
Tangannya gemetar, bahkan lututnya tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya, di saat la membaca satu persatu penjelasan yang tertera pada sebuah kertas yang bertuliskan Rumah sakit Rayan Medika, hingga di saat akhir tulisan yang menjelaskan Nyonya Renata positif mengidap cancer rahim setadium akhir.
Bagai benda jatuh bertubi-tubi menghimpit dadanya sesak terasa saat wajah Renata terus saja berkelebat dalam bayangan nya,
saat Renata tersenyum, tertawa, menangis, bahkan saat kesal, dan marah, muncul satu-persatu bagaikan tayangan ulang sebuah drama dalam dunia sandiwara.
'Tidak ini tidak mungkin semua ini pasti bohong, Renata tidak mungkin, sakit separah ini dan...' Lagi-lagi Ia harus tercekat di saat bayangan tentang Renata kembali.
"Sayang aku hanya sakit perut jika aku ingin datang bulan memang seperti ini" ucap Renata kala itu yang tak ingin seorang pun tau tentang sakit nya.
Dan yang Paling Baron sesali sekarang adalah di saat terakhir kali ia keluar kota la sempat membuat Renata terjatuh di lantai, hingga membuatnya meringis kesakitan, bahkan la tak ingin menolong nya saat melihat Renata terbaring tak berdaya yang entah ia pingsan atau hanya tertidur.
"Renata aku harus segera mencarinya dan menanyakan semua ini padanya, atau..." Baron menjeda kalimat nya saat la teringat sesuatu.
"Ada berapa banyak lagi kebohongan yang kau simpan dan kau tutupi dariku Renata,? kau benar-benar membuatku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa."
Baron berjalan menuju masuk kedalam rumah dan tujuannya utamanya adalah Kamarnya dia ingin mencari petunjuk sebanyak-banyaknya.
"Bi, aku titip Bara ya! lbu mungkin akan datang nanti malam karena Lisa juga sedang sibuk mungkin besok dia baru dia datang kemari,"
"lya Tuan tapi..."
"Ada apa Bi, apa ada sesuatu yang ingin Bibi sampaikan padaku,?" Tanya Baron saat melihat Bi Ratih nampak ragu.
"Tuan, maaf kalau Bibi lancang tapi ini lebih baik Bibi katakan sekarang dari pada Bibi simpan terus."
"lya Bi, lebih baik seperti itu sekarang katakan apa yang bibi ketahui."
"Itu, Tuan... beberapa waktu yang lalu..."
Bi, Ratih pun menceritakan tentang apa yang di lihatnya selama ini dengan Renata dan memberikan segala milik Renata yang masih ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"lni Tuan, semuanya sudah Bibi kumpulkan semenjak Non Renata tidak tinggal di sini dan Bibi pun terpaksa melanggar janji kalau tidak akan memberi taukan ini,"
"Tunggu Bi, Bibi bilang Renata kalau pagi sering istirahat di sini karena dia akan selalu muntah kalau pagi, dan ini kenapa ada susu lbu hamil,?"
Deg.
"Karena Non Renata memang sedang hamil Tuan dan ini semua buktinya,"
"Apa ha-hamil,? baiklah Bi, Bibi simpan semua barang milik Renata kemar ku ya Bi, dan aku titip Bara sama Bibi, karena aku ingin mencari Renata," ucap Baron lalu meninggal kan Bi Ratih yang hanya mengangguk.
Kini Baron mulai memeriksa setiap tempat yang tersembunyi di kamarnya dan berharap ia bisa menemukan sesuatu namun tak ada apa pun yang di dapatnya hingga ia merasa putus asa.
la kini mencoba untuk menghubungi nomor telfon Renata berharap ia bisa berbicara pada hari ini namun sayang nomor yang di tuju sedang tidak aktif, hingga Baron pun terduduk di lantai dan menyandarkan tubuh nya di tepi ranjang.
'Andai aku tahu permintaanmu waktu itu adalah karena kau akan pergi untuk selamanya maka akan ku pastikan aku tidak akan pernah membuatmu menitikkan air mata lagi, aku akan terus mengukir senyum di wajah cantikmu itu lstriku' lirihnya masih menahan sesak yang teramat sangat.
