
Mendengar teguran dari Baron, Renata hanya menurut dan menunduk saja.
"A-aku sudah kenyang Mas, makannya udahan aja." Sela Renata, padahal ia baru memakan beberapa sendok saja.
"lni kan. Masih banyak, belum lagi kamu menghabiskan setengah nya."
"Tapi aku sudah benar-benar kenyang Mas, nanti kalau dipaksakan perutku akan menjadi mual, apalagi rasa makanannya masih hambar di lidahku." Tutur Renata jujur karena perutnya memang belum terlalu bisa menerima makanan.
"Terima kasih Mas, sudah meluangkan waktumu untukku, walau hanya sebentar." Ujar Renata jujur.
"Bukankah aku sudah bilang, kamu jangan terlalu merasa__"
"Aku tidak merasa pede Mas, hanya saja aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan saat ini, dan wajarkan Aku mengucapkan terima kasih padamu karena telah banyak membantuku?" Sela Renata menjeda kalimat Baron.
"Sudahlah diam! aku ingin makan."
"Tapi Mas, makananmu?" Baron tak merespon apa yang Renata ucapkan Ia hanya sibuk menyuapi bubur masuk ke dalam mulutnya. "Mas, itu kan bekas makananku? tanya Renata bingung, karena melihat Baron begitu Lahab memakan bubur bekas sisanya.
"Bisa tidak kamu berhenti untuk bicara apa kamu tidak melihat kalau aku sedang makan dan aku sedang lapar, dan apa aku pernah menyuruh mu untuk berkomentar?" kesalnya menatap nyalang.
"Maaf…" lirih Renata.
"Apa kamu tahu, aku tuh sudah bosan, mendengar kata Maafmu yang terus menerus kau ucapkan hari ini, lain kali jangan berbicara kalau aku tidak menyuruhmu untuk berbicara! Apa kau paham? atau kau sudah lupa dengan peraturan yang pernah aku katakan padamu beberapa waktu yang lalu?" Ujarnya Dengan nada sarkasnya, sambil berjalan, menuju Nakas lalu menyimpan tempat bubur yang sudah ia makan sampai tandas, tak bersisa. sedangkan Renata masih memilih diam menundukkan wajahnya.
"Sekarang minumlah obatmu!" Ujar Baron memecah keheningan, Renata pun segera mengangkat wajahnya. Lalu meraih obat yang di sodorkan oleh Baron, setelah itu ia pun meminumnya satu, demi satu.
"lstirahatlah, aku akan keluar sebentar lagi. Aku akan segera kembali kemari, untuk itu jangan kemana-mana tetaplah pada tempatmu. Jika, kau butuh sesuatu kau tekan saja tombol itu, nanti para Perawat akan datang untuk membantumu." Tunjuk nya pada sebuah tombol berwana merah yang melekat di dinding tepat berada di atas kepala Renata.
"Iya Mas, Renata sudah tahu itu."
__ADS_1
Baguslah kalau kamu sudah tau, itu berarti kamu sudah mengerti semuanya, aku pergi dulu." Pamitnya,
"Iya Mas, hati-hati" Renata hanya bisa natap kepergian Baron dengan tatapan Sendu nya. Ia Pun menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang sedikit menghimpit di rongga dadanya, sedangkan jemari lentik tangannya sesekali akan mengusap ujung matanya yang mulai berair.
Flashback off.
"lni sudah hampir sore. Kenapa Mas, Baron belum datang juga. Aku kan jadi khawatir, aku takut kalau terjadi sesuatu pada Bara, aku benar-benar takut kalau Bara kenapa-kenapa. Atau bagaimana? kalau aku keluar saja untuk melihat, dan memastikan kalau Bara, Baik-Baik saja. Tapi aku belum kuat untuk berjalan ke sana." di saat Renata sibuk berbicara dengan dirinya sendiri, di saat itu juga ia mendengar ketukan pintu.
Tok tok tok…!
"Mungkin itu Mas Baron, sudah datang." Gumamnya.
"Masuk saja Mas, kan tidak dikunci!"
Ceklek.
Suara pintu pun terbuka, dan memunculkan wanita baya dengan seorang balita, dengan kepala yang masih di perban.
