
Setelah puas menangis Baron pun hendak keluar, namun baru saja ia akan bangkit dan hendak membalik tubuhnya tiba-tiba saja ia merasakan sebuah tangan menariknya.
"Sayang kamu ke mana Jangan Tinggalkan Aku," dan sebuah suara sapaan suara yang sangat ia kenal yang sudah lama ia rindukan i selama ini suara itu kini berdenggung di telinganya.
Deg.
'Oh Tuhan, apakah aku sedang berhalusinasi,?' tanyanya dalam hati.
"Sayang kenapa kau diam saja,?" suara sapaan itu kini kembali lagi terdengar di telinganya.
"Baiklah, jika kau tidak merindukanku tidak usah berbalik Pergilah,!" merasakan tangannya benar-benar nyata ditarik dan digenggam erat serta suara yang tidak asing dengan nada pengusiran itu membuatnya yakin bahwa dia tidak sedang berhalusinasi, apa lagi tangan itu kini melepaskan genggamannya, Baron pun mencoba untuk membalikkan tubuhnya dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, dan matanya pun membulat sempurna di saat menyaksikan Apa yang dilihat oleh matanya saat ini, sungguh seperti Ia tidak percaya.
"lbu...lbu kemarilah sebentar Bu...!" Ibu Sofia yang mendengar teriakan Baron langsung tancap gas karena ia begitu khawatir jika terjadi sesuatu kepada menantunya itu, karena menantunya baru saja sehari dipindahkan dari rumah sakit untuk dirawat di rumah saja.
"Ada apa Baron, kenapa kau__?" ucapan Ibu Sofia terjeda begitu saja saat melihat kejadian di depan matanya itu.
"Renata sayang, kau, kau sudah bangun nak,? Ya Allah terima kasih kau telah menyembuhkan menantu dan membangunkannya dari tidur panjangnya" Ucap syukur Bu Sofia dan tidak mempedulikan tatapan terkejut Baron.
Karena Bu sofia kini hanya sibuk mencium seluruh wajah Renata menantunya itu.
"Ibu..." Lirih Renata pelan karena ia masih merasa terlalu lemah.
"Iya nak ada apa,?" tanya Bu Sofia menjawab panggilan menantunya itu.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Bu Sofia lagi.
"Bu, Mas Baron kenapa,?" Bu, Sofia yang ditanya berbalik menatap putranya itu yang masih saja Bengong di tempatnya.
"Baron kau kenapa,?" tanya Bu Sofia memukul pundak Baron, Baron yang dipukul pun terkejut dari lamunannya.
"lbu, lbu Kenapa memukulku,?" tanya Baron heran.
Kau bertanya pada ibu Kenapa Ibu memukulmu sekarang ibu bertanya padamu Kenapa kau bengong saja disitu,?"
"Tunggu Bu, aku masih binggung,"
__ADS_1
"Binggung,? kau binggung kenapa,?"
"Bagaimana aku tidak bingung aku melihat Renata terbangun dari tidur panjangnya, Bahkan dia menggenggam tanganku juga melemparkan senyumannya padaku Bu," mendengar penjelasan Baron Bu Sofia pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Bagaimana saking terkejutnya Baron tidak menyadari kalau Renata memang sudah terbangun dari komanya.
"Lalu sekarang kau melihat apa,?" tanya Bu Sofia menatap ke arah putranya itu lalu beralih ke menantunya.
"Ibu apa Renata benar-benar sudah terbangun dari komanya Bu,?" tanya Baron seperti orang bodoh.
"Baron-Baron Apa kamu tidak melihat tatapan mata istrimu itu dari tadi, apa kau pikir menantuku ini hantu,?"
"Tidak Bu, bukan seperti itu, Aku hanya__"
"Kau hanya Kenapa Mas tanya Renata sambil tersenyum ke arah sang suami.
"Sayang apakah, apakah benar kau adalah Renata ku jawab aku sayang apakah kau adalah Renataku tanya Baron dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Renata pun hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu Karena ia merasa masih terlalu lemas untuk banyak bicara.
