
"Apa! melamar, menikah? apa Bunda tidak salah dengar dengan apa yang kamu ucapkan barusan anak muda?" tanya Anggun dengan tatapan menyelidiknya.
Semua yang hadir di situ pun begitu terkejut dengan apa yang di utarakan Damara termasuk Darandra yang baru saja tiba begitu terkejut mendengar kalau Amara koma dan penyebabnya adalah Jelita. Dan lebih terkejutnya lagi saat mendengar lamaran Damara.
"Ada apa ini?" Suara bariton lelaki yang ikut menyela membuat yang hadir di situ terdiam.
Yang lain nya hanya bisa menunduk harap-harap cemas.
Anggun datang menghampiri suaminya dan menceritakan semuanya tanpa terkecuali ke inginkan Damara yang ingin melamar dan menikahi Jelita.
Rafa mengerutkan alisnya menatap lekat wajah pemuda yang tak jauh kalah tampannya dengan Exel itu.
"Apa tujuanmu sebenarnya anak muda kenapa kamu tidak menuntut nya di penjara saja. Tapi kau malah datang melamar dan ingin menikahi Jelita?"
"Maafkan kelancangan saya Tuan. Saya hanya Tahu kalau saya begitu mencintainya dan saya tidak punya siapa-siapa lagi selain adik saya yang sedang terbaring koma, saya orang yang sangat sibuk, saya bisa saja membayar siapapun dengan uang yang saya miliki untuk merawat dan menjaga adik saya, namun saya ingin Jelita terlibat dalam kesembuhan Amara.
Karena Dokter berkata seperti itu. Harus ada orang yang bisa terus mengajaknya untuk berbicara agar dia cepat terbangun dari komanya, sedangkan saya tidak mudah percaya pada orang lain selain keluarga saya sendiri." Terangnya menjelaskan panjang lebar.
"Tapi apa kamu tau kalau Jelita itu masih kuliah bahkan dia dan Amara satu kampus." Ujar Darandra menimpali.
"Aku sangat mencintai Jelita jadi aku tau apa pun tentang dirinya semuanya tidak masalah buatku dia bisa menyelesaikan kuliahnya Anda tak perlu khawatir masalah itu. Saya sudah mengatur semuanya." Balas Damara
Semuanya terdiam dalam berfikir.
"Kapan kamu ingin menikahinya?" tanya Rafa memecah kesunyian dan menatap Damara tanpa berkedip.
"Malam ini!" ucapnya mantap.
Membuat orang-orang saling pandang.
"Baiklah ayo semua masuk persiapkan semuanya!" seru Rafa memberikan instruksi.
"Bagaimana dengan resepsinya?" tanya Rafa
__ADS_1
"It-itu akan saya fikirkan nanti setelah bertanya pada Jelita!"
"Sebaiknya kamu menunggu semua keadaan membaik baru kalian melakukan resepsinya." sahut Rafa menimpali.
"Panggil kan Jelita kemari!"
"Ada apa Dad Jelita di sini?" Jelita berjalan menuruni anak tangga dengan kaki yang masih agak pincang, tanpa melihat Damara karena posisi Damara yang duduk membelakangi nya.
"Rupanya kamu sudah bangun ada hal penting yang ingin Daddy tanyakan padamu!"
"Hal penting apa Dad? kau untuk apa kau kesini. Aku tidak ingin melihatmu!" usir Jelita begitu melihat Damara yang kumpul bersama keluarga besarnya.
"Jelita...! Jaga sikapmu!"
"Tapi Dad, dia itu kurang ajar pada ku!" adunya
"Kau, kau cepat pergi dari sini aku tidak sudi melihatmu berhenti berfikir kalau aku akan menjadi istri seperti yang kau inginkan kan aku membencimu!" Teriak Jelita menarik tangan Damara bahkan mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh di lantai semua orang yang melihatnya pun terkejut atas sikap dan kekasaran Jelita.
"Tapi Dad_"
Plak...!
Satu tamparan melayang mengenai wajah Jelita dan itu mampu membuat Jelita terdiam dan tergugu sambil memegang pipinya yang sakit akibat tamparan sang Daddy. Dan semua orang di tempat itu pun terkejut dengan sikap Rafa yang selama ini tidak pernah melayangkan tangannya ke anak-anaknya namun kini ia melakukan nya pada Jelita Putrinya yang selalu di manjakannya itu.
