
"Sayang aku berangkat dulu ya! ingat minum vitamin nya, jangan telat makan dan satu lagi aku minta darimu!" Ujar Exel berbalik menatap Dara yang juga kini sedang bersiap-siap menunggu Devan untuk menjemputnya.
"Ada apa sayang...!"
"Jangan tersenyum pada lelaki lain aku tidak suka, jika ada lelaki lain melihat senyum manismu, karena senyum dan bibir ini adalah milikku!" Ucap menyentuh bibir Dara lalu mengecupnya.
"Hah...sayang kamu ini ada-ada saja aku kira apaan. Sayang dengarkan aku tersenyum itu karena aku merasa otot di wajahku sudah mulai kendor bukankah senyum itu adalah sedekah dan juga ibadah, apa kamu mau bibirku monyong terus saharian, lagi pula siapa juga yang akan tersenyum sembarangan."
Dara hanya bisa tersenyum geli melihat sikap suaminya yang kadang menurutnya berlebihan dan tidak masuk akal itu, tapi itulah cara Exel mencintainya, dan mau tidak mau ia pun harus merasa nyaman dengan sikap suaminya itu. Yang kadang seperti anak kecil, manja Dan jahil Dara tak pernah menyangka jika suaminya yang ia kenal arogan itu mempunyai sisi lembut dan penyayang serta bertanggung jawab
Exel kini melesatkan mobilnya membelah jalanan Ibu kota yang sudah mulai padat karena banyaknya kendaraan. Beruntung Exel terbebas dari kemacetan karena Jalur yang di ambilnya memang tidak terlalu ramai hingga dengan mudah ia melewatinya.
Kini Exel melangkah dengan cepat namun tetap dengan langkah tegas nya, dan dengan cepat ia memasuki lift khusus yang memang di peruntukkan untuk orang-orang penting seperti dirinya itu.
"Bagaimana apa dia sudah datang?" tanya Exel saat melihat Reno yang membawa beberapa file yang akan di serahkan ke padanya.
"Sudah Tuan, Tuan Damara sudah berada di dalam dari tadi menunggu Anda" jelas sang Asisten memberi keterangan.
"Baiklah lanjutkan tugasmu biarkan aku yang membereskan semuanya!" serunya sambil meraih file yang diserahkan oleh Reno kepadanya.
"Baik Tuan...saya pamit dulu" Setelah memberi hormat Reno pun segera pergi meninggal kan Exel yang kini mulai memasuki ruangan nya itu.
Ceklek.
"Kamu! apa-apaan, apa kamu sengaja ingin membuat kacau di perusahaan ini?" Sarkas Exel menggeprak meja denga semua File yang di bawanya,
"Dan seharusnya sejak awal aku sudah tau maksud jahatmu melakukan ini!" geram Exel melangkah dan kini tangannya berada pada kerah pakaian yang di pakai Damara.
__ADS_1
"Katakan padaku apa yang kau inginkan jangan diam saja !"
Bugh Bugh Bugh.
"Itu untuk adikku yang kamu tinggalkan tanpa kejelasan. Dan juga untuk apa yang telah kamu lakukan dengan perusahaan ini, apa kamu tau aku sangat percaya pada mu lalu kenapa kamu menghianati kepercayaan ku itu!"
"Tunggu Tuan! saya datang kesini untuk berbicara baik-baik ingin menjelaskan semuanya, namun jika cara penyambutan Anda saja seperti ini, sepertinya lebih baik saya tidak perlu membahasnya!" Damara pun segera beranjak dari tempatnya dengan luka lebam di wajah dan luka sobek di ujung bibirnya akibat serangan Exel yang tiba-tiba.
"Baiklah jika itu keinginanmu maka lihat aku akan membuat perusahaan mu di ambang ke hancuran, aku beri waktu 2 hari untuk mengembalikan semuanya seperti semula Jika tidak jangan salahkan aku Jika perusahaanmu aku hancurkan.!"
