
"Tapi…Bu aku sudah tidak tinggal di sini lagi, aku kesini hanya mengambil sesuatu lagi pula kalau Ibu di sini Ibu mau tidur dimana, tidak mungkinkan Ibu tidur di luar di luar banyak tikusnya loh Bu…" bisiknya pelan sambil tersenyum miring.
"Tit-tikus mana-mana tikusnya dasar anak brengsek Kamu taukan kalau Ibu takut tikus. Bara ayo kita pergi dari sini!" Wanita baya itu pun menarik tangan sang cucu lalu menggendongnya pergi.
"Ibu mau kemana?"
"Ya pulanglah daripada disini banyak tikus!" kesalnya.
"Bu…! Ibu tidak usah pulang kerumah itu lagi, karena Baron sudah membeli rumah yang jauh lebih layak untuk Ibu," ucap Baron sambil mengacak rambut sang putra, dan Bara yang sudah berusia tiga tahun itu hanya menatap sang Ayah.
"Tapi Ibu dan Bara kesana dulu karena Baron mau mengemasi barang-barang milik Baron, ini kuncinya dan nanti akan ada orang yang akan mengantarkan Ibu dan Bara kesana." Dan benar saja tidak bersalang lama sebuah mobil berwarna putih singgah di halaman kecilnya itu.
"Bawa Ibu dan putraku kerumah dan ingat suruh para pelayan melayani Ibuku dan Anakku dengan baik"
"Baik Tuan…!"
Setelah kedua orang yang di cintainya itu pergi Baron buru-buru masuk menemui Renata, beruntung saja Ibunya mau pergi dari tempat itu kalau tidak bisa gawat. Baron pun menarik nafas lega satu masalah sudah selesai. Sekarang aku akan menyelesaikan masalah dengan wanita itu."
Ceklek.
Suara pintu kamar terbuka. "Dasar sial, wanita itu ternyata masih pingsan Baron pun mendekat Iya berdiri tepat di samping tubuh Renata. "Heh…wanita pemalas kamu jangan pura-pura pingsan, bangunlah!" Namun semua tetap saja, tak ada pergerakan hingga akhirnya dia pun memilih menggoncang tubuh Renata, seketika Baron terdiam karena merasa suhu tubuh Renata berubah hangat.
"Apa dia sedang sakit kenapa suhu tubuhnya panas sekali?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri.
"Menyusahkan saja baru sehari sudah begini apa lagi setahun. Gerutu Baron namun ia segera mengangkat tubuh lemah Renata yang masih terpejam dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Maaf Tuan sepertinya pasien akan mengalami trauma berat untuk itu di sarankan agar Anda senantiasa membuatnya nyaman dan tenang, saya sudah memberinya obat penenang usahakan jika ia sadar Anda berbicaralah dengan nada lembut. Suster Susan akan memantau perkembangan nya." Dokter David pun segera memanggil Suster Susan untuk segera memberikan perhatian khusus pada pasien nya.
Sedang suster Susan sendiri merasa kesal dengan Baron yang selalu seenaknya pada perempuan. Dan ia pun mengingat kejadian di masa awal pernikahan pasien yang bernama Dara tidak jauh berbeda dengan nya.
"Baiklah kalau begitu jaga dia untuk ku karena aku ada urusan penting lainnya!" Setelah Suster Susan mengangguk patuh, Baron pun keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Dasar laki-laki brengsek dia berani membantai istrinya tapi tidak ingin merawat nya." Geruru suster Susan
"Ada apa Sus?" tegur Dokter David dari belakang yang mengejutkan nya.
"Dokter Anda mengagetkan saya saja!" cicitnya sambil mengelus dada.
"Makanya jangan suka ngumpatin orang kalau dia tidak ada disini, coba suster ngomong pas orangnya ada di sini kan enak jelas kan padanya kekerasan dalam rumah tangga itu dosa, dan bisa membuat orang yang mengalaminya trauma berat"
"Iya ya kenapa saya tidak ngomong seperti itu." Ucap nya binggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum simpul. Dokter David sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan susternya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu berlalu Renata sudah sedikit agak membaik walau ia mengalami trauma, ia benar-benar berubah jadi lebih banyak diam dan melamun bahkan terkadang ia akan menangis sendiri lalu setelah itu ia pun akan tertawa. Sedangkan Baron sendiri hilang tanpa kabar sejak kepergian nya setelah mengantar Renata.
"Terima kasih Dokter untuk semuanya Kami akan datang satu minngu lagi."
