
"Kak, kau kemana kenapa lelet sekali bukankah aku menyuruh mu mengambil mangga di atas pohonnya bukan ke rumah tetangga dan memanjat pagar rumahnya,!" gerutu Jelita saat melihat Exel, membawa beberapa buah mangga muda untuknya, yah ini semua gara-gara Dara yang meminta suaminya mengambil mangga di atas pohon karena atas permintaan Jelita sendiri, dan dengan alasan kalau Dara ingin ketularan hamil juga ia pun melakukan nya.
Sedang kan Damara hanya bisa menahan senyumnya saat melihat kakak iparnya itu dikerjai oleh adiknya sendiri.
Dengan wajah datarnya Exel melangkah masuk setelah memberikan kantong plastik yang berisi buah mangga tersebut.
la pun memberikan tatapan tajam pada Damara, karena semenjak Jelita hamil anak ke duanya la lebih banyak membawa Jelita untuk bertandang kerumahnya alasannya ia selalu ingin dekat dengan kakaknya itu.
"Urus istrimu itu, lain kali kau berikan pencegah kehamilan padanya, agar tidak menyusahkannku, kalian yang enak eh kenapa aku yang jadi terkena imbasnya," Kesalnya melihat adik iparnya itu hanya duduk manis dengan duduk bermesraan bersama istrinya itu, Sedangkan Damara hanya menunduk tak ingin membakas kakak iparnya itu.
"Kakak apa kua memarahi Cintaku, kau keterlaluan sekali padaku, hiks..hiks..hiks,"
"Tit-tidak Jelita aku tidak memarahi Cintamu ini, aku hanya memberikan nya sedikit masukan cara membahagiakan istri di saat hamil dia harus mencontoh apa yang kakak lakukan bukan," ujar Exel.
"Tidak, dia tidak perlu mencontoh mu karena kau yang akan selalu melakukannya untukku setiap hari," Ucap Jelita sambil tersenyum cuek.
"Apa?..." kaget mereka bertiga.
"Kenapa kalian yang kaget aku mengatakan itu, sekarang kakak bikin kan aku sambel rujak tidak harus pakek lama," perintahnya lagi.
"Tapi Je, Kakak__" Exel menjeda kalimat nya di saat melihat mata sang adik yang berkaca-kaca.
"Apa kau bukan Kakak, kandungku, kau melakukannya dengan tidak senang iya kan, aku hanya ingin merasakan di urus sama Kakak ku sendiri karena dulu waktu kecil kita tidak pernah bersama, dan setelah dewasa kau dan aku langsung menikah ha...ha.."
Exel memeluk sang adik dengan penuh cinta, dan memberikan nya kecupan di pucuk kepalanya, dan hal itu membuat Damara geram.
"Lepaskan istriku,! sayang Kemarilah kau tidak boleh memeluk istriku seperti itu," ujarnya meraih pinggang Jelita dan memeluknya dengan posesif.
"Apa kau tau dia itu adikku," ujar Exel yang tak kalah kesal bagaimana tidak hari ini ia terpaksa memanjat mangga milik tetangga yang banyak semut nya sedangkan di bawah dia di gonggong anjing, beruntung orangnya tak ada dan anjingnya pun hanya menggonggong di dalam kandang nya, dan sekarang ia menghadapi adiknya jang berubah, manja dan cengeng, serta adik iparnya yang posesif nya tingkat dewa.
"Sayang kau mau kemana,?" tegur Dara begitu melihat Exel memilih berlalu dari tempat tersebut.
"Haaaah...aku mau mandi dulu,"
"Kak, kau tak boleh mandi sebelum membuatkan aku bumbu rujak," cicit Jelita.
"Apa kau yakin ingin aku yang membuatnya,?"
"Ya tentu saja aku yakin makanya aku menyuruhmu membuatnya.
Exel kembali melangkah dengan wajah datar nya ia hanya berfikir anak seperti apa yang di kandung Jelita kenapa Jelita harus menyusahkan nya saja, bukan suaminya sendiri.
"Makanlah, aku sudah mengupas dan juga membuat bumbunya untukmu," Ucap Exel saat dirinya membawa semua bahan yang sudah di buatnya lengkap dengan mangga yang sudah di bersih kan.
__ADS_1
"Sayang makanlah," ujar Jelita menatap ke arah Damara.
"A-aku,?" gugup nya bertanya sambil menunjuk kearah dirinya sendiri.
"lya, tentu saja aku menyuruhmu untuk memakannya,"
"Tapi sayang kau taukan aku tidak suka dengan makanan asam kalau aku memakannya aku akan sakit perut" ucapnya memberikan alasan.
"Ya sudah kalau begitu malam ini kau tidur di luar saja,"
"Tap-tapi sayang ak_" Damara menjeda kalimatnya saat melihat kode dari istrinya untuk menyuruh nya diam,"
"Baiklah aku akan melakukannya," Damara pun mulai menyantap mangga muda yang sudah di iris itu lalu Damara mencampurnyan dengan bumbu rujak yang sudah tersedia.
"Uweek...bumbu rujak macam apa yang Kakak ipar buat untuk istri dan anak ku ini, kenapa rasanya asam dan asin saja,?" Damara memuntahkan semua mangga yang sudah masuk di mulutnya itu, membuat Exel tertawa terbahak-bahak.
"Kakak kau harus menggantikan Damara untuk memakan rujaknya,!" Seru Jelita dan itu mampu membuat Exel terdiam.
