
Setelah mengambil file dari tangan Damara Jelita pun segera membukanya dan membaca satu persatu poin yang tertera di dalam kontrak perjanjian yang telah mereka setujui bersama itu.
Apa-apaan ini kenapa jadi seperti ini. Kau, kau sudah membodohiku. Aku tidak mau menjadi istrimu seumur hidup sehari saja rasanya aku ingin mati apalagi seumur hidup. Aku tidak mau!" cicit Jelita menatap kesal pada Damara.
"Terserah padamu, mau atau tidak mau, kamu tidak ada pilihan lain lagi selain menurut, karena kamu sudah menandatanganinya otomatis kamu akan menjadi pembantuku seumur hidup camkan itu baik-baik! dan ingat satu hal mulai saat ini, kau harus menjaga jarak dariku, kau harus datang di saat aku memerlukanmu saja. Jika tidak kau tidak usah menampakan sama sekali wajahmu di hadapanku. Apakah kau mengerti?"
"Dengarkan aku Tuan sombong Aku pun tidak sudi untuk melihat wajahmu itu! Apa kau mengira aku itu begitu bahagia melihat wajahmu rasanya aku ingin muntah saja." Gelak Jelita tertawa geli membuat Damara semakin memerah karena menahan emosi.
"Cukup diamlah! mulai sekarang kau tidak usah banyak bicara padaku, dan mulai sekarang juga kau harus mengerjakan semua pekerjaan rumah jangan berhenti jika belum selesai. Apa kau mengerti? dan mulai besok kau harus ke rumah sakit untuk menjaga Amara adikku karena dia celaka itu karena ulahmu." Tuding Damara
"Apa kau menuduhku mencelakakan adikmu?. Yang benar saja. Aku tidak mau aku tidak mau menjaganya aku tidak sudi menjaga adikmu yang menyebalkan itu memangnya aku itu pengasuh nya atau perawatnya atau_ Apa kau sudah Jatuh Miskin tidak bisa membayar perawat untuk merawat adikmu?" Tanya Jelita pelan dengan nada mengejek.
"Diam! aku bilang diam. Apa kau tidak pernah tahu maksudku menikah denganmu aku sudah mengatakannya kepada semua keluarga besarmu, bahwa aku menikahimu karena kau harus bertanggung jawab atas semuanya, kau harus bertanggung jawab atas kesembuhan Amara, kau harus menjaganya dengan baik, jika tidak jangan salahkan aku jika video itu terpaksa aku sebarkan bukan saja keluarga besarmu tapi seluruh dunia.
Dan kau akan tahu siapa Damara sebenarnya Jelita terdiam mendengar ancaman Damara bukannya ia takut untuk membantah atau melawannya, yang ia takutkan jika Damara benar-benar melakukannya, dia khawatir dengan Bundanya juga pada Daddy nya yang tak tahu apa-apa tentang kejadian itu.
"Sial Kenapa semuanya berbalik kepadaku!" umpatnya dalam hati.
"Baiklah aku akan menuruti semua keinginanmu tapi aku mohon jangan sabarkan video itu kamu tahu sendiri kan aku sangat menyayangi Bunda, aku tidak mau Bunda kenapa-kenapa hanya karena diriku."
__ADS_1
Ucap Jelita memohon dengan merendahkan nada suaranya.
"Mungkin tak ada gunanya aku berdebat terus denganya sebaiknya. Aku mengalah dan mengikuti semua apa yang dia inginkan mungkin dengan ini semua bisa berakhir dengan baik." Monolognya memilih diam saja.
"Baiklah aku akan menjaga Amara sampai dia benar-benar sembuh. Tapi satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku sama sekali tidak pernah mencelakainya dan jika Amara sudah sembuh maka lepaskan aku dari hubungan palsu ini."
