Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Bertemu Restu Lagi.


__ADS_3

Ceklek.


Renata membuka pintu perlahan, dan dengan jantung yang berdegup kencang karena ia masih merasa takut kalau sampai dia di pecat dari tempat kerjanya itu.


"Oh,, ya! baiklah nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan nya," Suara seorang lelaki yang sedang duduk membelakanginya, memandakan la sedang menelpon dengan seseorang, dan lelaki itu mengakhiri sambungan telponnya karena mendengar Renata yang masuk.


"Apa kau butuh sesuatu hingga kau berani mengetuk pintu di saat aku sibuk,?" tegas suara lelaki tersebut membuat renata menjadi ciut, tak mampu untuk berbicara.


"Apa kau bisu tidak menjawab pertanyaan ku? apa kau tuli atau bisu?" sentak lelaki tersebut namun enggan untuk berbalik menatap Renata, karena baginya itu tidak penting.


"Sekali lagi aku bertanya apa kau tak ingin menjawabnya? jika tidak nyahlah dari ruanganku!"


"Pak, Tuan, Bos, bub-bukan mam-maksud saya, saya minta maaf ke Pak Bos, karena selama 3 hari ini saya tidak izin masuk karena saya tiba-tiba masuk rumah sakit," Jawab Renata gugup sambil menunduk.


"Kau, tiga hari tidak masuk tanpa izin? lalu beberapa waktu lalu aku menyuruhmu masuk namun kau membuatku menunggu, apa ini cara kerjamu setiap hari membuat para pelangganku menunggu, dan kenapa kau, tidak memberitahukan yang lain lewat telepon, apa susahnya kau menelpon mereka, kalau kinerjamu seperti ini lebih baik


kau di pec...Renata kau?" Ucapan Pria tersebut tiba-tiba saja terjeda saat membalikkan tubuh nya, dan yang ia tatap ternyata adalah wanita yang selama ini di cari-cari nya, begitupun dengan Renata yang tadinya menunduk ketakutan kini mengangkat wajahnya di saat merasa namanya di sebut.


"Renata kau,?"


"Mas, Restu kau,?" Baik Restu dan Renata sama-sama membulat kan matanya, saking terkejutnya melihat siapa yang berada di depannya, siapa Bos, dan siapa pegawainya itu, sesaat pun terjadi keheningan di antara mereka tak ada yang ingin memulai untuk berbicara karena masih terbawa suasana, yang canggung.


"Pak, m-maafkan saya karena saya sadar saya sudah melakukan kesalahan tapi saya mohon saya jangan di pecat Pak," Akhirnya walau dengan perasaan yang masih canggung Renata pun mau tidak mau angkat bicara hingga memecah keheningan di antara mereka.


"Renata Aku, aku seharusnya yang meminta maaf padamu, karena sudah membentakmu tapi aku melakukan semua itu, benar-benar aku tidak tahu kalau itu dirimu," timpal Restu penuh penyesalan, dengan perasaan bersalahnya.

__ADS_1


"Sudahlah Pak, wajar kok kalau Anda marah, karena saya hanyalah karyawan biasa, tapi sungguh saya tidak berbohong kalau saya benar-benar di rumah sakit selama tiga hari dan kalau untuk masalah telepon saya juga tidak membawa telepon, semuanya tertinggal di rumah."


"Kau di rawat di rumah sakit selama tiga hari? katakan padaku kau sakit apa dan apakah Sekarang kau baik-baik saja,?" Restu segera bangkit dari duduk nya untuk, lalu la pun melangkah mendekati Renata yang masih canggung berdiri di depannya itu.


"Pak, seperti yang Anda lihat sekarang saya baik-baik saja, hanya saja kedatangan saya hari ini untuk minta izin karena untuk beberapa hari ini dokter menyuruh saya untuk istirahat total dulu." Terang Renata menjelaskan kembali apa yang sebenarnya tujuannya.


"Renata, dengar kan, aku walau kau istirahat satu bulan pun tidak apa-apa, karena Cafe ini adalah milikmu, dan berhentilah untuk berbicara formal pada ku,?"


