demam?" Renata yang terkejut ingin pergi melihat Bara namun langkahnya tertahan.

__ADS_1


__ADS_2