
Semua Staf dan Pegawai sudah berkumpul menyambut ke datangan CEO baru mereka, "Rapat kali ini Agendanya perkenalan soal pengangkatan jabatan Tuan Rafa sendiri yang akan melakukan serah terimanya" ucap Devan di depan para Staf dan Pegawai.
"Kenalkan beliau ini adalah pemimpin baru kita Tuan Exel Richard Alfano apakah benar seperti itu Tuan Exel?" Devan bertanya sambil menatap Exel yang berada tak jauh darinya, dan hanya di jawab anggukan datar dari Exel.
"Maafkan saya jika salah menyebutkan nama" Lanjutnya dengan senyum penuh arti.
Semua Staff dan Pegawai mengucapkan selamat ke pada Exel, namun tetap saja Exel berada pada wajah datarnya, Exel pun tak ingin berlama-lama dengan situasi yang sebenarnya yang tidak ia sukai ini.
Kini ia memilih pergi dari ruangan tersebut,membuat para Staff dan Pegawai merasa kecewa, dan Reno yang selaku asisten yang selalu akan menjadi korbannya.
"Maaf semuanya Tuan Exel lagi tidak enak badan dan beliau juga kan baru menikah jadi aku harap kalian mengerti sebagai pengantin baru pasti capek." jelasnya sambil terkekeh.
"Silahkan kalian kembali ke tempat masing-masing!" sela Devan dengan suara tegas dan wajah yang kembali dingin dan datar.
Gleg.
"Mampus kenapa aku berada di tengah-tengah orang yang berwajah kulkas,?' tak lama lagi aku akan berubah jadi pinguin atau jadi beruang kutup jika terus berada di antara mereka."
Gumamnya namun hanya dalam hati, sambil bergidik ngeri, dan Reno hanya bisa tersenyum kaku saat dirinya bertatapan langsung dengan Devan, sikap Devan kembali dingin dan datar saat Dara memilih menikah dengan orang yang baru dia kenal dan kini ia akan menjadi sekertaris orang yang telah merebut kekasih hatinya itu, Devan memang selalu bersikap profesional di dalam setiap pekerjaannya.
Dia tidak akan pernah mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan selama ia berada di dalam lingkungan pekerjaannya.
*
*
*
Tok tok tok...!
"Masuk!" seru Exel yang kini tengah berada di kursi kebesarannya itu.
"Maaf Tuan ini laporan yang harus Anda periksa dan ini nama-nama perusahaan yang bernaung di bawah naungan Rain Tecnologi' dan seminggu lagi ada meeting dengan Perusahaan cabang yang ada di kota xxx," ucap Devan memberikan penjelasan sambil menyerahkan file-file penting ke pada Exel.
__ADS_1
Exel pun meraih file yang di sodorkan ke hadapannya itu namun sejenak matanya melirik ke arah tangan kiri Devan yang nampak sedikit di plaster. Ia pun tersenyum miring sambil menyandarkan tubuhmya. "Saya permisi Tuan" pamit Devan dan hanya di balas anggukan.
"Jika terluka tak perlu menutupinya biarkan dia terbuka agar cepat mengering, jika di tutup rapat maka dia akan susah untuk mengering." Selorohnya, sambil membuka lebar demi lembar laporan yang ada di depan nya.
Devan yang hendak pergi menghentikan langkahnya tanpa berbalik, Devan yang faham apa maksud ucapan sindiran perkataan Exel hanya menarik ujung bibirnya untuk tersenyum miring dengan ke dua tangan di dalam saku celana.
"Jika luka di biarkan terbuka maka dia akan terinfeksi dan luka itu akan bertambah parah susah untuk di sembuhkan, membiarkannya tertutup akan lebih baik' setidaknya dia akan rapat kembali walau tidak seperti semula akan butuh waktu lama memang untuk menyembuhkannya' namun pada akhirnya rasa sakit itu akan hilang seiring waktu yang berlalu' dan setidaknya saya tau cara untuk mengobati luka, bukan tau cara membuat orang lain terluka. Dan Terima kasih karena Tuan yang sibuk dengan banyak pekerjaan tapi Anda masih sempat memperhatikan saya
Dan akan ada saatnya orang yang melukai akan merasa terluka, dan jika saat itu tiba dia akan susah untuk menyembuhkan lukanya."
