
"Aku tidak menyangka kau begitu kejam kepada adikmu sendiri. Dan kenapa aku baru tahu ya kalau kau ternyata mempunyai adik yang sangat cantik dan dia cukup manis." Jujur Darandra sambil tersenyum membayangkan wajah cantik Tasya yang tertunduk malu-malu. Dan tanpa dia sadari Arya terus memperhatikan gelagatnya.
"Kau kenapa? kau jangan membayangkan yang macam-macam tentang adikku. Kalau kau tidak mau aku suntik kejang-kejang!" ancam Arya membuat Darandra menekuk wajahnya.
"Aku baru saja membayangkan adikmu kau sudah emosi belum juga aku menikahinya kau pasti akan langsung membunuhku!" kesal Darandra.
"Itu kamu tau sendiri" kekeh Arya menimpali.
"Aku takut saja hal yang sama terulang lagi" ucap Arya lirih.
"Terulang lagi, maksudmu?" tanya Darandra bingung.
"Sebulan yang lalu Tasya hampir saja di perkosa oleh matan tunangannya."
"Apa! dia hampir di perkosa?" Darandra sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Iya dia Tidak terima di putuskan karena ia merasa sangat mencintai Tasya, sedang Tasya Sendiri memilih mengakhiri pertunangannya karena lelaki bangsat itu berselingkuh bahkan dengan sahabat dekat Tasya." Geram Arya yang mengingat kembali kejadian itu.
Dan kamu tau, sahabat dekatnya itu juga yang menolongnya saat ia hampir saja di perkosa. Dia Cewek yang hebat bukan, dia bahkan berhasil membuat ular Naga milik mantan tunangan Tasya tak berdaya." Dan Arya tersenyum penuh misteri di saat ia menginat sesuatu.
"ltu lah kenapa sekarang aku harus tegas pada Tasya karena aku tidak mau Tasya jadi korban kebiadaban laki-laki hidung belang." sambung Arya melanjutkan ceritanya.
"Tapi aku menyukainya dan ingin benar-benar melamarnya." Ucap Darandra tanpa sadar.
" Apa maksudmu! kamu jangan main-main dengan adikku walaupun kamu adalah sahabatku baik ku jika kau macam-macam maka kau tau sendiri kan akibatnya." Ancam Arya kembali.
"Aku serius aku tidak main-main sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bunkah kamu sendiri tahu kalau selama kita kuliah bersama.
Apa aku pernah membawa perempuan mencintai perempuan.? Bahkan orang-orang menganggap aku Gay karena selalu jalan berdua denganmu." kenang Darandra kembali.
"Hem...dan pada saat itu dia tersenyum sangatlah manis dan aku sangat menyukai senyumnya itu gadis manis aku mencintaimu" Arya meraih tangan Darandra lalu menciumnya.
"D_Dokter maaf!"
__ADS_1
"Kau, apa yang kau lakukan denganku!" sergah Arya pada Darandra menepis tangan Darandra padahal dia sendiri yang melakukannya.
"Aku?"
tanya Darandra menunjuk pada diri sendiri.
"Ada apa suster?" tanya Arya mengalihkan kekesalan Darandra.
"Dasar sial...!" umpat Darandra. sedang sang suster sudah membrikan tatapan aneh pada mereka berdua.
"Suster ada apa?" kembali Dokter Arya bertanya dengan suara datarnya karena sang suster masih terus memperhatikannya.
"E-e anu i-itu Dok! pasien Anda yang luka tembak sepertinya dia sudah sadar" terang Sang suster yang tergagap karena mendengar nada suara Dokter Arya yang sudah mulai datar serta merapat tatapan tajam.
"Ayo kita kesana!" ajak Arya pada Darandra sambil menarik tangannya.
"Lepaskan! aku tidak mau orang-orang menatap aneh padaku karena dirimu." ketus Darandra yang masih kesal.
Sedang Arya sendiri hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah sahabat yang memang tak pernah terpisahkan dari dulu itu, namun karena tugas masing-masing mereka pun harus berpisah pantas saja orang-orang menganggap mereka itu Gay. padahal Mereka tidak tau kalau keduanya adalah satu tim dalam melaksanakan tugas dari kampus. Sedangkan Arya merasa bahagia telah berhasil mengerjai temannya itu.
