Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Dia itu adalah istriku


__ADS_3

"Kakak...!" teriakan Amara yang sangat kencang menggema di seluruh ruangan sontak saja membangunkan dua insan yang sedang berada di alam mimpi indah mereka, bagaimana tidak indah kalau keduanya tidur sambil berpelukan dengan eratnya.


Jelita mengerjapkan mata saat mendengar suara cempreng seseorang mengusik tidur nyenyaknya namun karena masih mengantuk ia pun kembali terlelap sambil memeluk kembali bantal gulingnya dengan begitu eratnya bahkan satu kakinya kini ia naikkan di atas bantal guling nya itu.


Yah Jelita memang sedang bermimpi sedang memeluk bantal guling. Namun berbeda dengan Damara, dimana saat ini dia tentu saja merasa bahagia mendapat pelukan yang erat dari Jelita, apa lagi saat satu kaki Jelita berada di atas tubuhnya sontak saja.


Membangunkan apa yang ada di bawah sana namun dengan kekuatan penuh ia juga berusaha mati-matian menahan diri agar jangan sampai memakan Jelita, karena ia tidak ingin lagi membuat jelita kecewa Iya tidak ingin kepercayaan jelita kepadanya kembali pudar perlahan Damara. memindahkan kaki Jelita agar tak lagi menindih tubuhnya karena kalau dibiarkan terus-menerus Iya tidak yakin kalau bisa menahan diri.


Damara lalu melepas pelukan Jelita dari tubuhnya, la pun segera turun dari tempat tidur dan melenggang masuk ke dalam bathroom setelah selesai membersihkan diri Damara pun bergegas keluar menuju walk in closet dan Ia pun segera beranjak keluar untuk menemui sang adik.


Damara masuk ke kamar Amara namun ia tak mendapatkan Amara berada di tempatnya Ia pun segera turun ke bawah untuk segera mencari Amara dan begitu melihat seluit Amara yang duduk santai di atas kursi rodanya Iya pun segera mendekati sang adik.


"Hei apa kabar? Apa kamu baik-baik saja? Maaf jika kakak tak sempat datang untuk menjemputmu." Ujar Damara sambil memeluk sang adik dari belakang.


"Sudahlah Kak aku tidak butuh basa-basi kakak!" ketus Amara kesal memilih memalingkan wajahnya namun Damara datang Menghampiri nya.


"Apa kamu masih marah sama kakak? kakak kan sudah minta maaf." Cicit Damara menatap sang adik.


"Belum setahun Kakak menikahi nya Kakak sudah melupakan aku karena wanita itu bagaimana kalau dia seumur hidup bersama kakak kakak sudah tidak akan memperdulikan ku lagi ketus Amara lagi yang masih merasa sangat kecewa dengan kakaknya.


"Amara dengarkan kakak, itu semua tidak akan pernah terjadi karena kau adalah adik kesayangan kakak. Namun satu hal lagi yang harus kamu ketahui yang kau sebut wanita itu, dia adalah istriku, jadi walau bagaimana pun, suka atau tidak suka, kamu harus memanggilnya dengan sebutan kakak ipar Apa kau mengerti Amara!" tegur Damara tegas pada sang adik.


"Kakak ipar? yang benar saja Kak, tidak aku tidak sudi memanggilnya dengan sebutan kakak ipar!" kembali Amara mengajukan protes penolakannya.


"Amara mau atau tidak mau suka atau tidak suka dia sudah sah menjadi istri Kakak di mata hukum atau agama!" tegas Damara lagi.


"Kakak, kau sudah berubah Kakak sudah berjanji padaku kan, untuk membalas wanita itu. Karena dia yang menyebabkan aku seperti ini, jika Kakak memilih dia lebih baik aku yang pergi dari sini karena aku tidak mau satu atap dengan orang-orang yang tidak bisa menepati janji. Setelah berucap Amara pun langsung berlalu tanpa menoleh saat Damara terus berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


Sementara itu dari jauh sepasang mata melihat dan mendengar semua apa yang mereka bicarakan.


