Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Singgah Di Cafe.


__ADS_3

"apa Kakak yakin ingin singgah di Cafe dulu?" "kakak kan sudah bilang Ra, kalau kakak ingin minta izin pada bos kita itu, dan bukankah kau sendiri yang bilang kalau bos kita akan pergi ke Singapura dan ini pun untuk kali pertamanya kita akan berjumpa di Cafe itu."


"Oke baiklah, Pak di depan ya!" Seru Amara pada sang sopir taxi online yang mereka tumpangi.


"Ra, setelah ini kamu temani kakak cari kos-kosan yang dekat sini ya kakak ingin dekat aja dari tempat kerja agar bisa menghemat biaya" "Apa tidak sebaiknya, Kakak tinggal di tempat Amara saja kak, Amara kan cuma sendiri juga di sana, Lagian Kak Darandra jarang pulang. Kalau kita tinggal satu atap otomatis aku juga bisa memantau kesehatan Kakak."


Amara menggenggam tangan Renata dan Renata pun membalasnya.


"Ra, bukannya kakak tidak mau, tapi kakak rasa Sudah Cukup, Kakak merepotkan kamu kakak tidak mau menambah bebanmu lagi." "Tapi Kak, kau itu bukan bebanku, aku senang kok kalau aku punya teman jadi kita bisa saling berbagi."


"Ra, dengarkan kakak bukannya kakak menolak Tapi Kakak tidak mau jika suatu saat Mas Baron datang mencariku ke sana."


"Tapi,, Bukankah Kakak sendiri yang bilang kalau Kak Baron itu mencintai istrinya maksud Amara Mantan istrinya, jadi untuk apa dia mencari Kakak?"


"Iya tapi firasat Kakak mengatakan seperti itu," "ya sudahlah Tapi Kakak jangan Bosan ya kalau setiap hari Amara akan ke tempat kakak yang jelasnya Amara tidak mau kakak kenapa-kenapa," ucap Amara Tulus sambil menatap Renata, Renata pun membalas tatapan Amara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Terima kasih Ra, kalau kau ternyata selalu baik dan peduli pada kakak, ntah Bagaimana nasibnya kakak kalau tidak ada kamu, kakak tidak tahu harus bagaimana lagi, kakak tidak tahu harus minta sama siapa lagi karena kamu tahu sendiri Kakak tak punya siapa-siapa di sini," Renata memeluk erat tubuh Amara dengan tangis pilu mengenang perjalanan hidupnya yang penuh liku dan luka.


"Sudahlah, Kakak masih punya aku, aku akan selalu siap 24 jam buat kakak," ucap Amara menghibur sambil sesekali mengusap punggung Renata yang masih bergetar karena tangisnya.


"Kau itu sudah kayak suami siaga aja," ke kekeh Renata sambil mengusap air mata yang masih deras ingin tumpah.


"Terserah Kakak, mau menganggapnya apa yang jelasnya Amara akan selalu ada untuk kakak, ayo Kak kita masuk,!" seru Amara menarik tangan Renata. Namun entah mengapa perasaan Renata tiba-tiba mulai tidak enak,


"Kakak kenapa Kok diam saja,?" tanya Amara heran saat menyaksikan Renata berjalan pelan sambil tertunduk.


"Kakak baik-baik saja kan,?" tanya Amara kembali karena Renata tidak menjawab pertanyaannya.


"Eh iya m-maafin kakak, Kakak Tidak apa-apa kok kakak baik-baik saja,"


"syukurlah Kak, kalau kakak baik-baik saja Amara sempat khawatir. Takutnya Kakak kenapa-kenapa lagi, setelah ini Kakak jangan lupa minum vitamin dan obatnya ingat apa yang dikatakan dokter,!"

__ADS_1


"iya, iya kakak yang sakit kok kamu yang bawel sih?"


"Kakak memang orangnya kayak gitu kalau tidak dibawelin tidak bakalan meminumnya aku juga sudah lama mengenal Kakak seperti kakak yang sudah mengenalku, aku juga masih ingat kebiasaan Kakak itu seperti apa."


"Kau ini jangan mengumbar aibku disini nanti para readers tau kakak kan jadi malu," mereka berdua pun kembali terkekeh bersama."


"Terima kasih ya, terima kasih sekali lagi, Kamu sudah bisa membantu Kakak Bahkan kamu bisa menghibur kakak bahkan kau bisa membuat Kakak lebih bersemangat untuk melawan penyakit Kakak ini." Amara dan Renata pun saling melempar senyum saat mereka sudah sampai di dalam Cafe.


