Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Pernikahan Jelita VS Damara


__ADS_3

Dan benar saja begitu malam tiba seluruh keluarga besar Rafa berkumpul untuk menyaksikan akad nikah antara Jelita dan Damara yang akan segera di langsungkan, karena segala sesuatu nya sudah di persiapkan kini tiba saat nya mempelai wanita untuk turun menemui mempelai laki-laki, walau tak ada resepsi namun Jelita di dandani oleh MUA begitu sempurna.


"Je, apa kamu yakin kamu sudah siap untuk menjadi Istri Damara?" celetuk Dara yang menggandeng tangan sang adik di sisi kanan saat menuruni anak tangga di temani oleh Jennifer di sisi kirinya.


Jelita hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang kakak.


"Kak, apa kau mencintai Kakakku, Kak Exel?"


"Tentu saja aku mencintainya pertanyaan bodoh macam apa ini. Kalau aku tidak mencintainya tidak mungkinkan perut Kakak membesar seperti ini. Iyakan Jen!"


"Ii_iya Nona apa yang Anda katakan itu benar" Jawab Jennifer membenarkan ucapan Dara sambil tersenyum geli dengan percakapan Dara dan Jelita itu.


"Tapi aku ingin bertanya kepada kalian berdua! apa kalian waktu menikah merasakan yang namanya jatuh cinta pada suami kalian.


"Tidak...!" Jawab mereka bersamaan.


"Nah...! itu dia jika kalian saja menikah tanpa cinta bisa bahagia bagaimana denganku yang menikah karena saling mencinta" selorohnya


"Ayo sayang pelan-pelan" cicit Anggun meraih tangan sang putri karena mereka sudah sampai di Aula pernikahan yang sudah di hias sedemikian rupa walau terkesan dadakan tapi dekorasinya sangat sempurna dan istimewa.


"Bagaimana apa semuanya sudah siap?" seru Rafa bertanya dan semuanya pun mengiakan walau pernikahan hanya di saksikan oleh keluarga intinya saja namun Akad nikahnya berjalan begitu hikmad.


Sedangkan Damara mengucap ijab khabul hanya dalam satu tarikan nafas saja.


Hingga akad nikah selesai Jelita terus memasang senyum yang entah dia sendiri yang mengetahui apa arti senyumnya itu.


Jelita dan Damara pun saling bertukar cincin.


Damara mencium kening Jelita sedang Jelita sendiri mencium tangan laki-laki yang sudah menjadi resmi suaminya di mata hukum dan Agama itu.


Setelah di rasa selesai Jelita pun pamit untuk bersiap-siap karena dia di harus kan ikut malam ini juga bersama suaminya itu.


"Kemana perginya gadis itu? Oh ya Ampun aku kehilangan jejaknya." Keluh Dokter Arya yang juga hadir karena kebetulan dia sedang tidak sibuk.

__ADS_1


"Hai...apa yang kau lakukan di sini apa kau ingin mengintip ya!" Seru Darandra mengejut kan sahabatnya itu.


"Hah, kau ini ada-ada saja. mana mungkin aku sebejat itu kamu kira aku penjahat kelamin apa?" kesal Dokter Arya pada rekannya tersebut.


"Kau tahu Aku melihatnya tadi di sini dia berdiri begitu cantik dan mempesona." Ujar Dokter Arya bercerita sambil tersenyum sendiri sambil membayangkan gadis pujaan hatinya yang dia lihat hanya sekilas. Sedangkan Darandra hanya menggidikkan kedua bahunya ngeri melihat temannya itu senyum-senyum sendiri.


"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan nya di sini. Apa kau tahu gadis itu yang pernah aku ceritakan padamu. Eh bantu aku untuk mencarinya karena kau Aku jadi kehilangan jejaknya!" serunya menepuk punggung Darandra.


"Aku tidak mau. Kamu cari saja sendiri karena aku pun tidak mengenalnya dan yang terpenting sekarang aku mau kencan!" ucap Darandra lalu beranjak pergi.


"Hei...kau...yang kau kencani, dia itu adikku!" Dokter teriak Arya.


