
"Sayang aku dat_"
Semua menoleh kearah sumber suara, seorang laki-laki tampan nampak berdiri tegap di ambang pintu sambil menenteng sebuah plastik putih yang berisi makanan yang baru saja di belinya. Dengan langkah tegas Damara mendekati bangkar sang istri, sedangkan sorot tatapan mata tajam terus mengawasinya.
Hening tak ada yang bersuara, sedangkan Dara, terus menggenggam tangan suaminya yang terus mengepal agar tak membuat keributan.
"Sayang aku bawakan makanan untukmu makanlah lalu minum obatmu biar kau lekas sembuh!" Seru Damara meletakkan makanan yang dibawanya di atas Nakas.
"Aku tidak tau makanan kesukaan mu tapi aku harap kau menyukai apa yang ku bawa ini" ujarnya lagi,
"Terima kasih, tapi tidak usah repot-repot, memikirkan tentangku, aku masih bisa memesan makanan untuk diriku sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain." Sindir Jelita karena tidak ingin Damara hanya melakukan perbuatan baik karena merasa kasihan padanya di karenakan dirinya yang lagi sakit. Untuk itulah dia berbicara seperti itu.
Deg.
Exel yang mendengar nada bicara Jelita berfikir bahwa mereka selama ini tidak akur.
"Sayang aku_"
"Apa kau tidak dengar dengan apa yang di katakan isrimu brengsek!" Bugh...bugh...bugh.
Bukan Exel tetapi Darandra mencengkram kerah kemeja yang di pakai Damara lalu memukul wajahnya membabibuta membuat Damara tak bisa mengelak karena diserang tiba-tiba.
Sedang Jelita, Dara dan Dokter Rini, mereka bertiga hanya bisa menjerit, melihat kejadian tiba-tiba itu.
"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku menghabisi nyawamu apa yang kau lakukan pada Jelita tidak akan pernah termaafkan, apa kau tau lelaki seperti mu tidak pantas untuk Jelita, apa kau tau Jelita itu terlalu baik untuk lelaki sepertimu!" Sarkas Darandra.
__ADS_1
"Kakak cukup dia itu suamiku kenapa kau menyakitinya!" Cicit Jelita berlari memeluk suaminya yang sudah terkapar dilantai dengan mencabut jarum infusnya.
"Jelita apa kau sangat mencintai suami seperti dia, suami yang rela memperkosa istri nya dengan biadab, apa kau tidak ingat sama sekali, apa yang di lakukan brengsek ini padamu, dia tidak pernah mencintaimu Jelita bahkan dia yang menyebabkanmu masuk rumah sakit seperti ini Jelita!" Sekarang Exel lah yang angkat bicara,
Dan Jelita hanya tersenyum mendengar semuanya.
"Apa Kakak merasa jauh lebih baik darinya?" "Jelita...!" Sarkas Dara
"Ada apa Kak, apa kalian lupa dengan apa yang pernah Kak Exel lakukan pada Kak Dara? Apa kalian memberikan balasan yang sama terhadap Kak Exel?"
"Jelita kau!"
"Sudahlah Kak Dara lebih baik kalian semua pulang biarkan aku yang menyelesaikan urusan rumah tanggaku sendiri Kak aku mohon kalian pulanglah!"
"Maafkan aku sayang yang sudah memberikanmu banyak luka dan aku sungguh sangat menyesalinya." Exel menatap manik mata Dara dengan penuh cinta dan Jelita melihatnya namun ia sudah terlanjur kecewa.
"Benar kata Jelita lebih baik kita keluar dari sini dan biarkan dia yang mengambil sikap.
Aku yakin Jelita bisa bijak dalam mengambil keputusan." Jelas Exel lagi lalu mereka pun bergegas meninggalkan Jelita. Yang masih duduk memeluk tubuh Damara di lantai rumah sakit itu.
