
"Kakak, kenapa pertanyaan mu sesadis itu dia itu cinta mati padaku Kak, jadi untuk apa dia memukul ku. Aku hanya ingin minta bantuan Kakak, tolong bantu aku karena hanya Kakak harapan terakhir ku." Pintanya
"Maafkan Kakak, Je, Kakak hanya khawatir kamu kenapa-kenapa. Karena tidak biasanya kamu menelpon Kakak sepagi ini, memangnya kamu butuh bantuan apa dari Kakak?" Jelita pun menceritakan apa maksud dengan tujuannya tanpa banyak babibu Dara yang mengerti perasaan sang adik merasa kasihan dan berjanji akan membantunya setelah akan membicarakannya dulu dengan Exel karena Exel juga harus tau apa yang di alami Adiknya.
"Bagaimana Kak apa Kakak bisa membantuku?"
"Iya Je kamu jangan khawatir Kakak janji, Aahk...!" Satu desa..han keluar tanpa sengaja saat Exel menyecap begitu dalam gundukannya ntah sejak kapan pria itu beraksi.
"Ada apa Kak, apa Kakak tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa hanya saja Kak Exel menggelitik ku bohongnya.
"Kakak janji akan menolongmu."
"Baiklah Kak, sudah dulu ya aku juga mau beristirahat kembali!" Seru Jelita lalu memutuskan sambungan telponnya.
Sedangkan tubuh Dara sudah berada dalam Kungkungan suaminya.
"Aku menginginkan mu!" bisik Exel.
#Flashback Of#
Jelita menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Ini sudah jam berapa aku masih mengantuk sekali." cicitnya melirik Jam dinding mewah yang menggantung di atas dinding kamar tersebut.
"Tidurlah kalau kau masih mengantuk karena aku juga akan pergi menjenguk Amara, dan kenapa kamu tak cerita padaku kalau Amara sudah bisa merespon. Tadi pagi Dokternya menelpon ku."
"A-Aku lupa, maaf." Sahut Jelita menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Jelita kembali.
"Aku akan sarapan di rumah sakit saja karena Bi Sumi memberikan ku bekal. Jika kamu ingin sarapan mintalah sama Bi, Sumi!" Serunya Damara sambil hendak berlalu.
__ADS_1
"Tunggu.! Aku ingin bicara serius boleh?" pintanya sambil menatap Damara.
"Tentu saja boleh. Ada apa?" tanya Damara berjalan mendekat kemudian ia dudu di samping Jelita di pinggir tempat tidur.
"Jika Amara sadar dan ternyata bukan aku yang menabrak nya apa boleh kita berpisah dan membatalkan surat kontrak itu? mm-maksud ku. Aku hanya ingin leluasa menjalani kehidupan ku seperti yang dulu, bebas kemanapun aku pergi."
"Kau ingin bebas kemanapun kau pergi. Bahkan kau berbuat hal yang tidak senonoh di taman dengan laki-laki brengsek, itu apa itu yang kau bilang ingin bebas.?"
"Damara kau!"
"Diam! jangan karena aku berusaha sedikit lembut kau sudah berani ingin mengatur ku, apa kau kira aku bodoh. Apa kau lupa perbuatan mu yang membuatku terpaksa harus menikah denganmu? apa kau lupa itu.
Jadi selamanya kau akan menjadi istri ku hingga aku bosan dan membuangmu, itu juga kan yang Bundamu minta kepadaku."
Plak...
Jelita yang geram refleks memberikan tamparan di wajah Damara hingga membuat pria itu bertambah murka. Damara mencengkram jemari tangan Jelita hingga Jelita pun meringis kesakitan,
"Kau berani sekali kau menamparku apa kau sudah bosan Untuk hidup?" ucapnya memberikan ancaman.
Jelita yang masih terdiam dengan apa yang di ucapkan Damara, ia hanya bisa menatap nanar punggung suaminya yang hilang di balik pintu.
