
"Kau mau kemana?" Tanya Baron dengan mencekal tangan Renata dengan kasar hingga membuatnya meringis.
"Kau masih bertanya aku mau kemana? tentu saja aku mau melihat Bara, dan lepaskan tanganku!."
"Kau tidak usah kesana! karena Bara tidak membutuhkan mu, kau tahu, Bara yang mengatakan kau membawanya pergi ke pusat perbelanjaan hari ini, dan di sana dia makan Es krim. Siapa yang akan memberikannya kalau bukan dirimu? Atau kau sengaja ingin membunuh putra ku secara pelan, sungguh kau licik sekali Renata, kau wanita tidak tau diri, kau wanita sampah, yang tak satu pun orang ingin menyentuh mu kecuali aku, lalu apa ini balasanmu padaku?"
"Cukup...! cukup Baron. Kau boleh menginaku, menamparku, atau bahkan menyiksaku! tapi jangan kau menuduh ku ingin membunuh Putraku sendiri!" Jerit Renata menghempaskan tangan Baron.
"Putramu? apa kau lupa, kalau Bara adalah putraku dan Lisa, atau kau cemburu karena aku yang lebih memilih Lisa, dan menikah dengan nya, apa karena itu kau ingin melenyapkan anak kami? dengarkan aku Renata, aku sungguh menyesal telah membawamu masuk menjadi bagian dari keluarga ku sekarang aku minta keluarlah secara baik-baik dari sini aku akan memberi mu uang berapapun yang kau minta tapi tolong menjauhlah dari anak ku."
"Aku mohon Baron izin kan aku bertemu Bara aku mohon" lirihnya. Namun Baron tetap bergeming.
"Aku tidak butuh uangmu, tapi aku hanya butuh Bara" Renata menangkup kedua tangannya di dada namun tak mengubah pendirian Baron. Ia memilih meninggalkan Renata yang masih terisak dalam tangisnya, Renata yang masih merasa kalut bingung dan bercampur sedih, tak tinggal diam begitu saja. la segera bangkit dan mengejar langkah Baron untuk menemui Bara,
"apa...! Dokter bilang, anak saya harus dioperasi? Yang benar saja" Baron dan Bu Sofia begitu terkejut mendengar penjelasan dokter mengenai amandel yang diderita Bara Ternyata sudah begitu parah sekali.
"Apa tidak Ada cara lain Dokter?" tanya Baron ingin memastikan, kembali.
"Tidak ada Tuan, kita harus segera mengoperasinya jika tidak maka nyawanya bisa jadi taruhan ucap sang dokter kembali memberikan keterangannya. Renata yang berdiri di balik pintu menggigit bibirnya agar isakan tak keluar. Ia pun begitu terkejut mendengar apa yang dijelaskan dokter tentang Bara, tubuhnya seakan tak bergerak dia bingung harus berbuat apa.
"Bara anak bunda!" cicitnya berlarian masuk saat melihat sekilas Tubuh Bara yang terlihat pucat di atas tempat tidur. Baron yang melihat Renata masuk pun begitu terkejut,
"Bara, Bangun Nak, ini Bunda nak ayo Buka matamu. Bukankan kau berjanji pada Bunda untuk menjaga adik perempuanmu, siapa yang akan menjaganya coba peganglah perut Bunda Renata meraih tangan Bara dan meletakkannya di perutnya yang belum mulai menonjol itu.
"Baron yang melihat Renata segera mendekat dengan menyeret tangan Renata keluar. Sedangkan Bu Sofia, pun tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga merasa kecewa kepada Renata Bukankah Ia tau sendiri kalau Bara itu punya Amandel yang tidak bisa meminum minuman dingin apalagi seperti ice cream.
__ADS_1
"Aku sudah katakan padamu untuk tidak mendekat dengan putra ku, tapi kenapa kau tidak mendengarku! aku sudah melarangmu untuk tidak mendekati Bara tapi kenapa? Apa kau tidak mengerti sama sekali atau sekarang telingamu sudah tuli?"
