
"Jelita, jaga ucapanmu! dengarkan aku Jelita Ayunindra, aku Damara Pratama Wijaya bersumpah hanya maut yang akan memisahkan kita, dan aku tidak akan pernah mengijinkan mu untuk pergi dari tempat ini!" bisiknya penuh penekanan karena Damara berusaha menahan emosinya yang siap meledak dikarenakan permintaan wanitanya yang ingin berpisah dari nya.
"Tidurlah mungkin setelah beristirahat Fikiramu bisa Jernih Kembali" Ujar Damara. Lalu ia pun membalikkan badan ingin melangkah pergi.
"Dengarkan aku Tuan Damara, apa yang sudah menjadi keputusanku tidak akan dapat di ganggu gugat karena aku sudah tidak ingin bersamamu lagi karena aku sudah lelah, aku lelah hidup di dalam sandiwara mu Jika kau tidak ingin mengantar ku aku bisa pulang sendiri."
"Lakukanlah jika kau bisa."
Damara yang hanya berdiri dari tadi membelakangi Jelita memilih untuk segera keluar, dari kamarnya karena ia tidak ingin terus berdebat dengan Jelita yang notabene orang yang tidak pernah mau mengalah selama ia merasa benar.
Sedang kan Jelita kembali duduk di tepian tempat tidur setelah melihat punggung Damara menghilang di balik pintu.
la tidak habis fikir dengan sikap Damara yang benar-benar membuatnya benci, di saat ia mengingat kembali kejadian itu dimana Damara memperkosanya dengan brutal bahkan menyiksanya tanpa ampun, dan kenapa juga ia harus melupakan kejadian yang mengerikan itu, seandainya kejadian itu tidak di lupakan nya maka mungkin sekarang dia sudah resmi bercerai dan dia tidak mungkin membiarkan dirinya sampai hamil.
"Tidak aku harus pergi dari sini sebelum dia kembali aku tidak ingin pria itu mengambil anakku. Tapi tidak mungkin juga kan aku ke rumah atau ke tempat Kak, Elxel."
Jelita yang binggung dengan tujuannya mau kemana, sebelum ia resmi berpisah dari Damara, namun ia pun tersenyum setelah mengingat sesuatu.
*
"Apa…! kalian bilang tidak melihat Jelita? cari kesemua tempat dan cctv. perisak semua cctv di jalan yang Ia lalui!"
Damara benar-benar di buat uring-uringan seharian ini karena Ia harus kecolongan, la mengetahui Jelita pergi meninggal kannya di saat ia akan memberikan sarapan untuk Jelita, dan betapa terkejutnya la saat mendapati kamar istrinya yang sudah kosong.
Damara duduk dengan lesu menatap bingkai foto pernikahannya yang beberapa bulan lalu itu. la melangkah berdiri dan meraihnya.
"Sayang kamu di mana apakah tidak ada maaf untukku lagi?" lirih nya sendu mengusap wajah Jelita yang ada di foto tersebut. Perlahan ia menyeka sudut matanya yang sudah mulai berair.
Sementara itu di tempat lain nampak seorang wanita dengan perut buncitnya, sedang duduk di tepi danau, sambil menyegarkan matanya menatap pemandangan yang begitu indah.
"Apa kau yakin dengan keputusan mu itu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku yakin, kalau tidak untuk apa aku pergi dari nya!"
"Aku takut kalau kau akan menyesal nantinya, apa lagi anak di dalam kandungan mu itu butuh Ayahnya."
"Tidak! dia tidak butuh ayahnya yang tukang selingkuh! lagi pula dia akan menceraikan ku kalau anak ini sudah lahir! dan dia akan merampas anakku lalu hidup bahagia dengan wanita itu."
"Aku hanya tidak ingin kau menyesal nantinya, seperti aku ini. Aku hanya bisa menatap orang yang aku cintai dari jauh tanpa bisa menyentuhnya."
"Apa kau masih mencintainya?" Jelita bertanya sambil menatap lawan bicaranya.
"Pertanyaan macam apa itu? bukankah tadi aku sudah mengatakan hanya bisa menatap orang yang aku cintai dari jauh, itu berarti aku mencintai nya."
