Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kau mau apa?


__ADS_3

Mendengar deheman dari Darandra, membuat Renata, dan Baron segera sadar, kalau mereka ternyata tidak sedang berdua.


"Kalian boleh melanjutkan nya nanti ketika kalian di rumah." Ujar Darandra menimpali, sedangkan wajah Renata kini benar-benar merona memerah menahan rasa malunya.


Bahkan la memilih menyembunyikan wajah nya di samping Baron, dan dia pun kembali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Amara dan Darandra, saat hendak berangkat pulang, lalu segera mereka pun pamit undur diri, setelah melepas kepergian Renata dan Baron Amara segera menutup pintu.


"Kau mau kemana?" Tegur Darandra saat melihat Amara melintas di depannya dengan begitu cuek nya. Namun Amara tidak menggubris, membuat Darandra begitu kesal. "Kau,, kenapa? kenapa kau selalu ingin menghindariku.? Bukankah Aku bertanya padamu.? Lalu kenapa kau tidak menjawab?" Amara tersenyum sinis.


"Untuk apa kau bertanya padaku.? Bukankah kau lihat sendiri apa yang akan aku lakukan? bukankah aku harus membersihkan diri dulu." "Tidak! kau, tidak boleh pergi membersihkan dirimu, sebelum aku selesai menghukum mu. Bukankah tadi aku Sudah bilang bahwa kau tidak akan lepas dari hukuman."


"Tapi Kak, aku mohon Hari ini aku sedang lelah, Aku ingin segera istirahat,"


"Amara! Kenapa kau suka sekali membantahku? dan seharian ini kau pergi ke mana saja?"


"Ck, Hah...Yang benar saja. Kau mengatakan aku pergi seharian ini.? Apakah lupa kalau kau sedang memenjarakanku di dalam klinikmu itu,! atau kau sengaja kan? ingin membunuhku secara perlahan...dengan menyuruh ku terus bekerja sedang kau asyik dengan wanita mu itu?" geram Amara.


"Baguslah, kau sadar kalau aku akan membunuhmu jadi untuk itu berhati-hatilah." timpal Darandra.


"Dasar kau lelaki menyebalkan. Baiklah,, sekarang menyingkir lah dari hadapanku. Aku mau membesih tubuhku karena aku juga sudah mengantuk" Timpal Amara dengan wajah kesal, Bergegas hendak pergi.


"Aku tahu, kau! sengaja melakukan ini semua karena ingin menghindari ku bukan?"


"Kalau kau, sudah tahu, untuk apa kau bertanya lagi pertanyaan yang tidak ada manfaatnya?"

__ADS_1


"Amara...! Kau,!" teriakan Darandra menggelegar, sedang kedua tangannya mencengkram kedua lengan Amara,


"sudah berapa kali dan harus berapa kali aku katakan padamu, jauhi lelaki itu..! tapi kau sengaja ingin menyiram minyak kedalam bara api, kan? dan aku lihat sekarang kau sudah berani menentangku." Kekesalan Darandra semakin memuncak.


"Lepaskan aku Kak, kau menyakiti ku!" pekik Amara mendorong tubuh Darandra, hingga membuat Darandra mundur beberapa langkah kebelakang. Dan begitu melihat kesempatan itu, Amara pun segera berlari memilih masuk ke kamarnya, dan segera menutup pintu, namun ia kalah cepat, Darandra dengan sekuat tenaga mendorong pintu yang belum tertutup rapat itu.


"Kak, kau mau apa?" tanya Amara yang mulai merasakan firasat tidak enak saat Darandra terus saja menatapnya dengan tatapan Tajam. Yang membuat nya mulai bergidik ngeri ketakutan.


"Kau, bertanya aku mau apa? tentu saja mau menghukum mu." Dengan gerakan cepat tangan kekar milik Darandra kini menarik pinggang Amara hingga membuatnya membentur dada bidang itu, dan ini lah yang Amara takut kan saat jantungnya berdegub kencang, di saat merasakan hembusan panas nafas, beraroma mint menerpa wajah nya. membuatnya memejamkan mata Menik mati sensasi itu sesaat, namun di luar dugaannya Darandra kini mengecap dengan rakus bibirnya itu, bahkan sesapannya itu ia rasa semakin dalam, Amara yang masih berdiri kaku dan bingung hanya bisa diam menikmati apa yang sedang, Darandra lakukan padanya, Sedang Darandra yang melihat kebingungan di wajah Amara hanya bisa menarik sudut bibirnya.


