
"Damar...Apa kau tak mau menjawab pertanyaan Mimi mu!"
"Mi…! Damara sedang menunggu pipi dulu Grandpa dan grandma sahut Damara sambil tersenyum Nah itu mereka sudah datang seru Damara dengan senyum lima jari saat melihat kedatangan Ketiga orang yang sangat ia rindukan itu.
"Damar Kenapa kau berada di sini? Iya nak kenapa kamu berada di sini ini kan Bukan tempatmu sayang?" sahut sang Papi.
"Tapi Pi Damar kangen sama Pipi dan Mimi Damar juga kangen sama grandma dan Grandpa izinkan Damar tinggal di sini bersama kalian ya" rajuknya memohon.
"Tidak Damar! ini Bukan tempatmu belum saatnya kamu kemari Damar, Masih banyak hal yang harus kau lakukan di dunia Lihatlah istrimu dan anakmu Kasihan dia Coba kamu lihat sendiri. Bagaimana susahnya saat ini dia sedang melahirkan keturunanmu sayang Lihatlah perjuangannya."
"Tapi pipi aku kangen samakalin izinkan Damar di sini?"
"Tidak Damara belum saatnya kamu bisa ke sini Kembalilah! Lihatlah nak Lihatlah istrimu dia begitu Terpukul mendengar kepergianmu dan Apa kau ingin melihat anakmu menderita? dengarkan kami juga merindukanmu sayang tapi dunia kita sudah berbeda kau bisa menemui kami hanya dengan lewat doa yang selalu kalian panjatkan." Damara hanya terdiam mendengar apa yang disampaikan orang-orang tercintnya.
"Sayang aku mencarimu kemana-mana ternyata kau ada disini. Aku merindukanmu" Ucap Jelita memberikan kecupan hangat.
"Kak-kau, kau sedang apa? kenapa kau kemari dan kenapa ada bayi bersamamu?" Jelita hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Damara dengan nada terkejutnya, "Sayang…aku kesini untuk memjemputmu, dan tentang bayi ini_" Jelita menjeda kalimatnya menatap sang bayi sebelum akhirnya menatap sang ayah dari bayinya itu.
"Apa kau benar-benar tidak mengingat nya?"
"Tentu saja tidak. Karena aku baru pertama kali melihatnya."
"Apa kau lupa dia adalah cinta kita. Dia putra mu Sayang."
"Dia?" Tunjuk nya pada bayi merah yang masih belum bisa membuka kelopak matanya itu.
"Pi, Mi, Grandpa, grandma Lihatlah bayi mungil ini dia adalah cucu dan cicit kalian, tunjuk Damara memperlihatkan Putra kesayangan nya pada kedua orang tua dan juga Grandpa dan grandma nya.
"Sas-sayang apa yang kau katakan apa kau bicara dengan seseorang?" tanya Jelita dengan raut wajah binggung karena karena hanya dirinya dan sang bayi di situ.
"Jadi kau tidak melihat kedua orang tua ku dan juga Kakek dan Nenekku, dari tadi mereka disini."
"Ap-apa jadi mereka benar-benar ada di sini dan kau melihatnya? jad-jadi mereka pun melihat ku tadi sedang menciummu." Kejut Jelita sedang kan ia mengecilkan suara saat berkata menciummu karena ia sudah merasa malu setengah mati.
__ADS_1
"Ya! tentu saja mereka melihatnya, malah mereka menyuruh kita melakukannya lagi, dengan yang lebih_"
"Lebih apa!" Sela Jelita memjeda kalimat Damara dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu.
"Ya! Tentu saja dengan yang lebih mesra sayang iya kan Pi, Mi!" Serunya sambil menarik pinggang ramping Jelita.
"Auw…Mi…kenapa aku di jewer Grandma juga kenapa mencubit pinggang ku!" protesnya
"Itu balasan buatmu yang sudah menjual nama kami bilang saja kalau kamu yang nafsu dasar suami mesum, dasar Cucu tidak luknat tidak ber ahlak sejak kapan kami menyuruh mu mengulangi nya!"
omel kedua wanita tersayang nya itu.
Sedangkan Damara hanya bisa terkekeh mendengar keduanya menggerutu.