"Jika kau sangat mencintanya, lalu kenapa dulu. Maaf" Jelita menunduk karena merasa tidak enak mengungkit kembali kejadian yang lama itu.
"Aku akan menceritakannya untukmu kenapa aku melakukan hal bodoh itu."
"Yah aku rasa lebih baik seperti itu."
"Kak Adam, Kak Jelita,! di panggil Bunda katanya tidak baik untuk dedek bayi kalau Kak, Jelita sampai magrib disini!" seru seorang anak laki-laki Datang mendekati Jhony dan juga Jelita yang tengah asyik berbincang. Membuat mereka menoleh sama-sama.
"Kamu tau Jhon, nama Adam terdengar lebih bagus. Bagaimana kalau mulai sekarang aku akan memanggil mu dengan nama Adam atau Mas Adam,"
"Mas…"
"Iya…Mas Adam bukankah kedengaran nya keren,"
"Keren sih iya tapi jangan Mas juga aku bukan suamimu."
"Lalu aku memanggil mu apa?" Jelita bertanya dengan mengerutkan alisnya.
"Kau harus memanggil ku Kakak!"
__ADS_1
"Kakak?" Jelita kembali menautkan alisnya. "Tapi aku sudah mempunyai Kakak.
"Terserah kau saja mau memanggil ku apa!" Jhony memilih diam dan mengalah dari pada berdebat dengan wanita seperti Jelita yang tidak akan pernah mau mengalah itu.
"Apa kau benar-benar tidak ingin pulang? kasihan suamimu, mungkin dia sedang bersusah payah mencarimu." Ucap Jhony membuka percakapan, setelah selesai makan malam ia mengajak Jelita keliling taman yang berada di sekitaran Panti asuhan tersebut.
"Suami? bahkan aku berfikir mulai detik ini dia itu bukanlah lagi suamiku, karena besok aku akan mengirim surat perpisahan untuknya."
"Tidak Jelita! bukankah sudah ku katakan padamu kalau aku tidak ingin berpisah. Sekarang kita pulang! lagi pula aku juga sudah merindukan mu cukup sudah seharian ini aku membiarkan mu bermain-main."
"Kau…dari mana kau tau aku berada di sini? Jhon, kau?"
"Aku tidak melakukan apa pun percayalah pada ku." Ucapnya sedikit mengeras kan suaranya karena melihat Jelita mulai menjauh.
"Aku tidak percaya kalian, kalian semua membodohiku!" Jelita akhirnya memilih pergi meninggalkan ke dua lelaki yang masih saling menatap itu.
"Aku heran kenapa Jelita lebih memilih mencarimu dari pada pulang ke rumahnya.?" Mendengar ucapan Damara Jhony hanya menarik sudut bibirnya.
"Apa kau cemburu padaku?"
"Maybe yes maybe no…" Sahut Damara memilih pergi mencari istrinya, karena la tidak mau kehilangan Jelita lagi.
Dan disinilah ia.Di sebuah kamar yang berukuran kecil dengan Satu tempat tidur yang cukup hanya untuk dua orang saja.
"Sayang kamu itu masih sakit jadi harus minum obat bagaimana kalau anakku kenapa-kenapa?" ucapnya tanpa sadar.
"Mam_maksudku anak kita" ralatnya lagi dengan wajah yang terus menatap intens Jelita, la terus merutuki kebodohannya yang selalu salah ucap.
"Aku tidak mau pulang, aku akan tinggal di sini!" ketusnya memalingkan wajah enggan menatap Damara yang terus saja berusaha ingin menyentuhnya.
"Baiklah, aku akan mengizinkan mu tinggal di sini selama satu minggu, tapi kau juga harus ditemani, Amara akan menemanimu. Titik aku tidak ingin berdebat. Sekarang aku mau tidur karena kau tau seharian ini aku terus mencarimu," ucapnya sambil mulai merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Untuk apa juga kau mencari ku, aku pergi itu berarti aku tidak ingin di cari atau kembali lagi, apa kau tidak mengerti kalau aku hanya ingin berpisah denganmu!"
"Jelita…!"