
"Kak, berhenti dulu kak..!"
"Kamu kenapa Amara?" tanya Danu binggung.
"Lihatlah Kak, di depan sana sepertinya ada orang yang sedang terbaring di tengah jalan." Danu pun melihat ke arah telunjuk Amara.
"Oh,, iya...Ra, Kamu benar, dan sepertinya dia seorang wanita."
"Ayo kita turun Kak, siapa tau dia korban tabrak lari. Siapa tahu juga dia sedang butuh pertolongan. Amara pun bergegas turun yang diikuti oleh Danu.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah kak Renata! Kak, Renata bangun! Kakak kenapa Kak? cepat tolong kak Renata Kak!" cicit Amara Danau pun segera mengangkat tubuh Renata dan membaringkannya di atas mobil miliknya.
"Kak sebaiknya kita bawa ke rumah saja!"
"Apa tidak apa-apa membawanya ke rumahmu?"
"Tidak apa-apa kak, kasihan Kak Renata, dia pasti tidak ada yang menjaga, mungkin saja dia dan suaminya sedang bertengkar jadi untuk sementara ini biar Kak Renata aku yang jaga, lagi pula Kak Darandra juga jarang pulang Kalaupun dia pulang Kami kan punya dua kamar.
"Oke baiklah,, aku akan mengantarkan mu pulang sekalian membawanya ke sana juga. Setelah itu kita panggilkan dokter, aku takut dia kenapa-kenapa."
"Baiklah Kak,, terima kasih ya Kak atas bantuan kakak."
"Sudah-sudah jangan berterima kasih terus, kita kan ini sesama manusia harus saling tolong menolong bantu membantu Apa kau lupa itu."
Tak lama kemudian mereka pun tiba di kontrakan Amara beruntung Darandra tidak ada, hingga Amara pun menyuh Danu membawa tubuh Renata dan dibaringkan di kamar tamunya. la pun menyelimuti tubuh yang lemah denga wajah yang pucat pasi utu.
"Bagaimana kalau sebaiknya Kakak pulang dulu ya, Ra, takutnya nanti suamimu datang dan curiga ujung-ujungnya dia akan marah lagi padamu, bagus kalau dia marah padaku aku akan menghajarnya wajah angkuh dan sombong nya itu." Ucap Danu kesal.
"Ck, Ais kakak kau jangan menghajar wajah suamiku, yang tampan itu. Dan sepertinya aku tidak perlu memanggil dokter karena aku lebih baik segera menelpon Darandra saja."
"Baiklah aku pulang dulu."
"Hati-hati Kak,!" Danu hanya mengangguk lalu berbalik pergi meninggalkan Amara. Sedang Amara sendiri segera menelpon Darandra.
Namun baru saja dia ingin menelpon, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang begitu kencang.
Tok...tok...tok...tok...tok...tok.
"Ya...! Kak, Danu, ada apa lag__" ucapannya tergantung di saat melihat siapa yang berada di balik pintu dengan wajah yang sudah memerah menatapnya.
"Danu lagi? kau benar-benar sudah mulai bermain api ya di belakangku!" Darandra mendorong tubuh Amara dan menyandarkan nya di dinding.
"Kak,!" pekik Amara saat merasakan sakit di punggungnya yang membentur dinding.
__ADS_1
"Apa maksudmu, membawa laki-laki itu masuk kemari? dan apa yang telah kalian lakukan disini? jawab aku Amara jangan diam saja!."
"Kak, Renata, kak, Renata ada disini, kau hasur segera menolongnya." Ucap Amara cepat karena ia tak ingin Darandra terbawa emosinya. Dan menar saja Darandra langsung menurunkan emosinya.
"Jangan Kau sangka akan terbebas dari hukuman ku malam!." Ancamnya pada Amara dengan penuh penekanan. Amara hanya bisa menelan Salivanya dengan susah payah.
"Sepertinya dia sedang tertekan usahakan dia istirahat dengan cukup jangan lupa obat dan vitamin nya." Setelah berucap Darandra pun segera keluar dari ruangan tersebut.
Dan bersamaan dengan itu terdengar suara Renata yang melengguh.
"Engh..."
"Kak, Renata kau sudah bangun Kak,"
"Kau siapa aku di mana Bara, dimana Bara?"
