
Kembali Damara menyentak dengan kasar.
"Lihat dan tatap aku baik-baik!" Damara menekan kalimatnya sambil mencengkram wajah Jelita hingga Jelita pun meringis kesakitan Jelita menatap sekilas pancaran kesedihan luka dan kehilangan di dalam tatapan mata itu namun itu semua tertutup oleh amarah nya saat ini.
"A-aku minta maaf...!" tiba-tiba saja kata-kata itu lolos keluar begitu saja dari mulutnya.
Damara hanya tersenyum miring mendengar kata maaf yang tulus keluar dari mulut Jelita yang di anggapnya sebuah lelucon itu.
"Maaf...! setelah kau bermain-main denganku lalu kau mengucapkan kata leluconmu itu!" Ucapnya menekan kata maaf.
"Kau hanya wanita murahan dan pembawa sial kau telah berani bermain denganku! akan ku tunjukkan letak kelas terendah mu seperti apa! bahkan kata maaf pun di larang keluar dari mulut motormu ini!" sambil menunjuk bibir Jelita.
Setelah berkata seperti itu, Damara melepas cengkramannya lalu menarik tubuh Jelita sontak saja perbuatan Daramara yang secara tiba-tiba membuatnya terkejut.
"A-apa yang akan kau lakukan lepas kan ak_ump!" suara teriakan Jelita hilang dalam tautan Damara, yah kini damara tengah melu..mat dengan rakus bibir mungil berwarna pink menggoda itu. Jelita berusaha menolak dengan terus memberontak, namun usahanya sia-sia saja.
Karena kedua tangannya kini telah terkunci. Damara yang kesal menggigit bibir Jelita agar Jelita membuka mulutnya dan benar saja Jelita membuka lebar mulutnya dan di saat itu juga Lid..ah damara melesat masuk meng...ulum dan membelitnya.
"Kenapa rasanya semanis ini dan kenapa dia begitu kaku bukankah dia wanita yang sangat berpengalaman sial!."
Monolog Damara dalam hati namun ia segera mengabaikan pemikirannya itu.
dengan lihainya Damara terus bermain di dalam situ semakin lama kekasarannya berubah lembut saat Jelita yang awalnya kaku dan menolak kini ikut menikmati permainan dengan membalasnya walau ia masih pasif. Damara pun menyeringai dengan senyum yang tak dapat di artikan.
__ADS_1
Setelah merasa susah bernafas Damara pun melepaskan tautannya namun itu hanya sesaat, ia kembali mengecap bibir yang kini sudah agak bengkak akibat perbuatannya itu.
Sedang Jelita dengan susah payah melawan gej...olak di dalam dirinya yang tiba-tiba saja menghantam pendiriannya ia kembali berusaha menolak namun tetap saja sia-sia kini Darama melakukannya dengan penuh sensasi Damara menekan kepala Jelita sedang tangannya yang satu kini telah bergerilya menelusup masuk di balik tanktop milik Jelita jemarinya pun mulai mengelus bahkan membelai ujung kecil bukit itu membuat Jelita mengeluarkan des...ahan.
"Aaahk..." mendengar des...ahan Jelita membuat Damara bersemangat ia pun mulai menelusuri ceruk leher milik Jelita sedang tangannya terus aktif mencari sisi sen...sitif Jelita hingga tanpa sadar kini ia pun sudah setengah polos. Apa lagi saat tangan Jelita yang terkunci kini di lepasnya dengan nafas yang tersengal-sengal Jelita terus berusaha menetralisir rasa yang mulai mengacaukan hati dan fikirannya itu. Dengan posisi yang masih berdiri Damara seolah-olah tak ingin berhenti menyerangnya membuat nya tanpa sadar mengelus dada bidang yang kini terpampang jelas di wajahnya tersebut.
"A-aku mohon jangan lakukan ini padaku!"
kembali Jelita berucap saat fikiran nya mulai normal. Namun bukannya menghentikan tindakannya itu Damara sedikit membungkuk kan badannya dan menyecap dua gundukan yang masih kenyal dan kencang itu.
membuat fikiran Jelita kembali kacau antara menginginkan dan menyudahkan sedang tangannya berusaha menekan kepala Damara membuat lelaki itu memperdalam sesapannya dan kini tangannya sudah berada di bawah pus...ar Jelita. Tidak terlalu begitu sulit untuk dirinya membuka pembunk kus segi tiga yang di pakai jelita karena Jelita hanya memakai rok mini sebatas lutut saja.