"Maksudnya?"
"Iya Bu...tadi pagi Mas Baron pamit mau pergi Hanya sebentar. Tapi sampai hari hampir sore Mas Baron, belum tiba."
"Jadi Baron menemuimu?"
"Iya Bu, Mas Baron, semalam tidur di sini. Tapi Renata benar-benar tidak tahu karena Renata sadarnya ketika sudah pagi."
"Oh ya! baguslah, kalau dia mau menunggu
mu. Semoga itu bertanda baik, bagaimana keadaanmu sekarang Sayang? maafkan lbu baru bisa menjengukmu."
__ADS_1
"Alhamdulillah keadaan Renata jauh lebih baik dari sebelumnya. Bu...apa anak ini?" Renata memokuskan tatapannya pada seorang Anak yang berdua di dalam gendongan sang lbu mertuanya.
"Iya dia Bara, Putramu Nak. Bara, beri salam pada Bunda, yuk sayang, bilang terimakasih pada Bunda karena sudah menolong Bara, apa Bara tau di dalam sini ada darahnya Bunda?"
Bara masih diam, mencerna apa yang baru saja dikatakan dan di sampaikan sang Nenek padanya.
"Bara sayang, ayo kemari sama Bunda sayang!" seru Renata dengan sumringah. Saat melihat tatapan heran, dari Bara, yang mungkin masih asing buat dirinya, karena ini adalah kali pertamanya la berjumpa dengan Renata, yang tiba-tiba saja mengaku sebagai bundanya.
"Sayang, ayo ke sini sama Bunda!" serunya kembali dengan mengulurkan kedua tangan nya ingin meraih tubuh, mungil Bara.
"Apakah Bara marah sama Bunda,? kalau begitu Bunda minta maaf ya sayang kalau Bunda ada salah sama Bara."
"Unda...Unda...Unda anji ya angan pelgi lagi ya Unda! hu hu hu" tangis Bara pun pecah seketika, sedang tangan kecil itu, berusaha untuk membalas pelukan Renata.
"Bala cayang Unda, Bala anji cama unda kalo Bala tidak nakal lagi, kalna nenek ilang Unda pelgi kalna Bala nakal." Bara terus saja berbicara dengan suara cadelnya, memohon pada Bunda nya agar tidak meninggalkan nya pergi. Sedangkan Renata yang mendengar sang anak memohon sambil menangis berusaha memberikan pelukan kasih sayangnya.
"Bara sayang, anak Bunda. Bunda juga janji tidak akan meninggalkan Bara lagi, apa pun yang terjadi, karena Bunda juga sayang sama Bara, Maafkan Bunda karena terlambat mencarimu sayang."
Bahkan kini Renata menghujani pipi gembul sang putra dengan gemasnya. Setelah saling melepas rindu dan kangen, Bu Sofia pun mengajak Bara untuk keluar dari ruangan tersebut, awalnya Bara tidak mau karena masih rindu pada sang Bunda, namun setelah di jelaskan dan di bujuk, akhirnya ia pun mau mengerti kalau ternyata Bundanya sedang sakit dan butuh istirahat, beruntung dia anak yang cerdas yang langsung faham.
"Unda Cepat cembuh ya bial Bala bisa cama unda lagi."
"lya sayang...!" Jawab Renata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Setelah kepergian Bara, Renata kembali fokus pada fikirannya sendiri.
"Semoga apa yang aku lakukan ini benar, dan apa yang aku ucap kan tadi? aku berjanji pada Bara tidak akan meninggalkan nya apapun yang terjadi."
"Oh...jadi ini caramu menyambut kedatangan suami mu! bisa-bisanya kau melamun di saat aku sedang bertanya. mengkhawatirkan keadaan mu!"
__ADS_1
"M-Mas, kamu! kapan kamu datang? maafkan aku karena sudah tidak menyadari kedatangan mu Mas..." Gugupnya, ia hanya takut kalau Baron akan mengetahui hubungan dan kedekatannya dengan Bara.
"Kau! berani-beraninya kau memikirkan orang lain saat suamimu ada disini!" Sarkas nya.