"Ya Tuhan...kenapa semuanya jadi seperti ini,
apa semalam itu ia hanya pura-pura baik kepadaku. Tapi baiklah ini akan jauh lebih baik sebelum aku benar-benar jatuh terlalu jauh lebih baik seperti ini"
Jelita pun segera memilih keluar dari kamar Damara ia pun segera masuk ke kamar mandi kecilnya untuk membersihkan tubuhnya.
"Sepertinya hari ini aku tidak bersemangat, seperti nya badan ku sakit semua, apa lebih baik aku tidur saja dulu." Gumanya.
setelah memilih stelan baju tidur ia pun berjalan menuju karpet yang berada di lantai dan segera merebahkan tubuhnya yang terasa letih tak lupa ia pun mengunci pintu kamarnya juga agar tak seorang pun datang masuk di kamarnya.
*
__ADS_1
Sementara Damara yang tengah mengendarai mobil tampak Asyik merbincang dengan seseorang dalam sambungan telpon.
"Apa! yang benar saja, apa kau yakin dia sengaja melupakan kejadian itu jika dia mengingat nya maka itu akan berakibat fatal untuknya." Damara masih bingung dengan keterangan yang di berikan psikolog tadi mengenai Jelita.
Ya sudah beberapa minggu ini ia mencari cara agar bisa membawa Jelita ke salah satu psikolog yang terkenal karena. Damara selalu di buat binggung untuk mencari keterangan dari Jelita masalah kecelakaan Amara adiknya, apa lagi hubungannya dengan Jelita yang sudah memanas dari awal. Jika Jelita tahu kalau ia akan di bawa ke psikolog mungkin ia juga akan mengamuk duluan dan menolak.
Oleh karena itu Nindy pun memberikannya saran untuk mendekati Jelita dengan berusaha membuang egonya. Dan itu berhasil dengan mengirimkan video hasil pertengkaran baru-baru ini, itu semua juga bentuk sandiwara yang sudah ia rencana kan sendiri sejak awal.
"Baiklah kalau begitu terima kasih atas segala bantuanmu." Damara pun mengakhiri sambungan telponnya.
"Tuan apa kita tidak terlalu jahat pada Nona Jelita." Celetuk Rony di balik kemudi.
"Apa kau bilang jahat? apa kau lupa dengan apa yang sudah ia lakukan pada Amara!" Sergah Damara menatap tajam ke arah Rony.
Glek...
Dengan susah payah Rony menelan Saliva nya.
"Kau jangan pernah merasa kasihan apalah lagi membela wanita itu. Jika kau mengulangi kesalahan mu maka aku tidak akan memaafkan mu dan kau akan tau sendiri akibatnya jika melanggar aturan yang sudah aku tetapkan. Apa kau mengerti!"
"I-Iya Tuan maafkan kesalahan yang sudah saya lakukan." Ucap Rony serba salah.
Sesampainya di rumah sakit Damara langsung menuju ruangan dimana Amara di rawat. Sedang kan Rony harus kembali ke perusahaan karena banyak pesanan dari luar negri yang harus dia urus.
Ceklek...
"Kau apa yang kau lakukan pada Amaraku!" pekik Damara begitu masuk melihat sosok lelaki berada di bangkar adiknya.
"Kakak...! Kak Damara kau kah itu?"
"Amara kau sud_" Damara tak mampu melanjutkan kalimatnya saat melihat orang yang sangat ia sayang terbangun dari komanya.
"Iya Kak aku sudah sadar aku sangat merindukanmu Kak!" Namun tiba-tiba saja tangisnya pecah membuat Damara dan Darandra bingung menatap lekat wajah gadis di depan nya itu.
__ADS_1
"Hei ka, kamu kenapa menangis sayang Kakak Disini, Kakak juga sangat merindukanmu." Namun bukannya berhenti Amara semakin mengencangkan suara tangisnya.
"Ini semua gara-gara wanita itu Kak dia yang membuatku celaka dan lumpuh seperti ini lihat aku Kak kakiku tak bisa lagi aku pakai untuk berjalan, aku membenci wanita itu, dia menghancurkan ku Kak!" Amara terus menjerit histeris saat mengingat kembali kata Dokter kalau ia tak bisa berjalan.