"Sayang dengarkan, aku dulu. Aku benar-benar tidak pernah memberikan Bara es krim itu. Dia memang Sempat ingin tapi sungguh aku tidak membelikannya. Karena aku tahu ini berbahaya untuknya." Renata terus berusaha untuk meyakinkan suaminya itu.
"Kau jangan banyak alasan Renata! karena Bara sendiri yang sudah berkata seperti itu. "Apa kau menganggap Bara juga berbohong kepada kami, Bara itu anak yang polos Renata dia tidak akan pernah bisa berkata bohong!"
"Tapi sayang aku juga sungguh-sungguh tidak melakukannya,"
"Sudah cukup! aku bilang sudah cukup!, sudah cukup! Tutup mulutmu itu, dan jangan pernah sekali-kali kau memanggilku dengan kata sayang lagi, hari ini juga angkat kakimu dari sini karena kau sudah bukan Istriku lagi paham!"
Bagaikan disambar petir, Renata yang mendengar perkataan Baron yang tidak menganggapnya lagi sebagai istrinya. Hatinya bagiku hancur berkeping-keping tapi ia tidak ingin terlihat lemah di mata Baron.
Aku adalah Renata, Renata yang tak akan pernah lemah jika ia terluka aku harus kuat demi anakku demi Baraku demi Putriku yang di dalam sini. Gumannya dalam hati sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
"Baiklah Baron, jika itu keinginanmu Aku akan pergi dari sini, dan terima kasih atas kebaikan serta tumpanganmu selama ini di rumah ini. Aku tidak bisa membalas budi kalian, Biar Tuhan yang membalasnya atas kebaikan kalian padaku Dan satu hal yang perlu kau ketahui Seujung Kuku pun tak ada niat di hatiku untuk menyakiti anakku sendiri.
"Aku,, mencarimu? heh,, Renata-Renata aku takkan pernah menyesal dan tidak akan pernah mencarimu, Kemanapun kau pergi sekarang aku membebaskan untuk mencari lelaki yang pantas kau inginkan." Ucap nya dengan senyum mengejek.
"Baiklah,, aku akan selalu mengingat kata-katamu, dan apa yang kau ucapkan itu Semoga akan menjadi kenyataan aku akan mencari lelaki yang lebih baik darimu."
Deg.
Walau la sedang marah namun tak dapat di pungkiri hatinya merasa tersentil dengan kata-kata Renata yang akan mencari lelaki yang lebih baik darinyabitu. Namun karena gengsi lagi-lagi dia harus menutup mata hati nya.
"Aku pergi," pamitnya tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
"Aku akan segera mengirimkan uang untukmu."
"Tidak perlu! aku masih bisa bekerja" sahut Renata tanpa ingin berbalik. Karena la merasa begitu hancur dua kali sudah la gagal membina Rumah tangganya.
Sedang kan Baron hanya menatap kepergian Renata dengan perasaan yang sudah campur aduk.
"Tidak bukan kah ini keinginan ku, membuatnya pergi dari sisiku, tapi kenapa denganku? ada apa dengan hatiku?" Gumamnya pada diri sendiri.
"Baron-Baron apa kau akan diam saja di situ! kemana Renata? Bara mencarinya.!" Seru Bu Sofia.
"lbu,, apa Bara sudah sadar Bu?"
"lya,, semuanya sudah Bara ceritakan pada lbu."
"Maksud lbu?"
"Baron kita sudah salah, menilai Renata."
Deg.
Mendengar kata sang lbu, membuat perasaan Baron tidak menentu.
"Baron apa kau tidak mendengar kan pertanyaan lbu?"
"lbu,, maafkan Baron, karena sudah mengusir Renata untuk pergi jauh dari kehidupan keluarga kita Bu Baron juga sudah membebaskan nya."
__ADS_1
Plak...!