
"Bajingan kau Dokter, cabul!"
Bugh, Bugh, Bugh.
Pukulan, yang tiba-tiba, dan bertubi-tubi membuat Dokter David terjukal kebelakang, karena tak sempat mengelak. Sedangkan Renata menutup mulut dengan ke dua tangannya, dengan mata yang membulat, saat ntah dari mana tiba-tiba saja Baron menghajar Dokter David, bukan sampai di situ saja kini Baron menarik kerah baju Dokter David lalu mencengkram nya.
"Bangun kau Brengsek...kau, berani-beraninya kau memeluk wanitaku, apa kau sudah bosan untuk hidup, hah...! jawab aku Brengsek!"
"Maaaas...Jangan...! dia bisa mati Mas, aku mohon sayang dengar kan aku!" Renata berteriak histeris, memeluk tangan, dan tubuh suaminya, agar tidak melanjutkan pukulannya itu. Baron yang menyaksikan, Renata memeluk tangannya saat ingin menghajar Dokter David kembali semakin emosi karena la berfikir kalau Renata sedang membela dan melindungi dokter David.
"Lepaskan aku! kau, dan dia, sama saja!"
"Tidak...! Mas, Aku tidak ingin kau melakukan nya lagi Mas, Aku mohon. Kau bisa membunuhnya dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Sebaiknya kita pulang saja Mas, kita selesaikan semuanya secara baik-baik di rumah."
"Baiklah, sebaiknya seperti itu. Dan kau bersiap-siaplah menerima hukuman dariku!" Ancam Baron, lalu menarik kasar tangan Renata, setelah sampai di mobil Ia pun menghempaskan tubuh Renata dengan kasarnya, tanpa melihat kalau Renata sedang meringis kesakitan. Ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Dokter David berusaha untuk bangkit berdiri sambil menyeka sudut bibirnya yang sudah pecah mengeluarkan darah.
"Dokter…!" cicit suster Susan, yang baru saja tiba. Ia dengan cepat membantu Dokter David berdiri, dan segera memapahnya ke ruang perawatan. Sementara itu, Baron yang dikuasai emosinya terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Renata begitu sangat ketakutan, namun apalah dayanya sekarang ini Baron benar-benar sangat Marah, dan tanpa di sadari nya kertas yang berada di tangannya terlepas jatuh ke bawah kursi kemudi. Setelah 30 menit Baron pun menghentikan mobilnya, Ia pun segera turun dan membuka pintu mobil bagian belakang dimana Renata yang masih bergetar ketakutan.
"Keluarlah cepat!" seru Baron kepadanya.
"Kita mau ke mana Mas?" cicit Renata saat Baron menarik tangannya dengan kuat, apa lagi rumah yang ia masuki nampak begitu besar dan mewah.
"Mas,,"
"Sudahlah, diam. lkuti saja aku! sekarang bersihkan tubuhmu aku tidak mau ada bekas atau bau Dokter itu masih menempel pada tubuhmu itu!" Sarkasnya.
Dengan cepat Renata mengikuti apa yang di perintah kan Baron padanya.
Sudah satu Jam Baron menunggu, namun Renata tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Wanita ini benar-benar apa yang di lakukan nya di dalam?" gerutunya.
la pun segera mendekat ke pintu lalu mengetuk nya sambil berteriak.
"Ren...Renata apa kau masih hidup, sedang apa kau di dalam kenapa lama sekali?"
__ADS_1
"Mas…ambilkan aku handuk atau baju ganti aku lupa membawanya!" balas Renata dari dalam.
"Kau keluar saja, untuk apa kau menutupinya!"
"Aku malu Mas…"
"Untuk apa kau malu, lagi pula apa yang harus kau tutupi dariku. Aku sudah melihatnya bahkan sudah merasakan nya."
"Mas...cepat aku kedinginan!" teriak Renata lagi. Baron hanya terkekeh sambil berlalu la pun segera meraih sebuah handuk kecil, lalu segera memberikan nya pada Renata.
"Cepat pakai lah dan jangan lama-lama karena kau harus di hukum, setelah ini."
Renata tidak memperdulikan ucapan Baron karena sekarang la sibuk memakai handuk di tubuhnya.
"Ya,, ampun Mas Baron, apa dia sengaja memberikan handuk kecil seperti ini, ini kan sama saja dengan aku tidak memakai handuk!" gerutunya, saat handuk yang di pakainya hanya menutupi bagian dada dan bokongnya saja.
