Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kasih sayang yang hangat


__ADS_3

"Aku tau siapa wanita yang kau maksud. Bahkan sekarang aku sudah menikah dengannya, jadi kamu tidak usah khawatir dia berjanji tidak akan menyakiti mu lagi." Dan ucapan Damara mampu menghentikan tangis Amara.


Walau sebenarnya di dalam hatinya dia merasa tidak senang kenapa Kakak nya sampai harus menikahi wanita itu. Bukankah dia sangat membencinya dan karena wanita itu juga Kakaknya tak ingin lagi mengenal yang namanya cinta bahkan dekat dengan wanita saja dia tidak pernah.


Apa semudah itu kakaknya memaafkan wanita yang pernah menipunya dan bahkan telah membuatnya hancur, dan dia pun sempat terlena dengan bujukan wanita itu yang ingin membantunya untuk dekat dengan Darandra tapi dia malah ingin membunuh Jelita dan membuatnya jadi korban sedangkan dia kabur entah kemana.


"Maaf sepertinya kalian butuh berdua aku keluar dulu nanti aku balik kesini lagi." Pamit Darandra karena merasa dirinya di acuhkan.


Amara pun hanya mengangguk lemah. Begitupun dengan Damara walau di sertai wajah datarnya.


"A-apa Kakak bilang menikah? bagaimana Kakak menikah dengan wanita yang membuatku seperti ini?" kesal Amara bahkan tak ingin menatap kakaknya.


"Amara dengarkan Aku dulu. Bukan kah kamu tau sendri dari dulu Aku hanya pernah Jatuh cinta dengan wanita penipu itu.


Sekarang dan sampai kapan pun Kakak akan membenci yang namanya cinta, bahkan Kakak membenci wanita itu. Kakak menikah dengannya tak lain, dan tak bukan karena hanya ingin membuatnya menyesali apa yang telah ia lakukan selama ini pada mu." Terang Damara sambil mengelus kepala sang adik dengan raut wajah yang susah untuk di tebak.


"Apa sekarang kau mengerti dengan apa yang aku maksudkan?"


"Jadi sebenarnya kakak menikahinya hanya karena ingin membalas perbuatannya kepadaku?" cicit Amara menatap pada sang kakak.


"Tepat kau benar sekali kau tau aku akan membuatnya hancur sehancu- hancurnya karena dia juga membuatku tidak bisa berjumpa dengan grandma.


Untuk itu bersemangatlah. Untuk kakimu kakak akan mencari Dokter yang terbaik kamu bisa tetapi bagaimana?"


"Terima kasih Kak, kalau aku tak mempunyai Kakak seperti mu entah apa jadinya aku ini."

__ADS_1


Ucapnya dengan memeluk sang Kakak.


"Sudahlah kedepannya semuanya akan baik-baik saja untuk itu tetaplah bersemangat untuk sembuh karena kakak janji Kakak akan memberikan yang terbaik untukmu dan Percayalah kakak akan selalu bersamamu akan selalu ada untukmu.


Selama ini Kakak selalu mengacuhkanmu kakak terlalu sibuk untuk mencari uang, tapi ketahuilah itu semua Kakak lakukan juga demi masa depanmu. Aku tidak mau orang lain menghinamu seperti kakak dulu." Ucap Damara sambil membalas pelukan adiknya.


"Kakak maafkan aku ya! aku juga sudah banyak melanggar perintah kakak tapi mulai hari ini Amara janji akan selalu mendengar apa yang kakak katakan." balas Amara dengan air mata sudah mengajak sungai.


"Sekarang katakan pada Kakak bagaimana kamu bisa sadar dari koma,?" tanya Damara menatap Intens sang adik.


"ltu..., Amara tidak tahu juga Kak, tapi aku hanya merasa seperti tidur dan bermimpi kalau Kak Darandra datang untuk membangunkan Amara," terangnya.


"Sejak kapan kau mengenalnya?"


"Sejak di kampus Kak!"


"Dari mana kakak tahu tentangku dengan Jelita" gugupnya.