Damara sendiri yang nampak begitu bingung menjambaki rambutnya sendiri.


"Kenapa semua jadi seperti ini sih!" kesalnya.


*


*


*


"Kemana perginya anak itu? aku sudah mencarinya kemana-maa dari tadi kenapa semuanya tiba-tiba tidak ada, bahkan Amara sendiri tidak ada dikamarnya."


Damara terus mencari keberadaan Jelita karena hari sudah semakin sore namun istrinya itu tak terlihat sama sekali.


"Ya Tuan ada apa?" Jawab Siti


"Siti apa kamu melihat istriku?"


"Istri?"


Siti nampak bingung dengan pertanyaan majikannya itu, karena selama ini ia tidak mengetahui siapa istri majikannya karena Damara tidak pernah sama sekali memperkenalkan istrinya bahkan tak seorang pun dari rumah utama yang mengetahui pernikahannya dengan Jelita sedang Jelita sendiri ia perkenalkan hanya sebagai pembantu di rumah itu, bukan sebagai istri.


Damara yang mengerti kebingungan Siti hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maksudku apa kau melihat Amara" ucapnya bernafas lega.

__ADS_1


"Oh Nona Amara ada di taman dengan Jelita Tuan" Jelas Siti selanjutnya, membuat Damara membulatkan lalu bergegas berlari menuju taman yang di sebutkan Siti tadi, karena ia tidak ingin Amara berbuat sesuatu yang tidak-tidak dan benar saja begitu sampai di taman ia pun terkejut melihat apa yang di lakukan Jelita ia melihat Jelita membuang kursi roda yang di pakai Amara.


Sedang lutut dan kening Amara kini sudah bersimbah darah, Damara menatap tajam ke Arah jelita membuat Jelita hanya bisa menunduk.


"A-aku akan menjelaskannya padamu!" Cicit Jelita, namun Damara terus berlalu membawa tubuh Amara dari taman tersebut, dan di ikuti Jelita dari belakang.


Damara pun segera melesat meninggalkan rumah utama untuk memabawa Amara kerumah sakit yang terdekat.


Sedang Jelita hanya bisa menatap nanar kepergian mobil yang membawa Amara, dan Damara.


"Dia pasti akan menuduhku kan? dia pasti sangat marah padaku, Jika dia berfikir akulah yang menyebabkan Amara jatuh dari kursi rodanya. Tapi baguslah karena dengan begitu aku juga akan terbebas darinya biar semuanya bisa berakhir dengan cepat karena aku tidak ingin terus terbelenggu dalam pernikahan yang tidak di ingin kan ini." Jelita terus bermonolog dalam hatinya.


Hingga pukul 1:00 dini hari Jelita benar-benar tak bisa memejamkan matanya, karena tidak ada kabar sama sekali dari Damara hingga membuatnya gelisah tak bisa menutup matanya, namun baru saja ia ingin merebahkan tubuhnya ia pun dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka.


Ceklek.


"Kau kenapa? Kenapa kau baru pulang dan tidak mengabariku sama sekali, tentang keadaan Amara bahkan kau tidak mengabariku kalau dia sudah sadar dari komanya!" Cicit Jelita saat melihat siapa yang datang.


Namun bukan jawaban yang di dapatnya tapi tatapan tajam dan wajah datar Damara yang kini menghiasi, membuat Jelita tergugu untuk bertanya lebih jauh.


"A-aku akan menjelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi tadi aku han_"


"Siapkan semua pakaianmu karena malam ini aku akan mengantarmu pulang" ujar Damara dengan nada suara datarnya menjeda kalimat Jelita.


Deg.


"Apa pulang kerumah,? tat-tapi kenapa harus pulang ke rumah bukankah kita belum resmi berpisah?" tanya Jelita terkejut. Namun Damara tidak menanggapi pertanyaan Jelita ia hanya memilih berlalu meninggalkan Jelita dengan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2