Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Satu tamparan


__ADS_3

Pagi.


''Uwek-uwek. Kenapa kepalaku pusing sekali?'' Exel yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya merasakan mual dan pusing yang begitu hebat.


''Apa Tuan sudah bangun?'' tanya Dara yang baru saja masuk sambil menenteng baki di tangannya.


''Kau sedang apa kau di kamarku keluarlah!"


Deg.


"kenapa sikapnya berubah lagi?"


gumam Dara dalam hati.


''Kenapa kau masih diam di situ keluarlah! aku muak melihatmu!"


"Tapi Tuan Anda sedang tidak baik-baik saja. mana mungkin aku meninggalkan Anda'' cicit Dara sambil mendekati Exel.


Plak.


prang...!!! Satu tamparan di pipi membuat barang bawaan Dara jatuh dan pecahan gelas pun berserakan.


''Dengarkan aku wanita bodoh! ini semua karena dirimu kau yang menghilangkannya'' geram Exel mengegengam pergelangan tangan Dara dengan kuat lalu meng hempas kannya.


membuat Dara tersungkur kelantai dan tangannya pun menyentuh pecahan gelas yang berserakan. Exel pun terkejut namun ia tetap menguatkan hati untuk tidak memperdulikan istrinya.


''Ada apa Non?'' cicit Bik Nany datang tergopoh-gopoh.


''Non, Non Dara ya Allah kenapa lagi ini Den, kasian Non, Dara!'' seru Bi Nany.


''Bawa dia keluar dari kamarku Bik!'' ucapnya dengan kalimat perintah.

__ADS_1


''Tapi Den--!''


''Apa Bibik juga mau melawan perintahku sekarang hanya karena wanita bodoh ini!'' tegas Exel menyela kalimat Bik Nany membuat Dara terkejut. atas sikap suaminya itu, sedang Bik Nany hanya bisa mengikuti ucapan Tuannya, sambil menunuduk sedih, karena seumur-umur ia dengan Exel ini kali pertama ia di bentak.


''Ayo Non kita keluar!'' cicit Bik Nany memapah Dara.


''Saya hanya ingin mengatakan kalau ini bukan kamar Anda Tuan Exel." Bik Nany berucap sambil melangkah pergi.


Deg.


Exel celingak celinguk melihat sekitarnya ada rasa malu dan menyesal dia telah menuduh Dara dan mengusirnya, namun masih karena gengsi ia harus tetap bersikap tak perduli,padahal di lubuk hatinya paling dalam sebenarnya sudah tumbuh sebuah rasa, namun tetap saja ia berusaha mengindahkan- nya, ia terus memupuk rasa itu dengan kebencian dan dendamnya, karena ia tak ingin terjebak dalam sebuah hubungan akan mengikat dan melemah kannya ya itu cinta. karena cinta pasti akan menghilangkan dendamnya.


Hanya satu yang ingin ia temui Bik Nany karena ia sudah membentak orang yang sangat menyayanginya sejak balita.


*


*


*


Drt drt drt...


getaran dan nada panggil dari gawainya yang begitu nyaring membuat Reno, terganggung ia berusaha mencari di mana posisi benda pipihnya itu.


Sedang matanya masih tertutup rapat namun tangannya menyentuh sesuatu yang kenyal Reno yang penasaran perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui, benda kenyal itu adalah wajah seorang wanita dan yang lebih mengejutkan- nya wanita itu adalah Jenyfer, wanita yang selalu, berusaha mengoda Tuannya.


Dan yang selalu kesal padanya, Reno membulatkan matanya, hampir saja ia berteriak untung ia bisa mengendalikan diri,walau semalam ia dalam pengaruh alcohol.namun dia ingat dengan jelas rasa yang membuatnya kenikmatan itu.


Perlahan ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan Jenyfer dan ia melihat begitu banyaknya bercak darah yang berceceran di tempat tidur.