Hingga tubuhnya bergetar karena kini ia sedang menangis, sambil bersandar Baron menundukkan kepalanya sedang tangan kirinya sebagai penopang di atas lututnya dan tangan kanannya masih di atas lantai kamarnya.
'lni kan Telepon milik Renata kenapa ada di sini? dan...'
Baron menjeda kalimatnya di saat ini ia memilih membunggkukkan badan nya ke bawah dan benar saja ia melihat beberapa botol obat tersimpan rapi dalam satu plastik ia pun memeriksa semua obat tersebut namun ia tidak mengerti apa manfaat masing- masing obat itu, karena di situ tidak ada petunjuk yang bisa untuk di baca, sepertinya Renata sudah merobeknya agar tidak ketahuan, yang ada hanya vitamin nya saja.
"Aku harus membawa ini ke rumah sakit." Baron lekas bangkit dan berlari keluar menuju mobil tujuannya sekarang adalah menyelidiki semuanya, dan yang harus dia tuju adalah rumah sakit dan Dokter yang pernah menangani istrinya itu.
Rumah Sakit Rayan Medika.
Dokter David hanya tersenyum menatap kegelisahan Baron, membuat Baron merasa semakin seperti orang bodoh sedang senyum dokter David baginya seperti sebuah ejekan, karena sebagai suami bagaimana bisa dia tidak peka dengan cinta, dan perhatian istri nya bahkan dengan penyakit mematikan yang ingin merenggut nyawa istrinya itu.
"Kau bertanya kenapa istrimu bisa hamil,? sekarang aku bertanya, bagai mana caranya istrimu itu bisa hamil,?" dokter David pun tersenyum miring.
"Dokter apa kau tidak bisa langsung menjawab saja pertanyaan ku,? tidak perlu melempar jabawan dengan sebuah pertanyaan lagi karena itu tidak logis aku harus menceritakan apa yang pernah aku lakukan dengan istriku hingga dia hamil, bukankah Dokter belum menikah?"
__ADS_1
Dokter David yang jengah mendengar perkataan Baron, menarik nafas panjang,
"Aku tak perlu menjawab nya kau sendiri sudah menjawabnya,"
"Tapi bukan itu yang aku maksudkan dokter,"
"Lalu,?" Dokter David menatap miring dengan wajah datarnya.
"Kenapa istriku bisa hamil Jika kandungannya sudah di angkat,?" Dokter David mengerutkan alisnya dan mengerti ke arah mana pembicaraan Baron, karena sama persis dengan Renata waktu itu yang menyangka kalau kandungannya sudah terangkat.
"Siapa yang memberitahu mu kalau kandungannya sudah terangkat karena itu semua bohong, kandungan Renata masih utuh dan sangat subur, tapi sayang nya Cancer rahim di dalam tubuhnya itu sudah stadium akhir, saya sudah berusaha untuk meyakinkan nya agar menggugurkan kandungan nya, namun dia sendiri begitu kekeh ingin mempertahankan calon anak kalian padahal itu sangat berbahaya untuknya."
"Berapa sisa waktu Dokter,?" Baron sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini namun demi istrinya ia akan melakukan apa saja.
"Hanya 8 bulan waktunya yang tersisa, mungkin sekarang yang tersisa tinggal 6 bulan lagi,"
Deg.
"Kau, kau berbohong kan dokter? kau berbohong kan, katakan padaku kalau semua ini bohong,!" Baron menarik kerah baju dokter David dan hampir saja ia meninjunya, beruntung ia bisa sadar, dan dapat mengendalikan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayya...hayya...hayya...sambil nunggu Author UP, yuk kepoin Novel temenku di bawah ini di jamin bakalan terhibur 😍😍😍
Meski terlahir dan tumbuh dari keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya. Ia menjadi Pemuda urakan dan gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan ia jadikan sebagai istri.
Namun, dari banyaknya gadis yang ia pacari tak ada satupun yang memenuhi kriteria Mirza. kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.
"Mereka adalah gadis-gadis yang tidak bisa menjaga diri dengan baik, masa Baru pacaran sudah minta dicium?" gerutu Mirza. Akankah Mirza dapat menemukan gadis seperti yang ia idam-idamkan?
__ADS_1