Kini Darandra mulai menggigit bibir Amara agar ia membuka sedikit bibirnya, dan benar saja Amara membuka bibirnya saat itu lah dengan cepat lidah Darandra dengan cepat melesat masuk membelai langit-langit, lalu saling membelit dan saling bertukar Saliva.


Tangannya kini aktif, membuka kancing dres yang di pakai Amara dari belakang, saat pakaian yang di pakai Amara meluncur bebas ke lantai dan hanya menyisakan dalaman saja dengan cepat jari-jari kekarnya bermain indah di atas gundukan yang masih kenyal dan kencang itu, membuat Amara menggeliat nikmat, apa lagi saat Darandra mengecap lembut leher jenjang miliknya dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan disitu.


"Darandra..." desah Amara saat kedua gundukan miliknya di sesap dengan rakus secara bergiliran.


Amara berusaha menekan kepala Darandra agar memberinya sesapan lebih dalam lagi, Darandra yang faham apa yang di inginkan wanitanya tersebut, tentu melakukannya dengan senang hati.


Setelah cukup lama bermain di atas kini, jari jemarinya terus menelusuri setiap titik sensitif milik wanitanya itu, hingga menelusup ke sesuatu yang sudah lembab dari tadi, di balik pembungkus segi tiga di bawah sana, dengan kasar ia pun menarik pembungkus segi tiga itu hingga putus tak berbentuk lalu melemparnya tak tentu arah.


Dan dengan lihai ia bermain dengan jari telunjuknya, lalu kemudian dengan cepat ia berjongkok memberikan sesapannya.


"Auuuhk…aaahk…Darandra…" suara ******* Amara begitu syahdu terdengar di telinganya membuat yang di bawah sana sudah tidak sabar untuk menunggu giliran nya untuk bermain, namun Darandra masih bisa menahan dirinya ia memilih memberikan kepuasan untuk wanitanya terlebih dahulu,

__ADS_1


Amara terus saja di buat menggila dengan permainan Darandra yang terus saja mengecapnya bahkan mengunakan lidahnya untuk terus menggelitik nya hingga ia merasa kedua kakinya begitu lemas tak kuat untuk menahan tubuhnya saat sesuatu seperti akan meledak, dengan tubuh yang bergetar Amara hanya bisa berpegangan dengan kuat pada kedua pundak prianya tersebut. Darandra yang mengetahui wanitanya telah menyelesaikan pelepasan itu segera mengangkat tubuh Amara ala bridal style sambil mengecap bibir yang menurutnya terasa manis itu.


Dengan pelan tapi pasti Darandra membaringkan tubuh Amara di atas tempat tidurnya lalu kini ia mulai mengungkungnya, "Apa kau menyukai nya?" Darandra menatap lekat tubuh polos istrinya itu.


"Aku bertanya apa kau menyukai nya?" Darandra kembali mengulang pertanyaan nya sambil menggesek kan sang Junior yang entah kapan keluar dari sarangnya itu.


Amara hanya mengangguk lemah saat merasakan gesekan yang mampu membuat tubuhnya kembali bergetar dan sesuatu di dalam dirinya kembali meledak.


"Ok, bersiaplah aku akan melakukan nya"


Ucap Darandra lalu di detik berikutnya,


"Tunggu...! bagaimana kalau aku hamil?" Tanya Amara karena ia tidak ingin melakukannya jika Darandra masih tak ingin memiliki anak dengan nya.


"Ck, kau jangan takut aku ini Dokter aku sudah menyiapkan obatnya untukmu" ucap Darandra kesal namun berusaha terdengar santai.


"What…! aku tidak mau," pekik Amara berusaha bangun dengan mendorong tubuh Darandra agar membatalkan


penyatuannya, namun yang terjadi sungguh si luar du gaannya Darandra kembali menecap kedua gundukannya membuatnya, kembali mengerang dan kesempatan itu Darandra pergunakan untuk melakukan penyatuannya.


"Aaa…sakit…Randra…" jerit Amara saat sesuatu yang di bawah sana berusaha untuk menerobos masuk namun selalu gagal.


"Damn it" umpat Darandra karena belum bisa menerobos sarangnya,

__ADS_1


"Aku akan mencobanya sekali lagi aku janji akan melakukannya pelan-pelan."


__ADS_2