"Apa yang Anda maksudkan,?" Renata dengan sedikit terkejut di saat Restu mengatakan kalau Cafe yang selama ini ia tempati bekerja adalah miliknya sendiri.


"Apa kau tidak mendengar ku,? berhentilah untuk berbicara formal seperti itu." Restu merasa kesal dengan sikap Renata yang selalu keras kepala tidak berubah masih sama menurutnya, namun itulah yang ia suka dari Renata selama ini, sikap manja dan keras kepalanya, membuatnya tidak bisa melupakan wanita yang pernah di abaikan nya itu.


"Sekarang aku mau tahu kau sakit apa,?"


"Aku hanya kelelahan Mas, tidak apa-apa,"


"Benar tidak apa-apa, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi Mas, kau bilang kalau Cafe ini milikku? kau jangan berbicara yang aneh-aneh padaku, kau jangan membuatku binggung,"


Ujar Renata mendudukkan bokongnya saat ia merasa kepalanya mulai agak sedikit pusing karena kelamaan berdiri.


Dan itu pun semua tak lepas dari tatapan Restu yang masih menatap nya dengan intens.


"Renata Katakan padaku apa yang sedang kau rasakan saat ini?" terpancar raut ke khawatir dan gelisah pada wajahnya.


"Tidak Mas, aku tidak apa-apa, beneran kok aku hanya sedikit..." ucapan Renata tak bisa la lanjutkan saat tubuhnya terkulai lemas, Restu yang melihat keadaan Renata pun bergegas mendekatinya dan meraih tubuh yang sudah lemah itu.

__ADS_1


"Renata, Renata, kamu kenapa Renata? bangun sayang, kamu kenapa? Katakan padaku ayo bangun Renata," Restu terus mengguncang Tubuh Renata yang kini sudah memejamkan mata itu namun tubuh itu hanya bisa terkulai lemah tak berdaya di atas tempat duduknya, Restu yang panik segera mengangkat tubuh itu, Ala bridal style, lalu kemudian ia bergegas membuka pintu.


"Siapapun di luar tolong cepat bantu aku!" teriak Restu dengan panik, Amara yang mendengar teriakan itu pun menghampiri sumber suara,


"Kak Renata, Kak Renata, kau kenapa? lepaskan kak Renata kau apa kan Kak, Renata? pasti kau sudah membuatnya pingsan, iya kan lepaskan kakakku!" Amara terus berteriak sambil memukul-mukul pundak Restu, di saat melihat Renata terkulai tak berdaya dalam gendongan Pria asing.


"Kakak? Adik? apa hubunganmu dengan Renata?"


"Aku adiknya," Jawab Amara singkat padat dan jelas.


"kau adiknya,? aku rasa Renata tidak punya siapa-siapa di dunia ini? Lalu kenapa kau datang mengaku sebagai adiknya?" Selidik Restu tak percaya.


"Dengarkan saya, Pak Tuan, Saya mohon lepaskan kakak saya Biarkan saya membawanya segera ke rumah sakit, Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kakak saya, karena dia juga baru keluar dari rumah sakit hari ini dan dokter menyarankannya untuk istirahat total," Ucap Amara membari keterangan.


"Baiklah kalau begitu, dan aku perkenalkan padamu kalau aku adalah mantan suaminya Renata,"


"Apa? mantan suami Kak Renata?"


"Iya aku adalah mantan suami Renata, sekaligus pemilik Cafe ini," Terang Restu yang mampu membuat Amara membulatkan matanya.


"J-jadi Anda adalah Bos saya dong, Pak, Tuan?" gugup nya.


"Menurutmu?" ucap Restu sambil menjedikkan kedua bahunya.


"Ayo cepat Ayo cepatlah bantu aku kita tidak punya banyak waktu lagi!" seru Restu kepada Amara

__ADS_1


"Bab-Baiklah Pak Tuan," Amara pun mengikuti langkah Restu dan Ia pun segera ikut masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Restu sedangkan Restu membaringkan tubuh Renata tepat di belakang kursi penumpang dengan Amara yang menjaganya di belakang.


"Apakah kita akan membawanya ke rumah sakit Pak Tuan?"


__ADS_2