"Untuk sementara beristirahatlah, dengan cukup karena keadaanmu masih terlalu lemah, Ingat jangan terlalu banyak bicara dan bergerak karena tubuhmu masih kaku setiap hari kau harus menyuruh suamimu untuk merendam tubuhmu di air yang hangat, karena itu akan membantu untuk melenturkan saraf-saraf yang masih kaku," ucap dokter David.
"Selamat Tuan atas keajaiban yang telah Tuhan berikan istri Anda sekarang sudah tersadar dari komanya sungguh ini kejadian dan keajaiban, yang sangat luar biasa.
"Terima kasih banyak dokter karena Anda sudah banyak membantu istri saya."
"ltu sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter Anda tidak perlu berterima kasih seperti ini, Bukankah Anda juga turut andil dalam kesembuhan istri Anda kalau begitu selamat berbahagia untuk kalian, dan saya rasa saatnya saya pamit karena masih banyak pasien yang harus ditangani di rumah sakit.
"Suster, suster...dimana suster Susan,?" Tanya Dokter David saat memanggil suster Susan namun ia tak nampak sama sekali.
"Sepertinya suster Susan tadi sudah keluar dokter, sahut Bu Sofia yang memang kebetulan tadi melihat suster Susan keluar
"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu." Bu Sofia pun mengantar kepergian Dokter David ia sengaja meninggalkan Baron berdua dengan Renata dari ia bisa leluasa untuk berbicara bersama istrinya itu, Baron masih menatap dengan intens wajah sang istri lalu ia pun kembali duduk di tepian ranjang di mana Renata masih terbaring.
Begitu juga dengan Renata yang juga menatapnya secara intens.
__ADS_1
''Sayang...sayang,'' ucapnya secara bersamaan Mereka pun saling melempar tatapan lalu terkekeh bersama.
"Kau duluan ucapkan," ujar Baron.
"Tidak kamu saja yang duluan," sahut Renata. "Baiklah, kalau begitu kita ucapkan bersama," ucapnya secara bersamaan, mereka pun kembali saling melempar tatapan Dan Tersenyum.
"Sayang aku mencintaimu, Aku merindukan mu, dan aku menyayangimu," ucap mereka kembali secara bersamaan Baron pun mendekat ke tubuh istrinya lalu memeluk Renata dengan penuh cinta.
"Lain kali kau Jangan menyiksaku seperti ini lagi, kau tahu betapa menderitanya aku setiap hari setiap waktu bahkan setiap detik tanpa melihatmu, beruntung Kau memberikan aku bidadari yang sangat mirip dengan wajahmu, Cahaya Putri kita sayang, dia sangat mirip denganmu.
"Cahaya? Apa benar putriku? apa dia baik-baik saja,?"
"Tentu saja dia baik-baik saja, Bukankah aku berjanji padamu akan terus merawatnya hingga kau terbangun dari koma, Apa kau belum percaya pada suamimu ini sayang,?" Tanya Baron saat melihat Renata hanya terdiam saja.
"Bukan begitu sayang, aku sangat percaya bahkan sangat-sangat percaya padamu, karena aku bisa merasakan dan mendengar apa yang kau katakan dan kau lakukan padaku selama ini, Aku ingin memeluk kalian Aku merindukan kalian tapi apalah dayaku mataku tak bisa terbuka, aku lemah, apa kau tahu kekuatanku seperti hilang lenyap seketika hingga saat melihatmu menangis tadi, ketika air matamu jatuh membasahi kedua pelupuk mataku hatiku begitu tersiksa di saat itulah aku memaksakan diri untuk terus membuka mataku dan sepertinya Tuhan memberikan aku kekuatan lewat air matamu itu."
"Benarkah seperti itu sayang,?" tanya Baron dengan mata yang berbinar-binar.
"lya, aku merasakannya sendiri,"
"Baiklah, untuk itu, sekarang lebih baik kau istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak bicara Ingatkan apa pesan Dokter tadi," Baron pun menyelimuti istrinya dan ikut berbaring di samping Renata, Namun baru saja ia ingin menutup mata terdengar suara, teriakan dari luar.
"Ayah...Ayah...Ayah,..!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haaaaiiiii....yuk sambil nunggu kepoin lagi nih karya Author yang keren di bawah ini👇
Nomor 20
Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.
Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.
__ADS_1