Dokter Arya melangkah masuk di barengi Dokter Darandra yang menyusul di belakang nya.
*
*
*
"Apa Bi! dia pergi dengan berdua dengan wanita itu?"
"Iya Non, Bibi fikir Den Exel membawa Non untuk ikut." Lapor Bi Nany membuat Dara semakin kesal dan sakit hati.
"Kak, kakak...! rupanya kau disini aku sudah mencarimu kema-mana!" teriak Jelita membuat Dara menghentikan obrolannya.
__ADS_1
"Nanti kita sambung Bi." Ujarnya pada Bi Nany yang masih berada dalam sambungan telepon.
"Iya Non..." Balas Bi Nany sambil menggangguk padahal tidak ada yang melihat anggukannya itu.
"Ada apa Je? bisa tidak kamu tidak mengagetkan Kakak!" ketus Dara menatap kesal. Sedang Jelita hanya bisa terkekeh melihat raut kesal kakak nya itu.
"Lagian juga. Jelita sudah berteriak sampai menggedor-gedor pintu tapi Kakak sepertinya sedang serius memangnya ada apa sih Kak? serius amat, lagi pula Kakak pagi-pagi datang tanpa menyentuh makanan apapun. Apa Kakak lagi ada masalah?" tanya Jelita dengan tatapan menyelidik.
"Tidak apa-apa!" jawab Dara cepat dia tidak ingin Jelita yang super bawel itu terus bertanya tanpa henti.
"Ada apa? Kamu mencari Kakak!"
"Itu Kak, ada Bunda dan mertua Kakak tuh diluar!"
"Mertua? bukankah mertua Kakak cuma Bunda?" Dara hanya mengerutkan alisnya binggung.
"Sayang...! Bunda kangen sama kamu!" cicit Anggun yang baru saja masuk bersama Sonya dan di ikuti Dad Rafa dari belakang dan seorang lelaki asing yang tidak begitu ia kenal.
"Mommy juga kangen bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Sonya menatap Dara dengan begitu intens.
"Bunda...! Mommy...!" cicit Dara lalu menghambur memeluk Anggun dan Sonya.
"Apa kau tak ingin memeluk Daddy?" sela Rafa yang terus memperhatikan interaksi ketiga wanita di yang sedang melepas rindu depannya itu.
Dara pun melepaskan pelukannya dari sang Bunda dan berbalik menatap ke arah Rafa yang berdiri di samping lelaki asing yang hampir seumuran dengan Daddy nya itu.
"Dad...!" cicitnya memeluk sang Daddy.
"Sayang anak Daddy. Maafkan Daddy jika selama ini sudah membuatmu menikah dengan Kenan, karena perbuatannya sampai detik ini dia tak bisa membuatmu bahagia." mendengar apa yang di katakan oleh Daddy nya Dara tiba-tiba saja menjadi melow air mata yang ia tahan seketika luruh membuat Anggun dan Sonya saling melempar tatapan iba melihat putri sekaligus menantunya itu menangis sesenggukan.
Sonya pun menghampiri Rafa yang masih memeluk dan memberikan usapan di punggung Dara untuk menguatkannya sang Putri.
"Sayang sudahlah kamu jangan bersedih lagi. kami semua disini ada untukmu, lihatlah Bunda mu, Daddy mu, ada Mommy, dan Om Bram, juga Jelita Adik mu yang selalu mendukung mu." Bukannya berhenti menangis Dara makin mengencangkan suara tangisnya, hingga Anggun yang terdiam dari tadi segera menghampiri sang Putri. Rafa dan Sonya pun segera menyingkir dia memberikan kesempatan untuk Anggun menghibur sang putri diantara semuanya hanya Sonya yang mengetahui permasalahan yang di kini tengah dihadapi Dara dan Exel karena Bi Nany sudah memberitahukan nya.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis sayang ayo jelaskan apa Daddy saat memelukmu dia mencubitmu?"
"Sayang...kenapa kau bertanya seperti itu? timpal Rafa yang langsung mendapat tatapan sengit dari Anggun.