"Oh… Ya Sama-sama Nona Jelita" sahut dokter david.
Damara pun segera mengendong Baby Ar,dalam dekapannya.
"Sayang! kok malah diam di situ, katanya mau ke toilet?"
Bukannya menjawab Jelita malah memokuskan pandangan matanya kepada seseorang yang tengah duduk melamun di kursi taman Rumah sakit tersebut.
"Aku sepertinya mengenal wanita itu." Tunjuknya, Jelita berusaha mengingatnya dan benar saja Ia mengingat kembali kepingan kejadian yang di alaminya beberapa bulan Terakhir ini bahkan kepingan ingatan yang membuatnya hampir kehilangan orang yang di cintainya.
"Apa Anda mengenalnya?"
"Sudah Sayang jangan dipedulikan kamu tidak inginkan bermasalah dengannya lagi kan?" Ujar Damara tanpa ingin menjawab pertanyaan dokter David.
" Dokter dia kenapa?" tanya Jelita tanpa mempedulikan perkataan suaminya itu.
__ADS_1
"Sejak seminggu dia dirawat di sini, tak ada seorangpun yang menjenguknya kasihan dia korban kekerasandalam rumah tangga." Terang Dokter David.
"Korban kekerasan dalam rumah tangga. Maksudnya apa dia sudah menikah?" Iya anda benar sekali wanita itu dibawa kemari oleh suaminya dalam keadaan, yang sudah tidak berdaya dan sekarang ini dia Mengalami Trauma, kami berharap suaminya datang tapi pada kenyataannya ia meninggalkannya. Entah mengapa suaminya tak datang, lelaki tak bisa bertanggung jawab" kesal Dokter Davit.
"Sudahlah sayang Jangan diperdulikan wanita itu bukan urusan kita lagi, dia sudah menerima semua hasil apa yang dia tanam selama ini sekarang. Aku yang telah menyuruhnya menikah dengan seorang laki-laki agar dia tidak mengganggu kehidupan kita lagi. Ayolah sayang kita pergi dari sini" ajak Damar.
yang menatap ke arah Jelita fokus menatap Renata yang hanya duduk. Sendiri dengan tatapan kosong.
"Aku ingin ke sana!"
"Tap-tapi Sayang dengarkan aku!" Jelita melangkah tanpa mempedulikan teriakan suaminya.
"Hei…apa kabar Apakah kau masih mengingatku?sapa Jelita saat berada tepat di samping Renata. Renata yang menyadari ada seseorang yang menyapanya menoleh ke arah sumber suara Tak ada kata yang keluar, dari bibirnya untuk membalas sapaan itu. Hanya Air mata saja yang luruh tiba-tiba membasahi kedua Pipi nya dan entah mengapa Jelita merasa terharu
saat melihat semua itu.
"Apa boleh aku duduk?" tanya kembali Jelita meski tak mendapat jawaban tapi untuk kali ini ternyata Renata memberikan anggukan pertanda dia menerima kehadiran Jelita di sampingnya.
"Untuk apa kau datang kemari.? Apa kau sengaja datang kemari hanya untuk membalasku? kau akan membalas semua apa yang telah aku lakukan selama ini padamu itukan maksudmu datang kemari.?"
"Yah… kau benar sekali ternyata kau orang yang gampang sekali menebak, Apa maksud dan tujuanku datang ke sini kau tahu, kau dan aku itu sama. Tak ada bedanya.
"Apa maksudmu?" Renata menatap heran. "Maksudku kita mencintai laki-laki yang sama, mungkin. Seandainya dulu kau tidak meninggalkannya, mungkin hari ini aku tidak akan menikah dengannya dan mungkin kau yang hidup berbahagia bersamanya, dan aku tidak akan pernah menjadi korban"
"Korban?" Renata tambah bingung dengan apa yang di katakan Jelita.
" Yah…korban, karena dendamnya dendamnya kepada cinta. Cinta yang begitu membuatnya terluka begitu dalam, dia tak percaya kepada cinta itu lagi, aku juga dulu sama sepertimu merasakan sakitnya, tapi aku menguatkan diriku untuk bertahan."
"Jadi selama ini kau dan_" Renata menjeda kalimatnya.
"Yah… jika kau menganggapku bahagia dari awal itu salah, aku dam Damara tidak saling mencintai tapi kami harus terjebak dalam sebuah pernikahan itupun saat dia menuduhku mencelakai Amara!" Renata menundukkan kepalanya mendengar penuturan Jelita.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku telah membuat kekacauan ini."