Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jangan menyalahkan.


__ADS_3

Baik Jelita, Amara, dan Bu Sofia Sama-sama menoleh ke arah sumber suara, tersebut.


"Baron?" cicit Bu Sofia sedangkan Jelita menatap dengan tatapan intimidasinya ingin rasanya la mencekik laki berotot tersebut. Karena sudah seenaknya pada Renata.


"Bu…bagaiman dengan putraku apa dia baik-baik saja dan kenapa sampai terjadi seperti ini? apa para pelayan yang aku gaji tidak menjaga nya dengan benar?" serentetan pertanyaan terus saja Baron lontar kan kepada sang Ibu.


"Kau Jangan menyalahkan siapa-siapa semua ini kecelakaan dan mungkin semua ini tidak akan terjadi jika kau mendengar perkataan ibu. Selama ini yang menyuruh mu menikah dengan wanita yang bisa menerimamu dan anakmu apa adanya. Tapi kamu tidak pernah mendengarkan! kalau kamu menikah pasti akan ada yang membantu ibu." Kesal lbu Sofia


yang merasa kesal pada putranya itu.


"Bu…tatap Baron Bu, Ibu tahu sendiri kan kalau aku_"


"Kalau kamu apa? kalau kamu masih mencintainya, masih mengharapkannya kembali, Buka matamu Baron. Buka Hatimu, buka pikiranmu, kamu jangan Terbelenggu dengan masa lalu karena itu akan membuat dirimu menyakiti seseorang ucap Bu Sofia tanpa sadar menjeda kalimat Baron.


"Apa maksud lbu?"


"Sudahlah lupakan kata-kata ibu itu, lagi pula semuanya tidak berguna untukmu."


"Buuu…"


"Sudah Baron! sekarang Ibu mau masuk untuk menemui Bara. Kamu mau ikut atau tidak?"


"Tentu saja aku akan melihat Putraku itu, tapi. Siapa mereka ini tanya Baron saat melirik ke dua wanita dengan menggendong seorang bayi yang masih merah.


"Perkenalkan saya Jelita istri Damara dan ini Amara adik ipar saya jawab Jelita dengan tetapan sinis."


"lstri Tuan Damara? tapi saya pikir saya sudah tidak punya sangkutan apa-apa lagi sama Tuan Damara.? Kenapa kalian berada di sini?" "Aku ke sini hanya untuk menjenguk Renata kok ucap Jelita membuat Baron membulat kan matanya.


"Renata tapi Bukankah dia dan_"


"ya itu adalah masa lalu kami dan saat ini aku sudah memaafkan semua kesalahannya, karena aku rasa setiap orang dan setiap manusia berhak untuk mendapatkan kesempatan berubah menjadi orang yang jauh lebih baik lagi, dan itupun kita harus memberikannya dukungan yang nyata, bukan dengan tindakan menyakitinya karena itu kita akan sama saja, dengan perbuatannya yang telah lalu." Sela Jelita


"Ada apa Baron? Kenapa kau begitu tahu sekali tentang wanita yang bernama Rena-Renata itu? tanya Bu Sofia pura-pura heran, sambil mendelikkan wajahnya menatap Baron?


"Tidak apa-apa Bu jawab Baron sambil menetralisir Perasaannya yang mulai tidak enak.


"Bagaimana kabar wanita itu? sudah satu minggu ini aku tidak menemui nya Apakah dia sudah baik-baik saja atau malah lebih buruk lagi? tapi untuk apa juga aku peduli padanya? dia kan aku nikahi hanya untuk melampiaskan dendamku saja, dan dia memang harus mendapatkannya dia sudah menyakiti orang lain. ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.


"Baron apa Kau mendengarkan ibu!"

__ADS_1


"I-ya Bu ada apa?" jawab Baron gugup


"katanya kau mau ikut ibu masuk kedalam menemui Bara. Apakah kamu lupa?"


"Aa-ah ya, Baron tidak lupa cuma apa tidak lebih baik lbu dulu yang menemuinya karena Baron akan menemui dokternya dulu bohongnya.


"Ada sesuatu yang ingin Baron tanyakan."


"Apa itu?" selidik Bu sofia. Sambil menakutkan alisnya.


"Itu Bu, kapan Bara boleh pulang dan apa kepalanya baik-baik saja" terangnya lagi.


"Baiklah tapi jangan lama-lama kamu harus cepat kembali karena lbu tidak mau kalau Bara bangun dan menanyakanmu lagi."