"Kamu kira Kakak mu ini bodoh apa? yang tidak tahu apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi di sana, dan apa juga yang dilakukan wanita bodoh itu padamu. Kakak sudah mengetahui semua. Tapi satu hal yang kakak mohon sama kamu. Jika kau mencintai Darandra maka kakak mohon. Lupakanlah dia mulai sekarang ini.


"Tapi Kak aku_"


"Apakah kamu akan membantah perintah kakak? kakak tidak mau kamu kecewa dan apa kamu akan menjilat ludahmu sendiri?" tegasnya menjeda kalimat Amara.


"Tidak Kak, hanya saja untuk saat ini mungkin aku belum bisa melupakannya karena dia adalah cinta pertamaku. Kakak tahu kan Bagaimana rasanya orang jatuh cinta? Andra adalah cinta pertamaku Kak." Lirihnya menatap nanar sang Kakak.

__ADS_1


"Kakak tahu itu tanpa kamu mengingatkannya lagi pula usiamu masih muda lambat laun kamu akan bisa melupakannya jika memang kamu belajar melupakannya dari sakarang." Damara mengusap lembut wajah Amara, sedang kan Amara sendiri merasakan cinta seorang Kakak yang Selama ini ia rindukan.


"Baiklah Kak aku akan berusaha untuk mencoba walau aku tidak yakin bisa." Ucapnya Pasrah, Damara hanya tersenyum iba mendengar ucapan sang adik walau ia sebenarnya tak tega tapi ia tidak mau adiknya menjadi orang ke tiga di dalam sebuah hubungan, apa lagi Darandra tidak mencintai nya.


"Kakak melarangmu untuk jatuh cinta padanya karena dia sudah mempunyai seorang kekasih. Apa kau tahu itu?"


"Jadi dia dan Jelita benar-benar menjalin hubungan Kenapa wanita itu selalu menghalangi kebahagiaanku kau tau Kak aku membencinya membenci wanita bernama Jelita Itu!"


"Apa maksudmu apa kau tidak mengetahui kalau Darandra itu adalah kakak sepupu Jelita."


"Apa Kakak sepupunya? jadi wanita yang aku lihat malam itu bersama dia itu adalah kekasihnya Iya dan kakak tidak mau kamu terlibat di dalam hubungan mereka karena itu akan menyakiti dirimu sendiri apa kau paham sekarang dengan apa yang kau maksudkan? sekarang lebih baik kamu fokus untuk penyembuhanmu."


"Baiklah Kak, aku akan mendengarkan saran dari Kakak, aku juga sadar disaat aku sempurna saja Darandra memilih orang lain apalah lagi di saat aku cacat seperti ini."


"Kamu jangan berkata seperti itu lelaki itu bodoh jika tidak bisa melihat kecantikan mu."


Damara terus saja memberikan semangat pada adiknya agar tidak merasa putus asa.


"Kak, terima kasih karena sudah mau terlahir sebagai kakak ku. Apa kau tahu Kak, sekarang aku merasa benar-benar tidak sendiri, Aku merasa sepertinya Mami dan Papi ada bersamaku." Ujarnya lagi membuat sang kakak tersenyum penuh kepedihan karena dia kembali mengingat sosok ke dua orang tuanya yang begitu saling mencintai dan penuh ke hangatan, apa lagi terhadap anak-anak nya.


Namun semuanya berubah disaat keduanya meninggal dalam insiden kecelakaan.


"Kakak maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mencoba mengingat kan Kakak." Cicit Amara merasa bersalah saat melihat raut wajah sang Kakak yang tiba-tiba berubah muram.


"Tidak apa-apa, kakak hanya berfikir apa Kakak bisa seperti kedua orang tua kita mereka saling mencintai bahkan dengan anak-anaknya!" Kenang Damara

__ADS_1


"Bisa Kak, buktinya kau sangat mencintaiku kan." Kekeh Amara membuat Damara gemas dan mengacak-acak rambut sang adik.


"Maaf apa aku mengganggu apa boleh aku masuk!" Ucap seseorang yang baru saja masuk namun masih berdiri di ambang pintu. Membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2