Perlahan jari jemari Damara menelusup masuk kebawah sana ia berusaha menggelitik dan sesekali menekan ****..oris milik Jelita hingga membuat Jelia mengge..linjang tak karuan dan di saat itu lah ia mulai memasuki gua yang sudah lembab itu dengan jari telunjuknya ia terus memompa Jelita, Jelita yang merasakan sensasi luar biasa ingin membuncah bahkan ia ingin meminta lebih dari ini satu kakinya ntah sejak kapan membelit pinggang lelaki itu ingin segera di tustaskan bahkan ia tanpa sadar memeluk tubuh tubuh Damara dan mengigit pundaknya Namun Damara sengaja mengacuh kannya ia hanya ingin menyiksa dan memperlakukan Jelita dengan tidak hormat wanita ****** yang menurutnya telah berani menantangnya itu.
"Tapi wanita ****** seperti mu tak pantas untuk menikmati apa yang ada padaku!" sentaknya menyudahi permainannya.
"Ini baru permulaannya saja. Kau akan segera merasakan kehancuranmu!" Ancamnya Dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Jelita. Sedangkan Jelita begitu terkejut dengan apa yang di ucap kan Damara. Namun ia hanya bisa terdiam di saat mengingat kembali apa yang menyebabkan Damara melakukan semua itu padanya. Dengan mata yang sudah berair Jelita kembali memungut pakaiannya yang masih tergeletak di lantai lalu memakainya.
"Tut-Tuan apa Anda baik-baik saj_?" Ucapan Rony terjeda saat melihat siapa yang bersama dengan Tuan nya itu. Rony menatap Jelita dan Damara secara bergantian ia merasa seperti telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua terlihat dari mata Jelita yang memerah serta kancing kemeja Damara yang terbuka.
"Ayo kita pergi dari sini!" seru Damara dengan nada datar.
Rony hanya bisa mengangguk sedang pandangannya tak putus dari melihat Jelita yang masih tertunduk dengan mata yang memerah dan sembab. Ingin rasanya ia bertanya tapi ia takut Damara pasti tidak menyukai hal itu. Apa lagi saat ini Tuanya itu sedang berduka.
__ADS_1
Sedangkan Jelita berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Nona...! tunggu...!" Jelita menghentikan langkahnya tanpa menoleh saat mendengar Rony memanggilnya.
"Maaf..." hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil menyelimuti tubuh Jelita dengan baju kemeja yang di pakainya itu.
Dan tanpa sepatah katapun Jelita berlalu meninggal kannya sedangkan Rony bergegas menyusul Tuan nya.
*
*
*
"Ceritakan padaku apa yang terjadi pada Grandma sebenarnya? kenapa kalian semua tidak becus menjaga Grandma, dan kalian semua untuk apa kalian jadi Dokter kalau tidak bisa menyelamatkan Grandma, aku sudah membayar mahal kalian tapi kenapa kalian membiarkan Grandma pergi meninggalkan aku!" Damara meneriaki semua orang yang ada di tempat itu.
"Maafkan kami Tuan!" Jawab mereka serempak.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain, kami juga hanya manusia biasa hanya bisa berusaha tapi yang kuasa jualah yang menentukannya." Ucap salah seorang Dokter yang sudah lama mengurus Grandma nya itu.
"Diamlah aku tidak butuh Maaf dan penjelasan kalian sekarang juga kalian pergi dari sini sebelum aku berubah fikiran!" Sontak saja Ancaman Damara mampu membuat mereka kabur dari tempat yang mencekam itu karena mereka tahu siapa Damara seorang Tuan muda berjiwa dingin dan tak pernah memaafkan musuh-musuhnya. Bahkan dia terkenal julukan _Snowman._ [manusia berhati salju.]
Damara, menangis tergugu bagaimana tidak setelah kepergian orang tuanya akibat kecelakaan. Grandmanya lah yang membesarkannya dengan sang adik dengan penuh cinta dan kelembutan, dia begitu menyayangi Grandma nya seperti ia menyayangi diri dan adiknya.
__ADS_1
"Kakak...!" Amara duduk di samping sang kakak lalu memeluknya. Ia pun tak kalah sedihnya dari sang kakak karena Grandmanya adalah orang tua satu-satunya yang dia punya. Karena Grandpa nya ikut menjadi korban kecelakaan bersama kedua orang tuanya. Dan kini setelah Grandma nya pergi tinggal dia berdua bersama sang kakak.