"Kakak apa kau tak mendengarkan ku,!" teriak Jelita lalu menangis kembali membuatnya mau tidak mau melakukan perintah adiknya itu.
"Dasar sial, baik suami atau istri sama-sama saja mengerjaiku, padahal tidak ada rasa yang aneh di dalam bumbu ini" umpat Exel namun hanya dalam hati.
"Bagaimana Kak, rasanya? apa enak,?"
"Ya tentu saja enak, apa kau ingin mecobanya?" Tawarnya.
"Apa? Meng-menghab, habiskannya,?" kejut Exel, mendengar permintaan aneh, adiknya.
"Baiklah," ucap Exel dengan terpaksa, ia tak ingin menolak, agar tak terjadi perdebatan yang panjang kali lebar.
Sedang Damara, tersenyum penuh kemenangan, melihat itu Exel dengan geram mengepal kan tangannya.
"Aku pasti akan membalas mu, adik ipar yang menyebalkan."
"Ah... perut ku sakit, dan seperti nya karena aku, kebanyakan memakannya, Sayang cepatlah, perutku terasa sakit sekali,"
Baik Dara maupun Jelita terkejut, dan mereka pun mendekati Exel secara bersamaan.
Jelita menatap lekat pada sang Kakak.
"K-kenapa kau menatapku seperti itu J-Jelita,?" Gugup Exel.
"Aku tidak menatapmu Kak, tapi aku hanya melihat seberapa banyak mangga yang kau makan hingga membuat perutmu sakit,?" ucap Jelita dengan begitu santainya, membuat Excel membulatkan mata dan semakin kesal dengan tingkah adiknya itu.
__ADS_1
"K-kau Apa kau tidak percaya dengan Kakakmu ini jadi kau meragukanku,?" kesalnya, Padahal memang ia tengah berbohong.
"Percaya sih Kak, tapi sedikit, Siapa tahu saja kakak sekarang sedang membohongiku," "Untuk apa juga Kakak membohongimu Bukankah ini semua demi keponakanku yang ada di dalam sini," ucap Excel kembali, sambil mengelus perut Jelita yang mulai sedikit menonjol itu, dan itu mampu membuat Jelita tersenyum bahagia.
"Terima kasih Kak," ucap Jelita menyentuh tangan kakaknya itu.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan sentuh istri!" cicit Damara menarik tangan sang istri dan memeluk pinggangnya kembali.
"Heii..dia itu Adikku kenapa kenapa kau selalu melarangku untuk memeluknya,?"
"Aku tau dia adikmu Kakak ipar tapi dia itu istriku aku tidak sudi menyentuhnya walaupun kau adalah kakak kandungnya sendiri," timpal Damara dengan tatapan tak suka.
"Kau, berani sekali kau padaku,! dasar Bucin akut," Kesal Exel.
"Sayang kau jangan berkata seperti itu, bukannya kau juga bersikap seperti itu,? bahkan kau sendiri akan bersikap seperti itu pada Kakakku padahal diakan sepupu juga," Timpal Dara membuat Exel salah tingkah, dia saat adik dan adik iparnya tersenyum dengan senyum yang mengejek.
"Sudahlah Kak, itu tandanya suamiku suamiku mencintaiku, kalau kakak sendiri tidak bersikap seperti itu pada kak Dara itu berarti kakak tidak mencintai kak Dara," Ujar Jelita
"Kenapa kau, mengatakan aku tidak mencintai istriku,?" Exel menatap kedalam manik mata istrinya itu.
"Apa kau tau sayang aku sangat mencintaimu, melebihi aku mencinti diriku sendiri," Ucap Exel lalu ******* bibir istrinya itu.
"Aku tahu, itu sayang jadi kau tidak perlu mengatakan semuanya," Dara pun pun memeluk suaminya dan dibalas oleh Exel dengan begitu posesif.
"Ehem...Cie... yang lagi ketularan bucin akut.." ledek Jelita dan juga Damara tertawa garing.
"Awas kalian ya!" geram Exel ingin membalas adik dan adik iparnya itu.
"Sayang aku__"
"Sayang...Kakak...!" Teriak Exel dan Jelita secara bersamaan karena belum sempat Dara menyelesaikan ucapannya dia sudah terkulai lemas beruntung Exel di sampingnya membuat tubuhnya tak membentur lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haiii yuk sambil nunggu up kepoin juga ya karya Author di bawah ini👇Dan jangan lupa budayakan Like, komen, Vote, dan hadiahnya karena dukungan kalian membantu Author untuk tetap berkarya😍😍😘
Nomor 29
Kehidupan Alisha Fakhira seketika berubah, saat dirinya dijadikan sebagai pelunas hutang keluarganya. Iyaa gadis kecil yang baru beranjak 16 tahun itu dipaksa menikah pada seorang rentenir yang memiliki 4 Istri dan Alisha, menjadi istrinya yang 5. Akan tetapi statusnya sebagai istri hanya berlangsung satu hari saja. Karena diimalam pertamanya, sang suami malah meninggal dunia.
Karena telah dituduh sebagai pembawa sial. Alisha di usir oleh keempat para istri sang rentenir. Bukan hanya mereka saja yang mengusir dirinya. Bahkan keluarganya, juga ikut mengusir dirinya. Karena merasa bingung akhirnya Alisha memutuskan pergi ke kota, untuk mengadu nasib disana.
__ADS_1
Bagaimanakah kehidupan Alisha dikota?
Akankah ia menemukan cintanya disana? Yuk ikuti ceritanya, In shaa Allah tak kalah seru dengan novel author yang lainnya loh