
"Semalam kau pulang larut, kau dari mana saja?" gerutu Dara begitu melihat sang adik masih mendengkur walau ia tau sebenarnya Jelita sudah bangun dari tadi, namun ia pura-pura tertidur dan mendengkur begitu mengetahui kalau Dara yang masuk.
"Jelita banguuun...!" pekik Dara tepat di telinganya membuat Jelita kesal mengusap gendang telinganya yang berdengung akibat ulah Kakaknya itu.
"Kakak! aku masih mengantuk" celetuknya sambil memanyunkan bibirnya, dan kembali mengungkung dirinya dengan selimut.
"Bangun ini sudah Jam 10 kamu bilang masih mengantuk?' ayo temani kakak hari ini kakak mau belanja dan jalan-jalan!" pekik Dara menarik kembali lengan sang adik.
"Kakak pergi saja sama mang jaja, Jelita sudah ada janji dan mungkin akan pulang malam lagi lanjut Jelita kembali tidur.
"Tidak! kamu tidak boleh pulang larut!" tegur Dara khawatir.
"Kak ini araca ulang tahun temanku dan baru tadi malam kami bertemu kebetulan aku dan semua teman yang seangkatan mau Reunian jadi kita buat pesta kejutan buat dia" jelas Jelita panjang lebar.
"Lalu teman kamu cewek atau cowok?" "ceweklah kak masak cowok" timpalnya lagi menjawab pertanyaan sang, Kakak dari balik selimut.
"Baiklah tapi janji setelah acara selesai kamu harus cepat pulang!" titahnya.
"Siap kakak ku yang posesif" kekeh Jelita dan mendapat toyoran dari Kakaknya.
*
__ADS_1
*
*
Kini Dara berada di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Jakarta ia membeli semua kebutuhan untuk beberapa hari ke depan, setelah semua selesai ia pun merasa lapar dan segera mencari tempat makan di lantai satu karena sekarang ia berada di lantai dua, mang Jaja sang Sopir begitu setia di belakang sambil mendorong troli belanjaan "Mang-mang Jaja pulang aja dulu ya nanti aku pulang bisa naik taxi" terang Dara pada Mang Jaja.
"Baik Non" ucap Mang Jaja memberi hormat dan tak lupa Dara pun memberi sejumlah uang untuk Mang Jaja siapa tau aja Mang Jaja lapar ucapnya saat memberikan uang itu.
Kini Dara pun segera menuju lift untuk turun ke lantai satu karena cacing di perutnya sudah menari-nari minta untuk di isi.
Dan saat pintu lift terbuka tiba-tiba saja tubuh nya terdorong masuk oleh seseorang yang juga masuk bersamaan dengannya hingga membuatnya menabrak dada bidang seseorang yang tidak di kenalnya, hidungnya mencium aroma masculin dari tubuh lelaki itu, dan cukup lama ia terdiam menikmatinya ada rasa hangat dan tenang ia sarakan dalam sentuhannya.
Deg.
"tampan" gumamnya tanpa sadar namun hanya dalam hati, dan bukannya menyingkir Dara malah semakin terjepit karena ternyata di dalam lift itu full, jangankan untuk menyingkir untuk bergerak pun susah.
"Maaf" hanya itu yang Dara bisa ucapkan saat ini, dan tiba-tiba saja lift berguncang bersamaan dengan mati lampu, Dara pun spontan kembali memeluk pria asing di depannya itu, karena ia benar-benar merasa takut. Dan pria asing yang tak lain adalah Exel, pun dengan cekatan meraih pinggang milik Dara dan membalik kannya ke dinding agar dia tak terkena himpitan dari orang-orang di sampingnya.
Kini hembusan hangat nafas mereka pun bertemu, "menikahlah denganku" bisik Exel di telinga Dara, membuat Dara membulatkan matanya bersamaan dengan lampu lift yang menyala, dan terbuka.
Dan setelah semua orang keluar Dara mendorong pelan dada bidang milik Exel yang masih menempel di tubuhnya. Ia pun memilih pergi tanpa memperdulikan ajakan Exel ia berfikir kalau Exel tidak waras, Dara pun bergidik ngeri membayang kan kalau ia sempat terpesona dengan tatapan dan paras tampannya, sampai-sampai ia terus ber istighfar dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak suka penolakan" terang Exel membuat langkah Dara terhenti seketika dan berbalik.
"Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenal ku dan aku sudah punya kekasih,jadi maaf aku tidak bisa!" jelas Dara panjang lebar. ''Enak saja tiba-tiba mengajak ku menikah kenal juga nggak'' gerutunya dalam hati.
Sedang Exel menarik sebelah bibirnya ter senyum, mendengar jawaban Dara, "Bukan kah aku sudah bilang aku tidak suka penolakan, dan simpan penjelasanmu itu aku tidak butuh, karena aku tau siapa dirimu dan bahkan keluarga mu!" sela Exel lagi kali ini penuh dengan penekanan di setiap ucapan nya. Membuat Dara bergetar ketakutan.
"Sekarang kau lihat ini dan ini" Dara meraih gawai yang di sodor kan Exel padanya dan betapa terkejutnya dia melihat vidio Bundanya hampir jatuh jurang dan di tolong oleh Exel, dan yang lebih terkejutnya lagi ketika melihat vidio dirinya dan Exel selama berada dalam lift tadi vidio itu menunjukkan seolah-olah ia sedang tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun.
"I-ini tidak mungkin" cicit Dara menutup mulut dengan kedua tangannya, sedang matanya membulat lebar.
"Bagai mana apakah kau masih menolakku?" tanya Exel dengan nada datarnya.
"kamu jangan salah sangka aku ingin menikahimu bukan karena aku mencintaimu atau tergila-gila padamu." terang Exel lagi,
"Bagaimana kalau aku menolak!" tegas Dara lagi, "Bukan kah aku sudah bilang padamu aku tidak suka dengan penolakan, dan ya jika kau menolak maka Bundamu tersayang akan berakhir di tanganku, dan vidio kita ini akan di tonton banyak orang, dan bundamu pun akan mati karena malu"
Ancaman Exel, pun mampu membuat Dara terdiam mendengar semua yang keluar dari bibirnya. "Kau siapa? siap kau sebenarnya? dan apa mau mu! apa kau yang merencana kan semua ini?" prok-prok-prok Exel bertepuk tangan sambil tersenyum devil.
"Kau ternyata gadis yang cukup pandai, jadi kaupun harus pintar dalam mengambil keputusan, sekarang semuanya terserah padamu kau ikut aku sekarang dan aku akan melamarmu dengan baik-baik atau jika kau tetap menolak, aku Exel tidak pernah main-main dengan ancamanku!" tegasnya penuh tekanan dan ancaman lalu pergi begitu saja meninggalkan Dara yang masih bingung dan bimbang.
Namun seketika ia teringat dengan Bundanya "bagaimana kalau dia benar-benar tidak aku tidak akan membiar kannya menghancurkan keluargaku, aku harus melakukan sesuatu,atau aku harus memberi tahu Daddy atau Kak Devan" baru saja ia ingin meraih gawainya namun tiba-tiba gawainya berdering, ia pun melihat Nomer yang masuk adalah Nomer baru. ''Siapa lagi ini kenapa dia mengganggu di waktu yang tidak tepat!"
__ADS_1
Dara terus menggerutu dengan nomor yang tidak di kenalnya yang terus saja menganggunya, belum lagi rasa laparnya yang harus tertunda karena masalah ini.