Lain halnya dengan Jelita yang masih binggung dan bergidik ngeri.
"Lihatlah istrimu itu dia sepertinya ketakutan dan binggung. Cepat kau antar dia pulang! katakan padanya kami mencintainya dan jaga mereka berdua jangan kau sia-siakan menantu dan cucuku!"
"Iya Mi, aku tidak mungkin melakukan itu karena aku sangat mencintainya" ucapnya menatap wanita cantik di samping nya yang kini dalam rangkulannya itu.
"Benarkah?" tanya Jelita dengan raut wajah yang berbinar. Dan di jawab anggukan dari Damara.
"Mi, Pa, Grandpa, Grandma, aku juga menyayangi kalian dan aku juga sangat mencintai suamiku." Ujarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Oweeek…oweeek…oweeek…!"
Lengkingan suara tangis Bayi yang masih berada dalam gendongan nya membuat Jelita panik.
"Maaf semuanya aku harus pergi untuk menyusuinya kasihan dia pasti lapar." Jelita pun bergegas menggendong sang bayi menjauh. Namun seseat kemudian la berhenti.
"Jika kau mencintai ku dan anak kita maka pulang kembali di sisiku karena aku sangat mencintai mu.bukankah kau juga pernah berjanji kalau kita akan menua bersama!" Seru Jelita tanpa berbalik dan terus berjalan menuju sebuah pantulan cahaya lalu kemudian dia menghilang.
"Jelita tunggu…tunggu Aku!"
__ADS_1
"Pergilah sayang dia mungkin sekarang lagi membutuhkan mu. lngatlah kau akan terus bersama hingga menua!" seru sang Mimi.
Dan di angguki Damara tanpa menoleh kebelakang karena kini terus berjalan mengikuti arah Jelita yang tadi sempat menghilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana Dokter Rini!" Seru Dokter Darandra.
"Alhamdulilah Jantungnya kembali berdetak normal darahnya juga sudah membaik tinggal kita harus mengeluarkan bayinya"
"Baiklah segera lakukan!" Sela Dokter Darandra.
"Bismillah hirrohmanirrahim…Allahu Akbar anaknya sudah keluar, Masya Allah ganteng sekali cepat potong pusarnya!" Cicit Dokter Rini.
Dokter Rini pun segera membaringkan tubuh sang bayi di atas Dada Jelita.
"Lihatlah Putramu sangat tampan setelah ini cepat lah sadar, karena dia membutuhkan mu. Dan terima kasih sudah mau berjuang." Lirih Dokter Rini terharu.
Ia pun membaringkan bayi mungil itu di atas Dada Damara, yang masih di hiasi dengan wajah pucat dengan beberapa luka yang sudah di balut namun wajah itu kini sudah tidak menampakkan kehidupan lagi.
"Lihatlah Putramu Tuan dingin di saat seperti ini seharusnya kau membuka matamu karena aku tau mereka masih membutuhkan mu. Ayo bangunlah Tuan dingin!" Serunya dengan isakan yang tertahan. Damara yang melihatnya pun mendekat, ingin mengelus bahu dokter Rini.
Tit…Tit…Tit…Tit…
Baru saja la ingin mengangkat tangannya tiba-tiba matanya membulat melihat dilayar monitor detak Jantung Damara kembali aktif.
Sedangkan tangannya sudah bergerak-gerak.
"Cepat bawa bayinya di inkubator!" seru Dokter Rini lalu semua petugas kembali di buat sibuk dan terkejut sekaligus bahagia melihat jantung Damara kembali berdetak dengan normal bahkan semuanya baik-baik saja.
"Bagaimana ini. Apa tidak sebaiknya mereka satu bankar saja.? Aku rasa kekuatan cinta mereka yang membuat mereka bisa melewati semuanya" Ujar Dokter Arya di tengah kesibukan mereka kembali.
"Yah…Aku rasa ada benarnya Juga Dok…! separti yang Anda katakan tadi sebaiknya seperti itu.
__ADS_1
Dan akhirnya semua tim memutuskan kalau Jelita dan Damara di pindahkan di ruangan VVIP.
"Apa yang kalian lakukan padaku? kenapa kalian semua tidak bisa membuatku tidur nyenyak!"