"Aku tahu tapi aku kekasihnya!" balas Darandra melambaikan tangan tanpa berbalik.


"Dasar sial kemana perginya ya padahal aku hanya ingin minta maaf atas kesalahan ku tempo hari!" Dokter Arya pun memilih keluar dari pada lama-lama di dalam.


"Sudahlah mungkin dia bukan jodohku kali ya!" fikir nya sambil melenggang pergi.


*


"Hmmhaaah..."


Jelita menarik nafas panjang lalu menghempaskannya kekuar secara kasar mengagambarkan beban yang akan di hadapi kedepannya. Membayangkannya saja ia sudah stress apalagi menjalaninya dia benar-benar harus kuat seperti baja.


"Kau harus kuat Je, jika tak ingin di taklukkan sama mahluk aneh itu!" gerutunya sambil menguatkan dirinya sendiri.


Ceklek!


Bruug!"


Suara pintu di buka dan di tutup membuat Jelita terlonjak kaget.


"Siapaa...? kau! Devani ada ap_"

__ADS_1


"Ussst...!" Devani memberi isyarat agar Jelita diam. Perlahan Devani pun mendekat.


"Maaf Kak aku mengagetkanmu tapi izinkan aku untuk bersembunyi di sini dari laki-laki itu!" Pintanya menangkup kedua tangannya di depan dada.


Jelita hanya mengerutkan alisnya binggung namun se saat kemudian dia mengangguk setuju.


"Terima kasih Kak!" cicit Devani memeluk Jelita.


"Sudah-sudah kakak tidak bisa gerak nih!" seru Jelita membuat Devani sadar dan mengurai pelukkannya.


Jelita menatap intens wajah Devani yang memang terlihat sedikit tegang.


"Katakan padaku kamu bersembunyi dari lelaki yang mana. Biar aku menghajarnya!" ketus Jelita sambil menyentuh pundak Devani.


Namun Devani dengan cepat menggelengkan kepalanya biar bagaimanapun ia tidak mau Jelita terlibat dan menghajar orang apa lagi Jelita kini bukan lagi Jelita yang dulu. Jelita kini sudah resmi menjadi seorang istri.


Jelita hanya mengerenyitkan alisnya bingung.


"Jangan Kak, aku tidak mau nanti bisa-bisa dia masuk rumah sakit. Lalu Kakak akan di tuntut untuk Menikahi kakaknya lagi apa kakak mau punya dua suami?" Ucap Devani tanpa sadar.


"Apa maksudmu aku di tuntut untuk menikahi kakaknya. Apa karena aku mencelakai adiknya? jadi maksudnya Damara menikahi ku karena aku mencelakai adiknya?" tanya Jelita serius.


"I_iya Kak bukankah malam itu Kakak mengalami kecelakaan dan adik Kak Damara jadi korban bahkan dia koma dan lumpuh Kak. Apa Kakak melupakan semua itu?"


"Aku benar-benar tidak ingat kejadian itu tapi akan ku usahakan untuk mengingat dan bertanya padanya nanti. Terima kasih juga atas informasi mu." Ujarnya menepuk bahu Davina. Sedang Davina sendiri masih dalam kebingungannya .


"Sekarang Aku mau keluar mungkin orang yang menyebalkan itu sudah lama menungguku kalau kau masih ingin terus bersembunyi maka kau boleh tinggal bahkan kau boleh tidur di kamarku!" Tutur Jelita sekali lagi lalu ia pun segera Turun kebawah untuk pamit.


"Sayang apa kau sudah siap untuk pergi?" Tanya Anggun saat melihat sang putri turun dan menenteng Koper yang berisi semua pakainnya.


"Iya Bun, Aku penat ingin cepat istirahat." ucapnya menjawab pertanyaan sang Bunda "Oh Ya Bun yang lainnya kemana Bun? tanya Jelita.


"Ada kok mereka semua ada di dalam, ayo kita temui mereka dulu sebelum kamu pergi."

__ADS_1


Ajak Anggun pada sang Putri.


__ADS_2