"Kak, kau berada di tempat ku tadi aku menemukan mu tergeletak pingsan di tengah jalan" terang Amara.
Renata pun mengingat kembali kejadian yang membuatnya pingsan sesaat setelah dia di usir dari rumah oleh suaminya itu.
"Ra, terima kasih, kau sud__"
📲Drt...Drt...Drt..
"Kak, Baron Kak," ucap Amara sambil menyerahkan telpon genggam milik Renata.
"Baron..." lirirnya hampir tak terdengar dan menatap layar gawai miliknya yang terus berkedip karena dalam mode panggilan masuk.
"Untuk apa dia menghubungi ku lagi apa dia mau menghina ku lagi."
"Angkat saja Kak, siapa tau penting!" seru Amara, membuyarkan lamunan nya padahal dia tak ada niat untuk mengangkatnya. Namun saat melihat sebuah pesan masuk.
["Maafkan aku, kau dimana aku akan? menjemputmu, Bara merindukanmu."]
"Bara anakku! Amara apa Kakak boleh minta alamat kamu ini kakak akan mengirimkannya pada Mas Baron" Amara pun mengangguk lalu menuliskan alamatnya pada telepon milik Renata.
"lngat Ra, berjanjilah pada Kakak untuk tidak menceritakan apa yang terjadi hari ini"
"Tapi Kak sampai kapan Kakak harus bertahan seperti ini?"
"Hinga waktunya berakhir Ra, biarkan waktu yang akan mengakhiri semuanya."
"Kak, kau juga berhak untuk bahagia!"
__ADS_1
"Hak...! hak ku itu sudah hilang Ra, semenjak aku melepaskan Damara, dan sekarang saatnya aku harus menebus semua kesalahan ku, pada semua orang yang pernah aku sakiti Ra, termasuk kamu, juga yang paling tersiksa adalah Jelita, aku hampir saja jadi seorang pembunuh, Ra, bahkan kata maaf saja tak pantas untukku, hiks hiks hiks"
"Kak, dengarkan aku lupakan semua masa lalu, kami semua sudah memaafkan semua kesalahan Kakak, saatnya Kakak menatap ke depan, tanpa bayang masa lalu, Kakak harus kuat ya demi buah cinta Kakak." Ucap Amara panjang lebar menghibur Renata, dan berakhir dengan mengusap perut Renata yang masih rata itu.
"Aku tidak tau lagi harus berkata apa padamu Ra, Kakak malu." Sela Renata yang sesekali menunduk sedih mengusap air mata yang terus meluncur dengan derasnya.
"Amara janji akan selalu ada buat Kakak."
ucap Amara kembali membuat Renata semakin terisak hingga suara ketukan pintu menjeda tangis dan perbincangan mereka di dalam kamar itu.
Tok...tok...tok...
"Masuklah tidak di kunci!" Sahut Amara.
Ceklek.
"Baron...!" cicit Renata saat melihat siapa yang membuka pintu.
"Kau kenapa kenapa disini ada obat dan ini?"
Baron menunjuk ke arah pergelangan tangan Renata yang tertutup stiker karena dia sempat di infus karena kurang cairan, beruntung, Amara sudah di ajarkan cara melepas infus oleh Darandra.
"ltu milik istriku, dan tangannya tadi tergores paku" Sahut Darandra menimpali.
"Terima kasih karena kalian sudah membantu istriku, sekarang aku akan membawanya pulang." Ujar Baron
"Istri bukankah kita sudah__"
"Aku merujukmu kembali, di depan mereka, demi anak kita Bara, dan aku juga meminta maaf untuk semuanya." Setelah berucap Baron pun bersimpuh di depan kaki Renata.
"Kau-kau apa-apaan? bangun lah, aku mau rujuk tapi aku ada satu permintaan,"
"Hanya satu?" Baron mengerutkan alisnya.
"lya hanya satu."
"Kalau begitu ayo katakan, apa itu?." Tanya Baron penasaran.
"Tidak sekarang, nanti akan tiba waktunya."
"Baiklah apa sekarang aku boleh untuk berdiri?" Renata hanya mengangguk, Baron pun segera berdiri dan memeluk Renata.
"Ehem...ehem"
__ADS_1