Damara yang baru saja mengangkat tangannya ingin meraih hendle pintu menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang.
"Lakukan jika Anda bisa, namun saya tidak akan pernah bisa Anda hancurkan karena Jika Anda melakukannya Anda akan menerima kebencian dari Jelita, dan saya tidak akan pernah membiarkan orang menghancurkan apa yang sudah saya bangun dengan susah payah."
"Oh...jadi sekarang kamu sudah berani mengancamku dengan membawa nama Jelita!"
"Saya tidak sedang mengancam siapapun saya hanya mengatakan fakta nya saja jika suat saat Jelita tau akan kebenaran nya." Exel hanya terdiam mendengar apa yang di ucapkan Damara tidak mungkin ia akan membuat adiknya benci pada nya apa lagi saat ini Jelita sedang hamil.
"Menyetujui dari awal? apa maksudmu?" tanya Exel binggung. Damara pun akhirnya menceritakan jika dia dan Darandra terlibat perjanjian jika Darandra akan membantu Amara dalam penyembuhannya.
Flashback on
Damara yang melihat darah terus mengalir di pelipis Jelita begitu sangat khawatir apa lagi kedua lututnya terus mengeluarkan darah. Ia takut jika Amara akan kembali jauh lebih parah dari yang sebelum nya.
"Dokter...!" Damara berteriak memanggil sang Dokter, dan di saat itu lah Darandra datang tergopoh-gopoh.
"Amara...! cepat bawa dia!" seru Darandra pada petugas yang sudah stanby mendorong ranjang besi untuk membawa tubuh Amara.
__ADS_1
"Tunggu di luar biar aku menanganinya dulu!" setelah berucap Darandra segera menutup pintu meninggal kan Damara yang masih Syok dengan kejadian hari ini.
Karena baru sehari Amara pulang malah terjadi hal seperti ini dan pada saat itu hanya ada Jelita, namun Damara tak ingin menuduh Jelita begitu saja hingga dia pun meraih gawainya yang memang sudah tersambung dengan cctv di rumahnya itu.
Dan benar saja saat itu Jelita tengah berada di sekitar tempat itu ntah apa yang sudah mereka bicarakan tapi terlihat Jelita membelai lembut kepala Amara dan melangkah pergi namun baru saja Jelita berjalan beberapa langkah ia mendengar suara orang yang terjatuh.
"Amara..! apa yang kau lakukan!" Cicitnya berlari berusaha mengangkat tubuh Amara namun dengan kondisinya yang juga belum memungkinkan Jelita Hannya bisa mengangkat kursi rodanya lalu dia membuangnya begitu saja tanpa menyadari Damara melihat aksinya dari jauh. Dengan perasaan khawatir Damara pun berlari mengangkat tubuh Amara namun sebelum itu ia memberikan tatapan tajamnya.
Membuat Jelita seketika menunduk takut.
Deg.
"Apa yang telah aku lakukan Tuhan kenapa hanya dengan melihat tatapanku membuatnya takut."
Gumamnya hanya dalam hati dan memilih segera membawa Amara kerumah sakit.
"Jelita maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia." lirihnya menjambaki rambutnya dengan kasar.
Ceklek
"Bagaiman Amara?" pertanyaan itu langsung keluar begitu Damara melihat Darandra keluar dari ruangan pemeriksaan nya.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu mengenai Amara." Ucap Darandra dengan wajah yang sangat serius.
"Apa itu?" tanya Damara dengan nada khawatir.
"Jika di biarkan begini terus dia akan tertekan dan bisa saja kakinya di amputasi, dia terlalu banyak fikiran, dan kita tidak tahu apa yang menyebabkannya seperti itu tapi aku tau solusi nya untuk membantu penyembuhan Amara itu pun kalau kamu setuju aku akan membantu tapi kalau tidak jangan salahkan aku jika Amara akan terus mengulanginya."
__ADS_1
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?" tanya Damara yang masih kelihatan binggung.
"Tinggalkan Jelita.!"