"Des, katanya Pak bosnya Hari ini datang ya?" tanya Renata pada seseorang temannya yang bernama Desi.


"lya si Bos udah ada di dalam tuh, Tadi si Bos sempat marah-marah karena kamu udah berapa hari ini tidak masuk tanpa izin bahkan si Bos bilang kamu dalam satu bulan ini banyak bolongnya," ucap Desi memberi keterangan.


"Baiklah, apa boleh sekarang aku menemui si Bos?" tanya Renata harap-harap cemas.


"Boleh kamu cari aja di ruangannya beliau masih ada di sana atau, Tunggu dulu, Lebih baik aku menelponnya dulu, Takutnya kalau si Bos sibuk," Renata pun hanya bisa mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Desi rekan kerjanya itu.


"Ada apa Desi?" tanya seseorang dari seberang telepon, saat telepon Desi tersambungkan.


"Suruh dia masuk segera aku akan meminta penjelasan darinya apa dia pikir ini adalah tempat yang dibangun oleh nenek moyangnya hingga dia Seenaknya saja tanpa kabar dan berita keluar tanpa minta izin sama sekali dariku." Geram lelaki yang di panggil bos itu. "Baiklah Pak saya akan menyuruhnya segera masuk untuk menemui bapak," lanjut Desi bergidik ngeri mendengar amarah bosnya, dan sambungan telepon pun terputus.


"Bapak mintamu segera untuk masuk," ujar Desi pada Renata.


"Baiklah Des terima kasih " Desi hanya tersenyum kaku sambil mengangguk karena membayangkan temannya itu akan kena sangsi, Renata pun berjalan pelan melangkah menuju ruangan pribadi Bosnya itu namun baru saja ia ingin mengetuk pintu Amara menahannya Renata pun menoleh.


"Ada apa Ra,?" tanya Renata pada Amara menatap heran.


"Sebaiknya Kakak jangan masuk dulu ke dalam,"


"Memangnya ada apa?"


"Amara takut aja Kak, kakak nanti kenapa-kenapa, jadi biar sekarang aku pesankan makanan buat kakak lalu kakak makan dan minum obat dulu baru kakak masuk, bagaimana,?"

__ADS_1


"Tapi Ra, ka..."


"kakak lihat sekarang sudah jam berapa sedangkan perut kakak harus terisi karena di dalam sini ada nyawa dan kakak belum minum vitaminnya serta obat yang diberikan dokter,"


Renata Hanya bisa menarik nafas kasar saat Amara menjeda ucapan nya, namun saat mendengar penjelasan yang dikatakan oleh Amara ada benarnya juga, sedang di satu sisi ia pun ingin segera menemui Bosnya itu dan meminta maaf.


"Baiklah tapi jangan lama-lama ya,!"


"Oke sip Ayo kita duduk di sana aja Kak, dan kakak jangan ke mana-mana ya, aku akan pesankan sesuatu untuk kakak."


"Iya, Iya kamu kok kenapa Tambah bawel sih?"


"Bawel itu perlu Kak, jika untuk kebaikan"


"Ya sudahlah, ayo," Renata yang mengalah pun akhirnya mengikuti langkah Amara daripada ia tinggal berdebat akan memakan waktu lama, dan benar saja Renata Hanya duduk diam menunggu Amara memesankan makanan untuknya.


"Bagaimana Kak, Apa Kakak menyukai semua makanan yang aku pesan ini?" "Astaghfirullahaladzim, kamu memesan makanan sebanyak ini untuk apa?"


"ya untuk dimakan lah kak Masak untuk ditonton, Lihatlah keponakanku pasti lapar dalam sini, seperti waktu Kak Jelita hamil dia akan makan banyak," terangnya lagi saat mengingat ipar nya itu.


"Oh ya Benarkah? tanya Renata tak antusias Iya Kak benar sekali dan aku melihatnya saja jadi berdidik ngeri.


"Iya tapi kan tidak dengan makanan sebanyak ini bahkan jika mejanya bisa berkata dia pun bakalan menolak,


"udah kakak, Tenang aja aku yang traktir kok," "Bukan masalah itu, Ra, tapi..."


"sudah Kak, makan aja nanti kakak telat lagi ketemu sama si Bos,!" Renata terpaksa menurut saja. Selesai makan keduanya pun segera menuju ke ruangan dimana Bosnya menunggu. Sedang Amara memilih meninggal kan Renata saat Renata berjalan mengetuk pintu.


Tok tok tok tok tok tok.


"Masuklah,!" tidak dikunci tegas suara sahutan dari dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2