Ceklek.
"Mas...kau,, apa-apaan. Untuk apa memberiku handuk seperti ini?"
"Mas...aku serius!" kesal Renata
"Panggil aku sayang, aku lebih suka panggilan itu." Ucapnya sambil menarik pinggang Renata dalam dekapan tangan kekarnya.
"S-sayang,, kau, mau apa?"
"Apa kau lupa, kalau aku akan menghukummu. Dan aku juga ingin memastikan apakah sudah tidak ada bau atau bekas Dokter Brengsek itu lagi." Ucapnya sambil mengelus tubuh istrinya itu.
"Tap-tapi sayang aku__" suaranya menghilang saat Baron menekan tengkuknya, dan ******* dengan lembut bibir yang selalu menggodanya itu.
Dan dengan kasar Baron menghempas kan tubuh Renata, di atas tempat tidur handuk kecil yang menutupi tubuhnya pun sudah melayang ntah kemana, bahkan Baron pun kini sudah polos seperti bayi dan seperti biasanya Baron melakukan penyatuan nya tanpa pemanasan terlebih dahulu. Dengan sekali hentakan la menghujamkan miliknya kedalam kepemilikan Renata, dan kembali lagi Renata berteriak histeris.
"Aaaa tidak...!"
"Hei...! kau kenapa? apa yang sedang kau fikirkan? bukankah aku menyuruhmu untuk segera memakai baju, karena aku sekarang sedang lapar, dan masak lah sesuatu Untukku. Karena itu akan jadi hukumanmu. Apa kau mengerti!"
__ADS_1
"I-iya sas-sayang Aa-aku mengerti." Jawab Renata gugup karena menahan malu sudah membayang kan yang tidak-tidak.
"Cepatlah! aku akan menunggumu di bawah."
Renata pun hanya mengaguk, sambil tersipu.
"Ya ampun kenapa aku lupa bertanya pakaianku dimana? coba aku kesana."
Renata pun berjalan menuju sebuah lemari yang sangat besar, la membuka lemari tersebut dengan hati-hati sekali, dan matanya terpana melihat isi lemari di depannya itu.
"Gaun,, yang sangat cantik." gumamnya sambil menyentuh gaun yang begitu mewah di depannya itu
"lebih baik aku ambil yang ini saja, seperti nya akan jauh lebih nyaman kalau aku pakai" Renata pun meraih sebuah baju yang nampak biasa saja, namun saat ia memakainya baju tersebut malah membuatnya terlihat jauh lebih Anggun.
Setelah di rasa sudah cukup ia pun bergegas mencari Baron, menuju dapur,
"Kemana sih dia?" Renata terus menatap sekelilingnya, mencari Di mana keberadaan Baron.
"Sayang kamu di mana? Katanya laper aku sudah di sini. Tapi aku tidak tahu dapurnya Di mana?" teriak Renata sedangkan suaranya kini menggema ke seluruh ruangan.
"Unda…Unda…teriak seorang anak kecil yang tiba-tiba saja berlari menghampirinya, mebuat Renata terkejut, apa lagi anak itu sekarang memeluk kakinya.
"Anak Bunda, kamu kok di sini sayang, nenek mana?"
"Ibu ada di sini nak." jawab Bu Sofia yang tiba-tiba saja muncul bersama Baron di depannya,
"Mas Baron, ibu." Renata hanya menatap dengan tatapan heran dan bingung. Ayo cepatlah kemari kok malah bengong disitu sih!" seru Baron pada Renata.
"I-iya tet-tapi…aku…,,"
"sayang sudah ayo cepat. Aku sudah lapar apa kau tak lapar? dari tadi kau belum makan. Ayo cepat!"
"Tat-tapi sayang Aku kan belum masak."
"Udah masaknya besok saja, sekarang makan saja masakan lbu. Aku rasa kau, akan menyukainya." Baron pun menggandeng tangan Renata menuju meja makan, Ia pun menarik sebuah kursi lalu mendudukkan Renata, kemudian ia menyendokkan makanan yang ada di atas meja makan untuk Renata. Renata hanya melongo, bingung, dengan perubahan sikap Baron kepadanya.
__ADS_1
"Ayo cepatlah makan jangan lupa makan yang banyak supaya tenagamu bisa kembali lagi."