"Iya Bu Baron, hanya sebentar kok!" jawab Baron sambil berlalu meninggalkan ketiga wanita yang masih menatapnya dengan senyum di bibir itu.


"Semoga, semuanya berhasil ya Bu?" Sela Jelita, sambil tersenyum ke arah Bu Sofia.


"Iya semoga semuanya berhasil nak Jelita, dan terima kasih banyak karena semua ini berkat bantuan Kalian juga." Ucap Bu Sofia sambil menggenggam tangan Jelita.


"Tidak apa-apa Bu, kita ini kan manusia biasa yang harus saling membantu kalau ada kesusahan. Oh iya Ibu masuk saja dulu untuk menunggu cucu lbu biar kami akan pulang dulu"


"Apakah kalia tidak mau ikut masuk?" tawar Bu Sofia"


"Baiklah sekali lagi Ibu ucapkan terima kasih pada kalian karena telah membantu ibu Padahal kita tidak saling mengenal.


"Sudahlah Bu, kalau begitu kami pamit dulu ya Bu."


"Ya nak hati-hati di jalan ya."


"Iya Bu," Jelita pun melirik ke arah Amara.


"Kita pulang yuk Am.!"


"Ya Kak," jawab Amara pelan saat matanya menatap seluit seseorang yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa tanya Jelita karena tiba-tiba saja Amara seperti melihat hantu.


"A-Aku Tidak apa-apa Kak. Ayo kita pergi" Amara pun Mengayunkan langkah kakinya cepat dia tidak ingin bertemu dengan orang tersebut.

__ADS_1


"Jelita Amara kalian mau ke mana? Ngapain kalian di sini?"


"Eh kak, Andra kamu bisa nggak sih tidak mengagetkanku!" protes Jelita Darandra hanya terkekeh mendengar protes sang adik "Kakak dari mana Kenapa baru kelihatan sekarang?"


"Kakak dari rumah sakit Emergency karena kakak akan Stay di sana."


"Lalu rumah sakit ini?"


"Kamu tahu kan kesalahan apa yang kakak telah perbuat dan Dad Anthony sudah memutuskan kalau Bayu yang akan menjadi pemimpin seluruh rumah sakit. Aku sendiri akan dipindahkan ke rumah sakit Emergency. Oh ya kamu belum menjawab pertanyaan Kakak kalian ke sini ngapain?"


"ltu Kak, aku ke sini menjenguk anaknya teman Dia kecelakaan tapi Alhamdulillah sekarang sudah baik-baik saja."


"Apa sekarang Kamu mau pulang? kalau begitu biar Kakak antar saja bagaimana?"


"Tapi Kak, Apa Kakak tidak ada tugas hari ini?" "tidak kok, hari ini kakak kosong."


"Baiklah tidak apa-apa tapi mobilnya pakai mobilku saja, biar mobilnya nanti_"


"biarkan mobilnya Amara yang bawa, Kak," sela Amara menjeda kalimat Darandra karena ia tidak ingin satu mobil dengan pria itu.


"Ya udah ayo berangkat!" seru Jelita


"Apa boleh Kakak masuk?" tanya Darandra sambil melirik ke arah Amara yang baru saja tiba, dan duluan masuk.


"Tentu saja Kak, sejak kapan Kakak mulai meminta izin padaku?"


"Sejak kau menikah." Jawabnya asal.


Jelita pun pamit menuju lantai dua untuk menidurkan Baby Ar, sementara Amara saat asyik Menganti pakaian setelah membersihkan tubuhnya tiba-tiba saja di kejutkan dengan sebuah tangan yang melingakar di pinggang nya.


"Kau-kau siapa!?"


"Ussst…diamlah biarkan aku memelukmu sesaat saja calon istriku."


Deg.


"K-kau…!"


"Yah aku kenapa? apa kau berharap ada lelaki lain yang memelukmu."

__ADS_1


"Ya tentu saja aku mengharapkan ada lelaki lain, setidak nya aku akan merasa sedikit, bernafas lega." Jawab Amara datar.


"Kau! berani-berani nya kau mengatakan itu depanku!" Darandra membalik tubuh Amara hingga kini mereka saling melempar tatapan tajam. Namun Amara segera memutus tatapannya dan memilih melihat ke arah lain, karena ia tidak sanggup jika terus menatap Pria yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang, namun lelaki yang sekaligus membuatnya merasa sakit di waktu yang bersamaan.


__ADS_2