"Tapi sayang aku rasa orang yang selalu membuat luka tidak akan gampang untuk terluka" balas Exel. Devan pun berbalik lalu bertanya.
"Benarkah yang saya dengar ini? Waow...!
Anda keren Tuan Anda benar-benar bijak sana" selorohnya sambil tersenyum.
"Namun setau saya orang seperti itu akan marasa puas ketika dia balas dendam Tuan" ucapnya lagi membuat Exel tertegun.
"Dan selamat atas pernikahan Anda Tuan semoga Anda berbahagia." Lalu Ia pun berbalik hendak keluar.
Anda boleh memiliki seluruh yang ada pada dirinya tapi tidak dengan hatinya. Karena hatinya bertumpu pada orang lain jadi buat apa memiliki tubuhnya namun tidak dengan hatinya!"
Deg.
Devan pun segera beranjak keluar ruangan tersebut dengan perasaan lega.
"Sial kenapa aku tak bisa menahan diri" umpatnya pada dirinya yang terlibat perang kata-kata dengan Tuannya.
Tak beda jauh dengan Exel dia pun merutuki dirinya karena terlalu bodoh untuk membuat argumen, karena sebanarnya ia pun merasa tersindir. Ia pun kembali di sibukkan memeriksa File yang ada di depannya, karena tak ingin berlama-lama mencari kesalahan Devan.
Setelah semuanya di teliti dengan baik tak satupun kesalahan dari segala laporan' selama ini yang di kerjakan Devan,membuat Exel benar-benar geram padanya, "Sial kenapa juga aku yang sibuk mencari kesalahannya aku kan bisa menggunakan mantan ke kasih nya itu untuk berbuat sesuatu'' gumam nya lalu tersenyum devil.
*
__ADS_1
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 Namun Exel belum beranjak dari tempatnya.
Hingga ketukan pintu kembali terdengar,
Tok tok tok..!
"masuklah!"
"Maaf Tuan apakah Anda mau menginap di sini? tanya sang asisten, dan Exel hanya menggeleng,
"baiklah ayo" ucapnya lalu bangkit Ia segera melangkah keluar dari gedung yang sekarang ia tempati untuk bekerja.
Dan begitu Exel tiba di appartementnya, ia merasa begitu sepi dan sunyi.
"Aku rasa dia sudah tidur besok saja aku melihatnya." gumamnya karena Bik Nany tadi sempat memberi taukannya kalau Dara sudah siuman,bdan sudah agak membaik.
Sedang Bik Nany pamit karena ada urusan mendadak Dan suster susan pun sudah pamit pada Bik Nany karena tugasnya sudah selesai.
Exel yang merasa penat dan pusing, segera beranjak menuju lantai dua,
Ceklek.
ia pun bergegas masuk di kamarnya, dan dengan sembrono ia membuka semua pakaian yang melekat pada dirinya.
dengan hanya menyisakan Boxer yang ada di tubuhnya, ia pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa masuk untuk membersihkan dirinya karena memang ia sudah sangat menantuk sekali. Namun di saat ia berbalik ia merasakan sesuatu hidungnya bersentuhan dengan hidung orang yang ada di depaannya ia pun tersentak lalu melangkah untuk menyalakan lampu. Dan sejenak Ia terkejut menatap tubuh yang tergolek di atas tempat tidurnya.
"Dara!" lirihnya siapa yang membawanya kesini? kenapa dia ada di sini pasti ini pekerjaan Bibik, lirihnya. Ia pun terpaksa kembali tertidur karena dia memang sangat capek, apa lagi tadi siang ia melewatkan makan siangnya.
Exel menatap sejenak ke arah istrinya yang begitu tenang dalam tidurnya, namun untuk beberapa saat kemudian tiba-tiba saja
__ADS_1
Ia melihat air mata menetes begitu saja di wajah istrinya itu.