"Dad, Daddy menamparku hanya karena orang ini!" tunjuk nya menatap nyalang pada Damara namun Damara yang di tatap bergeming ia berusaha sabar untuk menahan diri demi misi nya agar berhasil ia rela di caci maki atau bahkan di hina dan ektingnya yang seperti orang teraniaya sungguh mengalahkan ekting para artis layar kaca😃
"Selama ini Daddy selalu memanjakanmu dan mengikuti segala keinginanmu tapi sekarang kau sudah dewasa kau harus belajar bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan." Tegasnya
"Apa maksud Daddy Jelita tidak mengerti?" cicitnya benar-benar bingung. Sedang air mata nya luruh sudah karena ini kali pertama Daddy nya itu menampar nya bahkan Daddy nya tidak mendukungnya.
"Maaf apa boleh aku bicara empat mata dengan Jelita aku ingin bicara dari hati kehati" Sela Damara menghentikan perdebatan.
"Saya memohon izinkan saya untuk berbicara dengannya." Pintanya lagi.
__ADS_1
Rafa pun memberikan isyarat agar mereka meninggal kan Damara dan Jelita yang masih terisak dalam tangisnya.
"Apa kau ingin kita bicara disini atau di luar?" tanya Damara. Jelitapun tanpa menjawab langsung melenggang keluar menuju taman belakang mansion yang masih indah terawat itu.
"Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku bren..gsek!?"
"Ck, kau itu. Apa kau lupa atau pura-pura lupa? apa kau lupa tentang kejadian semalam di saat kau pergi meninggalkan ku katakan padaku apa yang terjadi."
"Apa maksudmu dengan apa yang terjadi semalam. seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri kemana kau membawaku pergi semalam." kesalnya saat mengingat kembali kemana Damara Membawanya pergi.
Damara sesaat terdiam dan berfikir kenapa Jelita tidak merespon kecelakaan itu.
Dengan kening yang berkerut ia kembali bertanya namun tetap saja jawaban sama.
"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak butuh penolakan mu, hari ini kita akan menikah dan semua keluargamu sudah setuju, setelah itu kau harus ikut denganku!" bisik Damara di telinga Jelita dengan senyum yang menyeringai.
"Tit_tidak! itu tidak kau menikah saja dengan keluargaku. Aku Tidak mung_ummp?" suara Jelita tenggelam dalam tautan Damara sedang Jelita tak bisa menolak saat kedua tangannya terkunci di belakang sedang tubuhnya di sandarkan di sebuah kursi taman yang memang rimbun dengan pohon bunga jadi tak seorangpun bisa melihat kejadian itu.
Jelita terus menutup rapat bibirnya agar Damara tak bisa lagi untuk melum..atnya namun siapa sangka tangannya begitu lihai menelusup masuk mencari dua gundukan yang selalu membuatnya candu itu. ia berusaha bermain dengan lembut agar Jelita merasakan permainan nya dan benar saja satu desa..han kembali lolos begitu saja saat tangan itu dengan lihai kini sudah menekan ****...orisnya.
"Haaah aahk...!"
Jelita menggigit bibir nya kuat-kuat agar suara aneh yang memalukan itu tidak keluar begitu saja namun sayangnya semakin kuat ia bertahan maka Damara akan terus menyerang hingga ia tanpa sengaja membuka lebar kakinya seakan meminta lebih, dan di saat itulah Damara tersenyum miring dan menyudahi permainannya. Bukan tanpa alasan Damara melakukannya dia sengaja mempermainkan Jelita hanya ingin mempermalukannya saja.
"Dengarkan aku wanita bo..doh aku tidak tau bagaimana keluargamu yang terpandang dan terhormat ini bisa mempunyai anak yang menjadi pemuas na..psu lelaki di luar sana dan Bundamu akan syok Jika mengetahui video ini!" seringainya sambil menunjukkan sebuah video saat ia di taman bersama Jhony.
"Da_darimana kau mendapatkannya!" cicit Jelita ingin merampas Video itu namun tangannya kalah cepat dengan tangan Damara.
"Menikah denganku atau Video ini akan tersebar kemana-mana!" ancamnya penuh penekanan.
"Dan berusahalah bersikap manis di depan keluarga mu agar mereka tidak curiga!" sambung Damara lagi.
"Iya baiklah kita akan menikah." Putus Jelita.
__ADS_1