"Apapun keputusanmu Kakak selalu mendukungmu, dan kau jaga adikku!" Ujar Exel sambil melangkah pergi tanpa berbalik.
"Anda bisa menghubungi saya nanti Nona jika anda merasa butuh bantuan kalau begitu saya pamit dulu Tuan, Nona." Jelita hanya mengiyakan lewat anggukan saja sedangkan Damara hanya memberi isyarat lewat kedipan mata saja.
Setelah semuanya pergi, hening tak ada yang ingin memulai pembicaraan hingga Jelita melepaskan pelukannya dari Damara.
__ADS_1
Pulanglah dan biarkan aku sendiri, ujar Jelita kepada Damara, tanpa ingin menatapnya sama sekali.
"Sayang aku_"
"Stop jangan keluarkan kata-kata itu! aku jijik mendengar semuanya, aku menyuruh kakak ku pergi dari sini bukan berarti aku memaaf kanmu, dan aku percaya dengan apa yang mereka katakan tadi.
Aku menyuruh mereka pergi karena aku tidak mau mereka ikut campur dalam masalahku dengan Anda Tuan, untuk saat ini lebih baik kita berpisah saja karena tidak ada gunanya kita hidup bersama dalam satu ikatan yang akan kita hanya terkekang dalamnya, tanpa merasakan kebahagiaan ataupun kebebasan untuk itu aku minta sebelum Daddy ku tahu lebih baik lepaskan aku saja."
"Tidak! Jelita aku tidak akan pernah melepaskamu! jika itu sampai terjadi maka kau dan aku tak tidak akan pernah bertemu lagi aku mohon Jelita, dan aku akan penjelaskan jika memilih pergi maka kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi karena aku akan memilih pergi dari dunia ini, atau pergi dari negara ini untuk itu Jelita tetaplah bertahan di sampingku di sisiku aku mohon. Jelita apapun yang kau inginkan akan ku penuhi Jika kamu inginkan kebebasan aku akan memberikannya untukmu asalkan kau tetap berada di sisiku apa kau masih tidak bisa percaya padaku.?"
"Apa pun itu, dan sampai kapan pun aku tidak bisa begitu mudah mempercayai apa yang Anda katakan Tuan, karena Anda orang yang plinplan, aku sudah percaya saat malam itu tapi Anda hanya membuat lelucon saja tentang semuanya." Ucap Jelita yang tetap kekeh pada pendiriannya.
"Biar Aku yang akan mengurus surat-surat perpisahan kita, dan sebelum surat itu keluar aku akan tinggal di rumah utama karena aku tidak mau Bunda menanggung malu kalau anaknya adalah calon janda."
Setelah berkata seperti itu Jelita pun bangkit hendak pergi namun tiba-tiba saja ia meringis kesakitan.
"Ah auhk ist..." dan itu pun di saksikan oleh Damara, ia pun segera mendekat dan meraih tubuh sang istri, ia mengangkatnya hingga ketepi bangkar.
"Duduklah kau itu belum makan apapun dari kemarin, ayo aku akan menyuapimu" Jelita hanya menurut saja dengan apa yang dilakukan Damara karena untuk menolak pun ia sudah tidak mampu karena rasa sakit yang menderanya sampai-sampai ia mencengkram dengan kuat lengan Damara. Hingga Damara pun membayangkan bagaimana rasa sakit yang di rasakan istrinya itu.
"Maafkan aku, aku yang membuatmu seperti ini tapi aku berjanji tidak akan membuatmu seperti ini lagi, Maafkan aku sayang."
"Damara memeluk tubuh Jelita dengan penuh cinta, ia berharap pelukannya mampu membuat Jelita merasa nyaman dan mampu mengurangi rasa sakitnya. Dan benar saja Jelita pun membalas pelukannya itu mungkin ia faham apa maksud dan tujuan Damara memeluknya namun itu hanya beberapa saat saja. tiba-tiba saja pelukan itu mengendor.
"Jelita...!"
__ADS_1