Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jelita berbadan dua


__ADS_3

"Adam, namamu keren juga bahkan anak-anak disini sangat menyangimu, apa karena kamu tidak bisa, maaf aku tidak berbaksud untuk menyinggung mu" Ucap Jelita sambil menunduk dengan rasa bersalah yang mulai tumbuh.


"Hei kamu kenapa? aku sudah tidak apa-apa kok, anggap saja itu semua sudah sebagai perjalanan takdirku yang harus aku jalani" selanya menjelaskan semuanya.


"Tapi aku yang punya andil besar didalam kejadian ini, aku yang menyebabkanmu seperti ini tidak seharusnya kan aku_"


"Cukup Jelita! berhentilah menyalahkan dirimu sendiri faham!" Tegas Jhony menjeda kalimat Jelita. Jelita pun hanya menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kemarilah...!" Serunya lalu Jelita pun mendekat dan saat itu juga Jhony langsung memeluk tubuh Jelita dengan penuh kasih.


"Maafkan aku, maafkan si bodoh ini seharusnya aku tidak membentakmu, menangislah jika kau ingin menangis tapi berjanjilah bahwa kamu jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri karena kamu hanya ingin melindungi diri dari perbuatan jahatku" sesalnya lagi mengenang kejadian beberapa bulan yang lalu justru karena itu juga hingga detik ini dia belum berani meminta maaf secara langsung pada Tasya sungguh ia seperti seorang pengecut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu seseorang sedang mengepalkan ke tangannya saat melihat apa yang terpampang begitu jelas di matanya.


"Jelita, belum sehari aku pergi tapi kau sudah menhianatiku dengan orang yang sama. Apa di hatimu saat ini tidak ada aku sama sekali dan kenapa dengan pria lain kau tersenyum begitu lepasnya apa sebegitu buruknya kah aku di matamu.?" ujarnya.


"Aku berharap kepergian ku akan membuatmu merasa kehilangan tapi Kenapa aku yang merasa kehilangan dirimu."


Damara terus menatap beberapa gambar yang di kirim oleh anak buahnya yang memang dia perintah kan untuk mengawasi Jelita.

__ADS_1


*


*


*


Dua bulan lebih telah berlalu semenjak perpisahan Jelita dan Damara dan semenjak saat itu juga Jelita lebih banyak menghabis kan waktunya di panti asuhan setidaknya dengan seperti itu ia bisa menghilangkan sedikit rasa ridunya pada Damara, dan semenjak perpisahan nya itu Damara tidak pernah sama sekali menghubungi nya bahkan menanyakan kabarnya Jika dia Sangat rindu maka dia akan selalu datang ke rumah utama dia akan masuk untuk menginap di kamar milik suaminya itu. Tak ada yang tahu kemana perginya Damara bahkan Dara pernah bertandang ke kantornya beberapa bulan yang lalu namun nihil, yang ada hanya asistennya saja bahkan sang asisten seperti menjaga jarak darinya.


"Suami? apa kah dia masih suami ku? dan apa dia benar-benar menganggap ku istrinya sadarlah Jelita dia sudah meninggal kan mu tanpa kejelasan tanpa kabar dan berita apa yang kau harap darinya apa lagi dia tidak pernah bertanya tentang kabarmu." Gumamnya.


"Semoga apa yang ku ambil ini adalah langkah yang paling tepat, karena aku tak ingin larut dalam belenggu masa lalu, aku harus kuat demi dia yang di dalam sini, maafkan mama sayang." Ucapnya terus berbicara pada dirinya sendiri sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Yah Jelita kini tengah berbadan dua sedang usia kandungan nya kini berjalan memasuki bulan ke 3 ia mengetahui dirinya hamil setelah satu bulan kepergian Damara, bukan bahagia yang dia rasakan saat itu, di saat ia menyadari tidak pernah sekalipun dia melakukannya dengan Damara, namun Dara sang Kakak memberikan jawaban bahwa Damara pernah melakukan hal itu padanya dan itu tanpa ia sadari.


Awalnya Exel merasa kesal dengan sikap Damara yang menelantarkan istrinya itu, namun Damara berjanji akan membiayai semua kebutuhan Jelita, tanpa sepengetahuan Jelita, Damara pernah menghubungi Exel untuk menitipkan Jelita, dan Exel pun menyanggupi nya, Namun Exel tidak menyangka kenapa haru selama ini perginya ia menyangka Damara akan pergi hanya satu atau dua minggu saja.


"Apa Damara akan mengakui anak ini." Lirihnya, dengan kebingungannya itu.


*


*

__ADS_1


Sementara itu di Negara yang berbeda nampak seorang gadis melangkah dengan hati-hati lalu ia memeluk tubuh kekar di depannya yang hanya berdiri membisu menatap bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.


"Terima kasih sudah menemaniku sejauh ini jika Kakak tak berada di samping ku maka ntahlah aku akan seperti apa mungkin aku belum bisa seperti ini."


"Hmmm...haaaah!" hanya suara tarikan nafas panjang yang terdengar menggambarkan betapa besar rasa di hatinya menahan rindu dengan orang yang di cintainya.


"Aku sudah berjanji pada Kakakmu hanya menemanimu hingga kesembuhan mu tidak lebih dari itu, karena harus ada syarat yang harus di bayar olehnya." Ucap laki-laki itu berbalik sambil melepaskan pelukan tangan sang gadis.


"Besok aku akan pulang dan pastikan kakakmu itu untuk tidak mengingkari janjinya untuk menjauh Dari Jelita, karena kakakmu itu tak pantas menjadi pendamping adikku itu.


Dan satu lagi jangan pernah berharap aku akan membalas perasaan mu setelah pulang dari sini aku mungkin akan segera melamar dan menikahi Tasya, dan aku harap kamu jangan pernah hadir di antara hubungan kami karena selama ini aku sudah banyak mengorbankan waktu hanya untuk menemanimu agar kau lekas sembuh dan seperti nya kondisimu sekarang ini sudah cukup membaik kau harus bisa jaga diri sendiri dan jangan pernah menyusahkan orang lain.


Deg.


Dengan perasaan yang tak dapat di gambarkan Amara sedikit mundur kebelakang sungguh apa yang di ucapkan Darandra dengan panjang lebar terasa seperti pisau belati yang menyayat hatinya.


"Jadi se semua yang kau lakukan selama ini hanya kebohongan saja?"


"Untuk mu apa yang aku lakukan mungkin tak lebih hanya sebuah kebohongan tapi untuk ku sebagai seorang Dokter itu semua adalah sebuah pertolongan untuk pasien nya."


Ucap Darandra santai seolah tidak memikirkan apa yang ada di dalam hati Amara namun ia harus melakukannya agar Amara juga bisa terlepas dari rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu.

__ADS_1


"Kau benar-benar telah menipuku kau tega membuat luka hanya untuk menutup sebuah luka lalu kenapa kau memakai ini!" Bentak Amara sambil menunjuk sebuah kalung yang pernah ia hadiahkan untuk Darandra bahkan lengkap dengan sepucuk surat tentang perasaannya. Darandra hanya bisa terdiam melihat kearah lehernya.


"Sial kenapa aku masih memakai benda ini sih!" Darandra segera menarik kalung yang selama ini melingkar di lehernya dan bahkan dia sampai lupa untuk melepasnya dan dia sangat merutuki kebodohan nya itu hingga membuat Amara harus salah sangka.


__ADS_2