
Setelah sadar mereka pun bangkit dan saling memberi tatapan tajam.
"Apa kau bilang? apa aku tidak salah dengar bukankah kau sendiri yang membuat kesialan untuk ku.!'' Bukan kah kau mengatakan aku ini wanita jadi-jadian tapi kenapa kau begitu menikmati tubuhku ini, atau apa kau sekarang sengaja mencari jalan bagaimana caranya menikmat tubuhku ini.!" Jelita yang masih begitu kesal menatap sinis kepada Damara yang masih diam dengan raut wajah gelisah namun nampak tetap datar itu.
"Dasar sial jika aku meladeni wanita ini aku akan terlambat nantinya. Dan kenapa juga aku sebodoh ini kenapa aku bisa terlena dengan hanya menghirup aroma tubuhnya saja. Aku harus segera pergi dari sini."
Gumamnya dan memilih untuk segera beranjak pergi.
"Hey...kamu mau kemana? apa sekang kamu sudah tak punya nyali untuk menjawab atau merespon setiap perkataan ku?. Aku rasa kamu tidak akan berubah bisu kan karena tabrakan tadi?"
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni wanita seperti mu!" sergah Damara memberi tatapan dinginnya namun itu tak lantas membuat Jelita menjadi gentar dan ciut malah ia sangat bersemangat ingin membalas laki-laki yang kini Dihadapan nya yang pernah pernah meninggalkan nya di tengah hujan deras, untung saja waktu itu dia tidak jatuh sakit.
Setelah berkata seperti itu lantas Damara pun mengatur kembali langkah kaki tegasnya buru-buru.
"Hey tunggu! kamu mau kemana kamu harus Menganti kerugian ku. kamu harus mengganti Es crem Kakak ku dan apa kamu lihat ini?" Jelita menunjuk noda merah yang ada di pakaiannya Akibar Es crem Stowbery yang di bawanya tadi.
Damara pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet dan mengeluarkan sejumlah uang Dolar. Lalu melemparnya ke hadapan Jelita.
"Aku rasa itu cukup untuk mu, aku tidak punya uang tunai dan aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu jadi menyingkirlah dari hadapanku.!" sergah Damara semakin kesal.
"Kau, ayo ikut aku, aku tidak butuh uangmu tapi tanggung jawab mu!" dan Jelita segera menarik lengan Damara membawanya pergi dari situ.
__ADS_1
"Lepaskan aku sedang buru-buru" cicit Damara menghempas tangan Jelita namun Jelita adalah Jelita Putri seorang Rafa yang tak pernah ingin mengalah dengan siapa pun apa lagi orang itu orang yang sangat ia benci.
Jelita kembali menarik tangan Damara dan membawanya masuk ke sebuah toilet yang terdekat tanpa menyadari di situ ter tera tulisan pintu Toilet rusak.!
"Kau, untuk apa kau membawaku kemari!" sentak Damara menghempas kembali tangan Jelita begitu melihat Jelita membawanya masuk di dalam toilet.
Ceklek.!
Suara pintu toilet yang tiba-tiba tertutup.
Jelita tak menjawab pertanyaan Damara ia memilih segera membuka pakaiannya, membuat Damara tercekat dengan aksi nekat wanita di depannya itu.
Jelita segera menyodorkan pakaian yang sudah ia buka sedang Damara memilih memalingkan wajah nya karena Jelita kini hanya memakai tanktop sebagai lelaki normal ia pun pasti akan tergoda oleh kemolekan dan kesintalan tubuh Jelita yang tiada cacat tercela itu. Damara pun dengan susah payah menelan Saliva nya.
"Ya tentu saja untuk minta tanggung jawab mu. Bersihkan bajuku sekarang juga! atau aku akan berteriak kalau kau ingin memperkosa ku dengan bukti baju yang ada di tangan mu itu.
"Jadi kau membawaku kesini hanya untuk pakaian sampah ini!" Damara melempar asal baju Jelita yang ada di tangannya dan memilih berjalan ke pintu. Sedang Jelita membulatkan matanya melihat bajunya yang tergeletak di lantai toilet.
"Tolooong...tolong aku ada yang mau memperkosa ku...!" Jerit Jelita berteriak membuat Damara mengurungkan niatnya meraih gagang pintu padahal tangannya sudah menggantung menyentuh handle pintu. Damara memilih memungut kembali pakaian Jelita yang sempat di buangnya, Jelita pun tersenyum penuh kemenangan.
"Kau harus membersihkan nya sebersih-bersihnya karena itu baju kesayanganku. Itu baju hadiah pertama dari Kak, Kenan" selanya begitu melihat Damara berjalan menuju wastafel. Namun saat tangannya terangkat tiba-tiba gawainya berdering.
__ADS_1
Damara segera mengangkat dengan perasaan yang sudah tidak enak.
"Halo...! apa...! katakan padaku kalau semua ini tidak benar kan? kau berbohong pada ku kan? Grandma tidak mungkin pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa menungguku dulu. Grandma... Aaaarrgh!" Damara berteriak histeris membuat Jelita terhenyak seperti melihat sisi lemah dari lelaki itu.
Entah apa yang di bicarakan tapi Jelita bisa melihat kalau laki-laki di depannya ini sedang berduka terlihat dari kesedihan Yang begitu Jelas terpampang. Tangan Damara gemetar giginya menggelatuk sedang tatapannya kini seperti singa kelaparan dan itu mampu menhujam di hati Jelita.
"A-apa kau baik-baik saja?" Jelita mulai melemahkan suaranya bertanya karena biar bagaimana pun dia juga punya sisi sensitif.
"Sekarang kau bertanya apa aku baik-baik saja setelah semua apa yang terjadi kau membuat ku terkurung di sini dan tidak bisa bertemu dengan orang yang aku cintai untuk selama-lamanya, dan aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Kau harus merasakan sakit yang aku rasakan!" dengan mata yang sudah memerah karena luapan Emosi dan kesedihan yang kini berkecamuk menjadi satu. Darama memberikan ancaman dan itu mampu membuat Jelita ketakutan ia pun memilih meraih pakaiannya dan berlari menuju pintu namun sayang pintu itu terkunci secara otomatis.
"Ada apa dengan pintunya kenapa tidak bisa di buka?" Jelita terus berusaha untuk membuka pintu.
"Tolong apa ada orang tolong buka pintunya!" teriak Jelita sambil menggedo-gedor pintu.
"Untuk apa kau berteriak meminta tolong karena kita sekarang berada di dalam toilet rusak jadi tidak akan ada yang akan kemari, untuk itu mari kita nikmati suasana ini." Entah sejak kapan Damara berada di belakang Jelita ia meraih tangan Jelita dan berbisik lembut di telinganya.
"Le-lepaskan! apa maksudmu?" cicit Jelita menetralisir Jantungnya yang tiba-tiba saja berdegub kencang.
Bukannya melepaskan Damara membalik tubuh Jelita hingga merekapun saling berhadapan dan entah mengapa Jelita begitu ketakutan melihat sorot mata Yang dimiliki laki-laki di depannya itu.
"Tatap aku! tatap aku wanita bodoh!" sergah Damara penuh penekanan melihat Jelita yang tak ingin menatap nya itu. Jelita bergeming tak memperdulikan bentakan dari Damara, sungguh Jauh di dalam hatinya ia merasa telah berbuat salah pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Damara yang sudah mulai terpancing emosinya dari tadi kini tambah geram dengan Jelita yang tidak mau menuruti kata-katanya untuk menatapnya, karena Damara adalah tipe Laki-laki yang tidak suka penolakan.
"Tatap aku bodoh...!"