"Sudahlah. Simpan saja kebohonganmu itu karena faktanya semua tertuju padamu. Beruntung saja aku tidak membawa kasus mu ke pihak yang berwajib, kalau tidak, mungkin kau sekarang sudah mendekam di balik jeruji besi, dan aku akan menuntutmu dengan hukuman yang melebihi apa yang telah engkau lakukan kepada Amara, kau telah membuatnya koma, dan kau juga membuatnya lumpuh. Dan untuk permintaan mu kamu jangan berharap terlalu banyak."
"Sudah aku katakan aku tidak pernah melakukan semua itu kenapa kau tidak bisa percaya padaku." Damara tersenyum miring mendengar pengakuan Jelita walau sebenarnya ia juga sempat heran kenapa Jelita tidak mengingat kejadian itu namun ia segera menepisnya apa lagi saat melihat kalung dan motor miliknya. Dan bahkan keluarga besarnya pun tau tentang semuanya,
apa ada yang di sembunyikan Jelita itu lah yang ada di fikirannya saat ini.
"Untuk apa aku percaya kepada perempuan sepertimu, kenyataannya memang kamu yang melakukannya, jadi tidak perlu menyangkal karena aku maupun keluarga besarmu sudah melihat semua itu, dan aku heran kenapa kamu selalu mengatakan bahwa kau tidak pernah terlibat dalam kecelakaan besar itu. Apakah kamu itu Amnesia? aku heran kenapa adikku begitu terluka parah dan sedangkan dirimu hanya lecet di kaki saja. Apa kau sudah merencanakan semua ini?"
"Berani sekali kau mengusirku apa hakmu mengusirku dari sini?" Sarkas Damara menatap Jelita dengan tatapan bencinya.
"Aku tidak mengusirmu aku hanya menyuruhmu pergi karena aku tidak ingin berdebat, jika bukan kau yang pergi. Lebih baik aku yang pergi. Dara pun segera melangkah meninggalkan Damara yang masih menatap punggungnya yang terus berlalu dari hadapannya.
"Wanita itu benar-benar membuatku_" Ia pun menjeda kalimatnya saat mengingat sesuatu. Tapi apa benar dia tidak mengingat kejadian waktu itu. Sepertinya ada yang tidak beres, baiklah untuk urusan ini biar Rony yang mengurusnya.
__ADS_1
Damara pun segera melangkah keluar meninggalkan kediamannya, sekarang tujuannya adalah ingin menemui adiknya Amara.
"Ron, Apa kamu tahu tentang psikolog?" "Memangnya ada apa Tuan mencari psikolog apa Anda sedang stress atau_"
"Diam! dan Tutup mulutmu. Bukan Aku tapi perempuan itu!" Tegas Damara.
"Maksud Tuan, Nona Jelita tapi yang saya lihat Nona Jelita kan baik-baik saja Tuan, kenapa dia harus butuh seorang psikolog?"
"Bisa tidak kamu melaksanakan apa yang aku tugaskan tanpa bertanya panjang lebar. menyebalkan!"
"Maafkan saya Tuan."
"Sudahlah segera laksanakan apa yang Aku perintahkan secepatnya aku tunggu informasi darimu dan bilang pada kekasihmu aku menyukai aktingnya pagi ini. Aktingnya Sangat bagus bilang padanya lain kali aku akan menghubunginya lagi."
"Iya Tuan Nanti akan saya sampaikan dan saya akan segera melaksanakan apa yang Anda perintahkan Tuan."
"Oke baguslah Damara pun segera memutus sambungan teleponnya, setelah itu ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana Amara Tengah dirawat secara intensif sesampainya di rumah sakit Ia pun segera berkonsultasi kepada Dokter yang merawat adiknya selama ini.
"Bagaimana adik saya Dokter?"
__ADS_1
"Maaf Tuan silahkan Duduk dulu, saya akan menjelaskan semuanya ucapkan Dokter mempersilahkan Damara untuk duduk.
"Begini Tuan, Nona Amara, dia sudah menunjukkan sedikit kemajuan, hanya saja harus ada orang yang bisa memberi semangat setiap hari padanya." Terang sang Dokter memberikan penjelasannya. Sedang kan Damara mendengarkan apa yang di sampaikan oleh dokter dengan seksama.