"Jadi Jenyfer benar-benar masih perawan?" gumamnya pelan sambil membulatkan matanya itu. ia pun tersenyum menatap wajah cantik yang tertidur dengan nyenyak di depannya.

__ADS_1


"Aku berjanji akan bertanggung jawab untuk semuanya" ucapnya sambil mengecup pucuk kepala milik Jenyfer.


Drt drt drt...Kembali gawainya berdering "Tuan!" gumamnya lalu menekan tombol hijau.


"Kamu di mana? apa kamu tidak lihat ini sudah jam berapa? apa kamu mau gaji satu bulanmu di potong!" cerca Exel dari seberang.


"Maafkan saya Tuan saya akan segera datang!" ucapnya lalu bergegas untuk memungut bajunya yang ntah sudah berserakan kemana mana, namun tak lupa ia menuliskan sesuatu di atas kertas, lalu ia pun segera keluar dari kamar tersebut.


Setelah 30 menit Reno pergi Jenyfer pun terbangun dan tak berbeda jauh dengan Reno ia pun berteriak menyasikan dirinya yang sudah sangat polos dan banyak bercak merah di tubuhnya, apa lagi sekarang bagian intinya sangat sakit. yang dia ingat dia melakukan semuanya dengan suka cita bersama Exel


"Aku harus bagai mana ini' apa yang harus aku lakukan' bagai mana kalau Tuan Exel tidak mau bertanggung jawab?'' Jenyfer benar-benar menyesali kesalahannya, ia memang mencintai Exel namun tak seharus nya ia semurahan ini, tapi apa mau di kata kini semuanya sudah terjadi, bahkan Exel meninggalkannya begitu saja tanpa belas kasihan.


Namun saat melihat ke atas nakas ia melihat secarik kertas yang terlipat rapi ia pun menyambar lalu membukanya,


" Maaf kan aku, aku tidak membangunkan mu karena aku tau kau pasti masih lelah karena semalam, aku minta maaf karena melakukannya dalam keadaan mabuk padamu tapi kamu jangan khawatir aku akan bertanggung jawab aku berjanji sama kamu untuk itu aku mau kamu berhenti bekerja di tempat itu! masalah uang aku akan memberinya untukmu aku mau ke kantor jaga dirimu baik-baik ya kalau kau mau mencariku cari aku di jln xxxx!''


senyum Jenyfer langsung melebar, begitu selesai membaca suratnya.


''Ternyata Tuan Exel orang yang sangat bertanggung jawab'' ucapanya pada diri sendiri, sambil mencium kertas surat itu ia pun bangkit untuk seger membersihkan diri namun saat melangkahkan kakinya keluar kamar ia seperti menginjak sesuatu.


''liontin?'' lirihnya dan meraih liontin berbentuk hati itu, ''Nan siapa itu Nan?'' lirihnya


''Liontin ini sangat cantik ini pasti mahal karena ini barang mewah dan langka cicitnya lagi.


''Mungkin ini rezekiku aku akan memakainya'' gumamnya lagi lalu memasang liontin itu di lehernya.


*


Sedang Dara membongkar semua pakaian miliknya yang ada di lemari "Aku merasa aku selalu memakainya tapi di mana Liontin itu? aku takut Exel akan marah kalau tau aku menemukan kalung itu, dan aku juga yang menghilang kannya"


Dara terus merutuki kebodohan dan ke teledorannya selama ini yang tak pernah mau jujur atas perhiasannya itu pada Exel.

__ADS_1


"Tuan Exel maafkan aku atas semuanya.'' lirihnya hanya dalam hati.


''Kemana aku harus mencarinya ya Allah. Kenapa semua jadi begini? Bunda maafkan Dara kalau tak jujur jika liontin' itu sudah aku temukan, dan bahkan aku sempat memakainya, aku tidak mau melihat Bunda sedih dan selalu berharap Kak Kenan, masih hidup jika aku memperlihatkannya Liontin' itu untuk itu aku tidak pernah cerita ke Bunda tentang Liontin itu.'' monolognya dalam hati.


__ADS_2